Isu MSCI hingga Mundurnya Dirut BEI, Simak Rekomendasi Saham BBCA
Di tengah isu yang sempat menekan hebat termasuk sentimen dari MSCI hingga mundurnya Dirut BEI Iman Rachman, Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan performa lumayan.
Pada penutupan perdagangan sesi I Jumat (30/1/2026) BBCA menguat 3,47 persen di posisi RP 7.450.
Sementara kemarin BBCA ditutup menguat 2,49 persen ke Rp 7.200 setelah sempat terpuruk ke level terendah di Rp 6.375 per saham. Dengan demikian rebound saham BBCA dari level terendah intraday ke posisi penutupan perdagangan mencapai 12,9 persen.
Kenaikan harga saham BBCA juga ditopang dengan nilai transaksi di saham ini yang mencapai Rp 9,8 triliun.
Baca juga: Terancam Turun Kelas Setara Bangladesh, Status Pasar Saham RI Ditentukan MSCI
Kenaikan saham BBCA kemarin juga mendorong perbaikan kinerja IHSG, mengingat bobotnya terhadap indeks yang tergolong besar. Setelah sempat anjlok 10 persen, IHSG perlahan rebound dan menyisakan koreksi harian 1,06 persen pada akhir perdagangan.
Sebagai informasi pada dua hari terakhir pasar saham Indonesia diterpa tekanan jual dan koreksi tajam. Hal ini merespons sikap MSCI yang mempertanyakan soal transparansi free float saham-saham di Indonesia.
Namun menyusul sikap OJK yang berencana menetapkan kebijakan free float 15 persen, berkoordinasi dengan bursa dan SRO lain, serta berkomunikasi MSCI, pasar mulai bereaksi positif.
Di sisi lain, katalis positif untuk saham BBCA juga ditandai dengan rencana untuk melalukan pembelian kembali alias buyback saham. Emiten perbankan swasta tersebut menyiapkan dana sebesar Rp 5 triliun.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, periode buyback saham BBCA akan dilaksanakan selama 12 bulan sejak disetujuinya rencana ini oleh Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). RUPST rencananya akan dilaksanakan 12 Maret mendatang.
"Kecuali diakhiri lebih cepat oleh Perseroan dengan memperhatikan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku," ujarnya dalam keterangan tertulis.
BCA juga memastikan bahwa pihaknya akan tetap menjaga porsi saham publik atau tetap sesuai ketentuan. Buyback juga dinilai tidak akan memiliki dampak material ke bisnis BCA.
Sebagai informasi, jumlah saham BBCA yang dipegang oleh publik mencapai 52,17 miliar atau setara dengan 42,3 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa BBCA telah memenuhi ketentuan free float
Katalis lain juga datang dari kinerja sepanjang tahun 2025. BCA melaporkan laba bersih sebesar Rp 57,5 triliun dan masih tumbuh hampir 5 persen year on year (yoy) di tengah kondisi perbankan yang bergejolak.
Rekomendasi BBCA
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, menilai pelemahan saham perbankan saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor psikologis pasar, meskipun dinamika eksternal turut memberikan tekanan.
Menurutnya, prospek fundamental sektor perbankan masih tetap menjadi penopang utama.
“Kalau menurut saya, kinerja saham perbankan ini lebih melihat ke prospek fundamentalnya. Memang ada dinamika sentimen dan faktor psikologis pasar, tapi secara fundamental bank-bank besar masih solid,” ujar Nafan kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026).
Ia menjelaskan, ketika saham perbankan mulai mencapai fase bottoming, banyak investor memanfaatkan kondisi tersebut dengan strategi buy on bid, terutama saat valuasi sudah terdiskon cukup dalam dan berada di bawah nilai intrinsiknya.
“Ketika banking sudah bottoming, disitu para pelaku investor atau pelaku pasar memanfaatkan strategi buy on bid. Apalagi kalau secara valuasi sudah sangat terdiskon, bahkan juga kalau secara selain terdiskon harganya jauh di bawah value,” kata Nafan.
Buy on bid adalah strategi membeli saham dengan memasang antrean beli (order bid) pada harga yang lebih rendah daripada harga pasar saat ini atau harga penawaran terendah penjual (ask price).
“Apalagi juga di bid dan deal case semakin menarik kalau misalnya jika bagi investor yang beroperasi kepada value investing walaupun juga di bid and hunter seperti itu,” lanjut dia.
Nafan menambahkan, ke depan sektor perbankan berpotensi mendapatkan dukungan dari kebijakan suku bunga yang lebih kondusif, yang dapat mendorong pertumbuhan kredit sekaligus meningkatkan likuiditas.
Penurunan biaya dana (cost of fund) juga dinilai akan berdampak positif terhadap kinerja perbankan.
Di tengah dinamika pasar, pagi ini Jumat (30/1/2026) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menyatakan secara resmi pengunduran dirinya.
Keputusan ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral dan profesional atas dinamika ekstrem yang terjadi di pasar modal Indonesia.
Langkah tersebut langsung menjadi perhatian pelaku pasar dan investor.
“Pergantian pimpinan atau dinamika di pasar tidak serta-merta mengubah fundamental bank besar, seperti laba dan return on equity (ROE). Secara intrinsik nilainya tidak berubah, hanya saja pergerakan harga memang dipengaruhi psikologi pasar,” ujarnya.
Ia mengakui bahwa volatilitas pasar menuntut investor untuk memiliki manajemen risiko yang baik.
Namun, dengan partisipasi investor yang kuat dan likuiditas yang tinggi, khususnya pada saham-saham big caps perbankan, pergerakan harga dinilai tetap mencerminkan mekanisme permintaan dan penawaran yang sehat.
“Selama likuiditas terjaga dan partisipasi investor tinggi, harga saham mencerminkan demand dan supply yang riil. Itu yang membuat sektor perbankan big caps masih menarik untuk dicermati,” ucap Nafan.
Sementara itu Riset BRIDanareksa Sekuritas terbaru yang ditulis oleh Victor Stefano, menyoroti laba bersih BBCA yang sedikit lebih tinggi dari perkiraan mereka, tetapi in-line dengan konsensus.
BRIDanareksa juga menilai bahwa di tengah arus deras dana asing yang keluar, potensi penurunan valuasi saham BBCA relatif rendah mengingat secara price to book value (PBV) bank ini sudah turun ke dua standard devisasi rata-rata valuasi historisnya.
Hal ini juga diperkuat dengan riset IndoPremier Sekuritas yang menyebut bahwa valuasi BBCA menarik di bawah rata-rata 10 tahun di tengah perbaikan kualitas aset. Riset tersebut menyoroti bahwa rasio Loan at Risk (LaR) BBCA berhasil turun menjadi 4,8 persen dan NPL 1,7 persen di kuartal IV-2025.
Kedua broker tersebut sepakat menyematkan rekomendasi beli pada saham BBCA, meski dengan target harga berbeda. BRIDanareksa menetapkan target harga BBCA di Rp 11.400 per saham dan dinaikkan dari target harga sebelumnya di Rp 10.800 per saham. Sementara IndoPremier Sekuritas menetapkan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga di Rp 10.600.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #msci #hingga #mundurnya #dirut #simak #rekomendasi #saham #bbca