Dari EV ke PLTS, Konsorsium Huayou Perluas Peran Industri Baterai Nasional
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (kiri) menyaksikan penandatanganan kerangka kerja sama (Framework Agreement) oleh Direktur Utama Antam Untung Budiharto, Direktur Utama IBI Aditya Farhan Arif, dan Director HYD Investment Limited Liu Jinzheng di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (30/1/2026).(ANTARA/Putu Indah Savitri)
08:52
31 Januari 2026

Dari EV ke PLTS, Konsorsium Huayou Perluas Peran Industri Baterai Nasional

PT Aneka Tambang Tbk atau Antam, PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC), bersama Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. menegaskan komitmen mempercepat pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia. Komitmen itu ditandai dengan penandatanganan kesepakatan kerangka kerja sama.

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, kerja sama tersebut akan terus dilanjutkan. IBC, menurut dia, memikul mandat hilirisasi industri baterai nasional.

“Kami akan terus melanjutkan itu karena IBC memang mengemban misi untuk hilirisasi ke arah baterai,” ujar Aditya setelah penandatanganan konsorsium Antam–IBI–HYD di Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Baca juga: Bos Danantara Ungkap Hasil Pertemuan dengan CEO Huayou Soal Proyek Baterai EV

Aditya menilai kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri baterai terintegrasi global. Peran Indonesia tidak berhenti sebagai pemasok bahan mentah.

“IBC dibentuk untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi menjadi pusat industri baterai terintegrasi yang berdaya saing global dan berkelanjutan. Kolaborasi ini mencerminkan komitmen kuat seluruh pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem industri nasional bernilai tambah tinggi,” ujar Aditya.

Peran hulu dipegang Antam sebagai penyedia bahan baku strategis. Antam menekankan pengelolaan sumber daya dilakukan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Direktur Utama Antam Untung Budiharto menyebut kerja sama ini sejalan dengan mandat perusahaan untuk memperkuat hilirisasi mineral nasional.

“Melalui sinergi dengan IBC dan mitra global seperti Huayou, kami berkomitmen mendukung pengembangan ekosistem baterai terintegrasi yang berkelanjutan, berdaya saing, dan sejalan dengan kepentingan strategis nasional,” ujar Untung.

IBC menjalankan peran sebagai penghubung antara industri domestik dan mitra global. Peran itu mencakup penguasaan teknologi hingga tata kelola proyek. Kolaborasi tersebut juga membuka ruang alih teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional.

Rencana ekosistem baterai terintegrasi meliputi pengembangan fasilitas produksi baterai. Rincian proyek akan dibahas lebih lanjut melalui studi kelayakan. Kapasitas yang disasar mencapai 20 gigawatt hour. Nilai investasi diperkirakan berada di kisaran 5 sampai 6 miliar dollar AS.

Baca juga: Bos Huayou Datangi Indonesia, Mau Bahas Realisasi Investasi Baterai EV

Proyek ini diproyeksikan menyerap ribuan tenaga kerja. Struktur industri nasional diharapkan semakin kuat. Kontribusi ekonomi juga diharapkan meningkat seiring agenda transisi energi.

Kesepakatan kerangka kerja sama menjadi dasar penyusunan studi kelayakan bersama. Perjanjian definitif akan disusun dan dijalankan secara bertahap. Antam, IBC, dan Huayou menyatakan komitmen menjalankan seluruh tahapan proyek sesuai prinsip tata kelola yang baik, keberlanjutan, serta kepentingan strategis nasional.

Tag:  #dari #plts #konsorsium #huayou #perluas #peran #industri #baterai #nasional

KOMENTAR