Harga Emas Turun Setelah Reli Panjang, Analis Ungkap Penyebabnya
Harga emas turun pada perdagangan Jumat (31/1/2026) setelah sempat melesat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan ini terjadi seiring kondisi harga emas yang mulai memasuki fase jenuh beli atau overbought.
Berdasarkan data di laman resmi Logam Mulia Antam, harga emas Antam hari ini tercatat Rp 2.860.000 per gram, turun Rp 260.000 dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang masih berada di level Rp 3.120.000 per gram.
Penurunan tersebut terlihat sejak pagi hari. Pada pembukaan pukul 06.00 WIB, emas Antam hari ini masih bertahan di Rp 3.120.000 per gram, sebelum akhirnya melemah dan bergerak turun per pukul 08.30 WIB.
Baca juga: Update Harga Emas Antam Hari Ini 31 Januari 2026: Anjlok Rp 260.000 Jadi Rp 2,860 Juta per Gram
Harga emas dunia ikut terkoreksi
Di pasar internasional, harga emas dunia hari ini juga menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Harga emas spot tercatat masih menguat 75,13 persen secara tahunan menjadi US$ 4.894,23 per ons troi. Namun secara harian, harga emas justru melemah 8,98 persen.
Sebelumnya, pada Kamis (29/1/2026) pagi, emas dunia sempat mencetak rekor dengan pergerakan mendekati US$ 5.600 per ons troi, sebelum akhirnya ditutup di level US$ 5.375,24 per ons troi.
Kondisi ini membuat grafik emas hari ini terlihat volatil, mencerminkan tekanan ambil untung setelah reli panjang.
Baca juga: Tips Buyback Emas: Cara Jual Emas Harga Terbaik dan Untung Maksimal
Emas dinilai mulai jenuh beli
Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky menilai penurunan harga emas saat ini tak lepas dari kondisi pasar yang mulai berada di area jenuh beli.
“Harga emas ini sudah berada di level jenuh overbought. Namun di sisi lain, bank sentral masih terus melakukan pembelian,” ujar Yanuar kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: ORI029 Bisa Jadi Passive Income, Ini Besaran Kupon dan Cara Belinya
Ia menjelaskan, dari sisi pasar derivatif, mulai muncul sinyal short pada kontrak berjangka emas, terutama dari ETF berbasis emas yang dikelola oleh hedge fund.
Sinyal tersebut menunjukkan adanya aksi ambil untung setelah lonjakan harga yang agresif.
Namun, kondisi tersebut berlawanan dengan langkah bank sentral global yang justru terus meningkatkan cadangan emas sebagai strategi lindung nilai di tengah meningkatnya risiko gagal bayar surat utang global.
Baca juga: Catat Jadwal SBN 2026: ORI, SR, ST, SBR hingga SWR, Ini Rinciannya
Faktor short covering dorong volatilitas
Yanuar juga menyoroti dinamika di pasar future emas yang ikut mempercepat pergerakan harga dalam waktu singkat.
Menurutnya, posisi jual kosong (short) di bursa berjangka merespons lonjakan permintaan beli di luar bank sentral, sementara pasokan emas fisik relatif terbatas.
“Kenaikan bulan ini yang tajam akibat transaksi short ditutup karena tidak tersedia fisik, ini berakibat naiknya harga emas future karena menutup short dengan buy di harga marjin,” paparnya.
Baca juga: Prediksi Harga Emas 2030: Ekonom Sebut Bisa Tembus Rp 5 Juta per Gram
Aksi short covering yang masif inilah yang membuat harga emas di pasar berjangka sempat naik lebih cepat, sebelum akhirnya terkoreksi seperti yang terlihat pada update harga emas hari ini.
Meski demikian, Yanuar menilai prospek emas masih cukup solid dalam jangka menengah.
“Volatilitas bisa meningkat karena posisi ETF. Tapi secara struktural, harga emas masih akan bertahan tinggi karena bank sentral tetap menjadi penopang utama permintaan,” pungkasnya.
Baca juga: Cara Cek Desil Bansos Lewat HP 2026, Ini Panduan Resmi dari Kemensos
Tag: #harga #emas #turun #setelah #reli #panjang #analis #ungkap #penyebabnya