Akses Air Bersih di Aceh, Peran Hulu Migas Saat Krisis Bencana
Instalasi pengolahan air bersih dipasang di desa terdampak banjir di Aceh, Januari 2026.(DOK. MEDCO FOUNDATION)
20:52
22 Januari 2026

Akses Air Bersih di Aceh, Peran Hulu Migas Saat Krisis Bencana

– Pemulihan pascabencana di Aceh tidak hanya menuntut kecepatan bantuan, tetapi juga keberlanjutan akses kebutuhan dasar. Salah satu kebutuhan paling krusial adalah air bersih, terutama di wilayah yang infrastruktur airnya rusak akibat banjir.

Dalam konteks tersebut, kehadiran fasilitas pengolahan air bersih berteknologi ultrafiltrasi menjadi bagian penting dari upaya pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak. Akses air bersih berpengaruh langsung terhadap kesehatan, produktivitas, serta kemampuan warga untuk kembali menjalani aktivitas harian.

Medco Foundation bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) serta Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) migas menyalurkan instalasi pengolahan air bersih di tiga desa terdampak parah banjir di Aceh. Fasilitas tersebut mampu memproduksi hingga 25.000 liter air bersih per hari dan melayani lebih dari 3.000 pengungsi di lokasi yang sulit dijangkau.

Air Bersih sebagai Fondasi Pemulihan

Pemasangan instalasi dilakukan pada 12–17 Januari 2026 dan mencakup pelatihan pengoperasian teknologi kepada warga desa. Pendekatan ini ditujukan agar fasilitas tidak hanya berfungsi saat masa darurat, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam jangka menengah.

Di Desa Pante Labu, Aceh Timur, sumber air dari bendungan yang runtuh diolah kembali menjadi air bersih untuk kebutuhan pengungsi. Sementara itu, di Desa Lhok Kuyun, Aceh Utara, air sungai yang sebelumnya keruh dialirkan ke rumah-rumah warga melalui jaringan Pamsimas setelah dilakukan pembersihan.

Adapun di Desa Pante Baro Buket Panyang, Kabupaten Bireuen, air sumur bor darurat yang berbau dan berwarna berhasil diolah menjadi air layak konsumsi. Keberadaan instalasi tersebut mengurangi ketergantungan warga terhadap pasokan air dari luar desa.

“Air bersih ini sangat vital. Kami berkolaborasi dengan SKK Migas dan KKKS untuk memastikan bantuan kemanusiaan bisa memenuhi kebutuhan paling mendasar korban bencana,” ujar Head of Program Medco Foundation Rendra Permana dalam keterangan tertulis, Kamis (22/1/2026).

Menurut Rendra, ke depan instalasi pengolahan air bersih tersebut akan dikelola secara mandiri oleh warga dengan dukungan pemerintah daerah setempat, sehingga manfaatnya dapat berkelanjutan.

Peran KKKS dalam Fase Transisi

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Heru Setyadi menyampaikan bahwa pihaknya mengoordinasikan partisipasi sejumlah KKKS yang beroperasi di Sumatera Bagian Utara agar bantuan yang disalurkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

“Fokus kami tidak hanya pada masa tanggap darurat, tetapi juga pada fase transisi menuju pemulihan. Air bersih menjadi kebutuhan utama agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan,” kata Heru.

Sebelumnya, pada akhir Desember 2025, Medco Foundation bersama SKK Migas dan KKKS juga menyalurkan bantuan kemanusiaan lain bagi korban bencana di Sumatera. Bantuan tersebut meliputi bahan pangan, sandang, perlengkapan ibadah, peralatan dapur, serta jeriken.

Total nilai bantuan yang telah disalurkan mencapai Rp 1,7 miliar. Dukungan tersebut menjadi bagian dari kontribusi sektor hulu migas dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat di wilayah terdampak bencana, terutama pada tahap awal pemulihan ekonomi lokal.

Tag:  #akses #bersih #aceh #peran #hulu #migas #saat #krisis #bencana

KOMENTAR