Pentingnya Orangtua Beri Batasan Sehat untuk Anak
- Konflik keluarga Beckham yang mencuat ke ruang publik membuat banyak orang bertanya-tanya: bagaimana hubungan yang terlihat dekat bisa berubah menjadi jarak yang begitu lebar sampai memutus hubungan?
Diketahui, Brooklyn memutus hubungan dengan keluarganya, termasuk David dan Victoria, karena konflik berkepanjangan sejak ia menikahi kekasihnya, Nicola Peltz, pada tahun 2022.
Ada yang menganggap, renggangnya hubungan keluarga ini terjadi karena David dan Victoria “terlalu melekat” dengan anak pertama mereka, berdasarkan ungkapan Brooklyn di Instagram bahwa orangtuanya mengontrol kehidupannya sejak kecil.
“Sebenarnya, yang menjadi isu ini terlalu dekatnya kalau sampai tidak ada ruang bergerak. Semua hal harus sama pokoknya, pandangan hidup harus sama dengan orangtua,” ucap psikiater dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ, MSc, saat diwawancarai secara daring pada Kami (29/1/2026).
Baca juga: Apakah Luka Batin akibat Pola Asuh Otoriter Bisa Menurun ke Anak?
Banyak orangtua menganggap, semakin dekat hubungan dengan anak, semakin kecil pula kemungkinan anak menjauh.
Soal urusan gaya busana, Brooklyn lebih mendengarkan nasihat David Beckham.
Padahal, kedekatan yang tidak disertai batasan justru bisa membuat anak merasa kehilangan ruang pribadi. Apalagi jika semua-muanya harus selaras antara orangtua dan anak.
“Enggak boleh beda pendapat itu kedekatan yang enggak sehat. Anak yang tumbuh dalam dinamika kayak begitu, rasanya kayak enggak bisa napas,” ungkap dr. Leonita.
Alhasil, ketika beranjak dewasa, anak baru bisa “bernapas lega” ketika sudah berjarak dengan orangtuanya. Terutama ketika sudah mampu secara fisik dan finansial, anak bakal semakin membutuhkan jarak itu.
Baca juga: Seperti Brooklyn Beckham, Ini Alasan Anak Putus Hubungan dengan Orangtua
Menurut dr. Leonita, penting untuk membedakan antara kedekatan emosional yang sehat dan kedekatan yang membuat anak seolah menjadi perpanjangan orangtua.
“Kedekatan yang tetap memberi batasan, ada jarak, anak boleh punya pendapat yang berbeda, itu adalah kedekatan emosional yang sehat,” ujar dia.
Kedekatan yang sifatnya anak menjadi perpanjangan orangtua, justru bisa memicu adanya jarak ketika anak dewasa,” sambung dr. Leonita.
Dalam konteks yang lebih luas, pola seperti ini membantu menjelaskan mengapa sebagian orang dewasa memilih menjaga jarak ekstrem setelah menikah.
Saat akhirnya memiliki otonomi penuh, jarak menjadi cara untuk “bernapas”, setelah lama merasa terikat secara psikologis.
Baca juga: Nicola Peltz Beckham, Sosok Istri Brooklyn Beckham yang Jadi Sorotan
Brooklyn dan David Beckham. Pola kelekatan emosional kerap memengaruhi relasi keluarga dewasa, termasuk pada kasus Brooklyn Beckham yang memilih menjaga jarak dari orangtuanya.
Tipe gaya pengasuhan
Orangtua otoriter
Psikolog dari Indopsycare, Clement Eko Prasetio, M.Psi. Psikolog, menambahkan bahwa gaya pengasuhan otoriter juga bisa membuat anak menjauh ketika beranjak dewasa.
“Itu kan gaya parenting yang harus nurut kata orangtua. Orang yang otoriter itu sangat-sangat mengekang anaknya,” tutur dia saat dihubungi pada Kamis.
Menurut Clement, gaya pengasuhan otoriter hanya dirasakan oleh anak, lantaran orangtua merasa bahwa gaya pengasuhannya tidak mengekang sang buah hati.
Baca juga: Cegah Child Grooming dari Rumah, Kedekatan Orangtua dan Anak Jadi Benteng Utama
Seiring bertambahnya usia dan paparan nilai-nilai baru di luar keluarga, anak bisa mulai mengevaluasi ulang masa kecilnya.
“Ketika nilai-nilai baru itu tumbuh, anak jadi mengetahui bahwa selama ini dirinya terkekang, dan dia merasa harus segera ‘lepas’ dari orangtua, dan malah jadi beneran ‘lepas’ banget. Enggak mau kenal sama orangtua, misalnya, karena merasa selama ini terkekang,” terang Clement.
Orangtua terlalu memanjakan anak
Ternyata, terlalu memanjakan anak juga bisa membuat mereka menjaga jarak saat dewasa. Lagi-lagi, ini berkaitan dengan nilai-nilai yang anak peroleh di luar keluarga.
Anak bisa merasa bahwa dirinya tidak siap menghadapi dunia nyata lantaran dibesarkan dengan dimanjakan, sehingga banyak hal yang tidak bisa dilakukan sendiri.
“Pas dewasa, dia seolah tertampar realita, ‘aku tuh hidupnya harus bisa sendiri’. Saat itu, kalau ada nilai-nilai yang berbeda banget, dia langsung bisa saja menyalahkan orang tuanya, ‘saya jadinya susah untuk hidup mandiri’,” ujar Clement.
Baca juga: Kunci Anak Tangguh Saat Kuliah di Perantauan, Latihan Mandiri Sejak Kecil
Butuh ruang dan identitas sendiri
Clement menekankan, gaya pengasuhan yang sangat intens seperti otoriter dan terlalu memanjakan, bisa berdampak buruk terhadap anak, dan pada akhirnya terhadap relasi orangtua dan anak.
Menurut dia, dekat dengan anak boleh saja, asal dibarengi dengan diskusi yang hangat. Sebab, anak di usia berapapun, perlu ruang diskusi yang terbuka.
“Jadinya anak merasa, ‘oh saya dekat dengan orangtua, tapi saya pun masih punya ruang untuk bertumbuh sebagai orang’,” tutur Clement.
“Mau bagaimanapun juga, anak di budaya manapun, dia tetap punya kebutuhan untuk memiliki identitas sendiri,” lanjut dia.
Baca juga: Wajib Tahu, Ini Fondasi Perkembangan Emosi Anak
Tag: #pentingnya #orangtua #beri #batasan #sehat #untuk #anak