Berawal dari ‘Hukuman’, Dua Bersaudara Ini Menemukan Panggung Dunia Lewat Olimpiade
Alih-alih menyita gawai, orangtua ini memilih mengalihkan minat anak. Pendekatan yang didukung pakar ini justru menumbuhkan disiplin dan prestasi.(dokumentasi resmi Marvel Rasendria Herdian )
15:20
31 Januari 2026

Berawal dari ‘Hukuman’, Dua Bersaudara Ini Menemukan Panggung Dunia Lewat Olimpiade

Cerita tentang prestasi anak sering dimulai dari mimpi besar atau target juara.

Namun, perjalanan Marvel Rasendria Herdian justru berawal dari hal yang sangat dekat dengan keseharian banyak keluarga: anak yang lebih suka menonton dan bermain gim ketimbang mengerjakan tugas sekolah.

Saat itu, Marvel masih duduk di kelas 2 SD. Alih-alih menyita gawai atau memberi larangan keras, orangtuanya memilih pendekatan yang berbeda.

Marvel diajak mencoba mengikuti olimpiade, bukan sebagai tuntutan prestasi, melainkan sebagai cara menyalurkan rasa ingin tahu dan energinya ke tantangan yang lebih terarah.

Pendekatan inilah yang kemudian disebut sebagai “hukuman positif”.

Tanpa ekspektasi apa pun, Marvel mengikuti Asia International Mathematical Olympiad (AIMO).

Ia mengerjakan soal, belajar dari proses, dan menjalani kompetisi seperti pengalaman baru.

Hasilnya di luar dugaan: Marvel meraih medali emas dan lolos ke babak final internasional di Malaysia.

Baca juga: Tips Co-parenting Tanpa Drama Menurut Psikolog, Demi Anak Bahagia

Tak hanya berbekal pintar, mental juga penting

Pengalaman di babak final AIMO menjadi titik balik bagi Marvel.

Dari lebih dari 2.000 peserta internasional, hanya sekitar 20 peserta berasal dari Indonesia.

Suasana kompetisi yang besar, jumlah kontingen dari berbagai negara, serta sorakan penonton membuatnya sadar bahwa olimpiade bukan hanya soal kemampuan akademik.

Di sekolah, Marvel dikenal sebagai siswa berprestasi. Namun di panggung internasional, ia belajar bahwa kecerdasan saja tidak selalu cukup.

Mental, keberanian, dan kesiapan menghadapi tekanan menjadi bagian penting dari proses.

Satu momen yang membekas adalah saat para pemenang berdiri di atas panggung sambil mengibarkan bendera negara masing-masing.

Dari sana, muncul keinginan sederhana dalam diri Marvel: ingin terus membawa Merah Putih di ajang internasional.

Marvel mengunjungi NASAistimewa Marvel mengunjungi NASAMenjalani setiap proses

Sejak pengalaman itu, Marvel mulai rutin mengikuti berbagai kompetisi nasional dan internasional.

Ia belajar mengatur waktu, mengurangi waktu bermain, dan membiasakan diri berlatih, termasuk saat libur sekolah.

"Namun baginya, proses ini tidak selalu tentang menang, melainkan tentang belajar konsisten dan memahami kemampuan diri sendiri," bunyi keterangan resmi Marvel.

Pada Final AIMO 2024 di Korea Selatan, Marvel kembali tampil di ajang internasional.

Di luar kompetisi, ia ikut serta dalam sesi cultural performance pada Award Ceremony dengan membawakan Tari Piring.

Di hadapan hampir 2.000 peserta dari 16 negara, Marvel memperkenalkan budaya Indonesia dengan cara sederhana namun bermakna.

Melangkah hingga Amerika Serikat

Perjalanan Marvel berlanjut pada Oktober 2025, ketika ia mengikuti babak penyisihan NEO Math secara daring.

Ia masuk dalam Top 10 Highest Score dan meraih medali emas, lalu melaju ke Grand Final di Amerika Serikat pada Januari 2026.

Di ajang tersebut, Marvel meraih Second Top Highest Score untuk kategori Mathematics serta medali emas untuk kategori Natural Science.

Pengalaman di Amerika Serikat juga membuka perspektif baru baginya. Ia mengunjungi NASA, menyaksikan peluncuran roket Falcon 9 milik SpaceX, dan mengikuti astronaut training class.

Dari sana, Marvel melihat bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya hadir di buku atau soal ujian, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari dan eksplorasi manusia.

Baca juga: Cara Memilih Bentuk Hukuman yang Tepat Saat Anak Berbuat Salah

Menginspirasi sang adik

Perjalanan Marvel secara alami memengaruhi adiknya, Louise, yang saat itu berusia enam tahun.

Ketertarikan Louise pada olimpiade tidak lahir dari ambisi prestasi, melainkan rasa ingin mencoba dan keinginannya untuk berdiri di atas panggung sambil mengibarkan bendera Indonesia.

Louise mulai mengikuti kompetisi dan pada Juli 2025 meraih Premier Award (Highest Score) untuk kategori Bahasa Inggris serta medali emas untuk Matematika dalam kompetisi internasional di Hong Kong.

Dalam waktu satu tahun, Louise telah mengumpulkan lebih dari 20 medali dari berbagai ajang internasional.

Meski dikenal lewat olimpiade, Marvel dan Louise tetap menjalani masa kecil seperti anak-anak lainnya.

Marvel aktif dalam basket dan karate, serta menekuni berbagai kegiatan seni seperti piano, biola, gitar, dan teater musikal.

Ia juga berlatih public speaking dan leadership untuk membangun kepercayaan diri.

Tag:  #berawal #dari #hukuman #bersaudara #menemukan #panggung #dunia #lewat #olimpiade

KOMENTAR