Wisata ke TN Komodo Ditutup Hampir Sebulan, Masalah Bermunculan
– Pasca peristiwa kapal KM Putri Sakinah tenggelam di perairan Pulau Padar, pada 26 Desember 2025 lalu, KSOP Labuan Bajo, menutup sementara akses wisata ke Taman Nasional (TN) Komodo karena adanya potensi cuaca buruk.
Pascainsiden itu, Kompas.com mencatat, KSOP Labuan Bajo mengeluarkan maklumat penutupan pelayaran wisata sudah delapan kali.
Maklumat pertama pada 29 Desember 2025. Kedua, pada tanggal 2-6 Januari 2026. Ketiga pada 5-8 Januari 2026, dan keempat pada tanggal 12-15 Januari 2026.
Kemudian, kelima pada tanggal 14-20 Januari 2026, dan keenam pada tanggal 20-27 Januari 2026, serta ketujuh pada tanggal 27-29 Januari 2026.
Terbaru lagi, KSOP menerbitkan penutupan pelayaran wisata dari tanggal 29 Januari hingga 1 Februari 2026.
Baca juga: Mesti Sabar Kalau Mau ke TN Komodo, Penutupan Diperpanjang sampai 1 Februari karena Alasan Ini
Menyikap hal itu, Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTT, Oyan Kristian angkat bicara. Masalah-masalah akibat penutupan wisata TN Komodo mulai bermunculan.
Menurutnya, sejak penutupan bulan Desember 2025 dan berlanjut hingga januari 2026, banyak trip sudah di-booking terpaksa harus dibatalkan.
“Terjadi banyak permasalahan soal proses refund. Tidak adanya keseragaman aturan-aturan yang ditetapkan boat operator dan tour operator juga termasuk hotel-hotel terkait refund uang dari taamu-tamu,” ungkap Oyan saat dihubungi dari Labuan Bajo, Jumat (30/1/2026).
Ia membeberkan, ada beberapa operator kapal yang ingin refund uang tamu 100 persen dengan kondisi force majeure karena aturan larangan berlayar dari syahbandar.
Namun, ada beberapa kapal yang tidak mau mengembalikan, karena mereka sudah belanja operasional trip.
Kemudian tour operator juga ada kondisi yang sama yaitu tidak mau mengembalikan uang. Padahal beberapa tamu itu berpendapat kondisi tersebut force majeure.
“Artinya bahwa mungkin tour operator sudah mengeluarkan biaya tertentu akibat pembatalan-pemabatalan yang terjadi. Ada yang sudah bayar clearing pas, belanja logistik, bahan makanan, BBM, dan segala macamnya. Kemudian tidak jadi berlayar, mereka tidak mau refund,” katanya.
Terhadap kondisi itu, lanjut dia, ada tour operator yang mengambil kebijakan uangnya bisa tetap menjadi deposit untuk reservasi berikutnya. Namun, tamu tidak mau karena belum tentu mereka akan berkunjung ke Labuan Bajo dalam waktu dekat apalagi dengan kondisi force majeure.
“Itu versi tamu. Namun, tour operator itu berpikir berbeda,” ujarnya.
Baca juga: Pulau Komodo Dinobatkan jadi Salah Satu Destinasi Terbaik Dunia 2026
Ia menjelaskan, pihak hotel juga mempunyai keputusan tersendiri. Mereka tidak bisa mengembalikan uang karena penerbangan ke Labuan Bajo tetap dilakukan.
Artinya, tamu yang tetap bisa ke Labuan Bajo dan menginap di hotel yang mereka pesan. Namun, tamu datang ke Labuan bajo, secara keseluruhan mereka datang bukan hanya untuk tidur di hotel melainkan ke perairan TN Komodo.
“Pesawat tidak bisa di-cancel dan hotel juga karena tidak terdampak objek force majeure itu. Sementara kapal-kapal wisaata terdampak. Ketidaksamaan itu yang menjadi masalah baru di lapangan,” ungkap dia.
Ia menyebut dengan adanya pembatalan trip, adanya larangan ke perairan TN Komodo berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat NTT khusunya Labuan bajo.
Pihaknya pun meminta agar aturana larangan berlayar ke periaran TN Komodo dan sekitarnya untuk di-review kembali.
“Apakah berlaku secara keseluuhan di perairan Labuan Bajo dan sekitarnya atau masih bisa buka tutup parsial. Artinya kalau ke Padar, Komodo, atau spot wisata yang lebih jauh itu berbahaya karena cuaca buruk mungkin tetap diberikan di destinasi terdekat yang masih dirasa cukup aman untuk dikunjungi. Misalkan untuk bisa lihat komodo, kita bisa ke Rinca, mau snorkeling kita bisa di dekat Labuan bajo, baik di barat maupun utara seperti ke pulau seraya dan sekitarnya,” usul dia.
Baca juga: Kemenhut Akan Batasi Kunjungan Turis ke TN Komodo, 1.000 Orang Per Hari
Ia menambahkan, kewenangan izin berlayar tetap urusan syahbandar, tetapi ia berharap permintaan Asita bisa dipertimbangkan.
“Secara menyeluruh, dibuka parsial di destinasi tertentu yang masih aman dikunjungi dengan pertimbangan ekonomi tentunya. Agar pariwisata Labuan Bajo tidak mati. Kami tetap menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan adalah prioritas,” imbuh dia.
Tag: #wisata #komodo #ditutup #hampir #sebulan #masalah #bermunculan