Net Buy Asing Capai Rp 3,2 Triliun, Analis Rekomendasikan JPFA, BBRI, dan AADI
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat perdagangan saham periode 12-15 Januari 2026 ditutup dengan kinerja yang mayoritas positif.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguat 1,55 persen secara mingguan dan ditutup di level 9.075,40, naik dari posisi 8.936,75 pada pekan lalu.
Penguatan IHSG turut ditopang oleh derasnya aliran dana investor asing yang mencatatkan net buy sebesar Rp 3,2 triliun. Masuknya kembali dana asing mencerminkan respons positif pelaku pasar terhadap stabilitas makro ekonomi domestik di tengah volatilitas global yang masih tinggi.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menjelaskan pasar global sepanjang pekan lalu bergerak relatif positif di tengah keseimbangan antara data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang stabil dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Dari sisi inflasi, Consumer Price Index (CPI) AS pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,7 persen secara tahunan (year on year/yoy), tidak berubah dibandingkan bulan sebelumnya dan sesuai ekspektasi pasar. Inflasi inti juga bertahan di level 2,6 persen yoy, yang merupakan level terendah sejak 2021.
Sementara itu, indikator aktivitas ekonomi AS masih menunjukkan ketahanan. Penjualan ritel AS tumbuh 3,3 persen yoy pada November 2025, sementara Producer Price Index (PPI) meningkat 3 persen yoy. Kondisi pasar tenaga kerja juga tetap solid,
tercermin dari initial jobless claims yang turun menjadi 198.000 pada pekan yang berakhir 10 Januari, jauh di bawah ekspektasi pasar.
“Namun, sentimen pasar global sempat terganggu oleh eskalasi risiko perdagangan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif 10 persen terhadap barang-barang dari sejumlah negara Eropa, dengan ancaman kenaikan hingga 25 persen mulai Juni terkait sengketa Greenland,” ujar Imam lewat keterangan pers, Minggu (18/1/2026).
Menurutnya, kebijakan yang menyasar negara-negara anggota NATO tersebut memicu respons keras dari Uni Eropa, termasuk potensi pembatalan kesepakatan dagang AS-UE yang dicapai pada Juli lalu.
“Hingga akhir pekan, dasar hukum dan mekanisme penerapan tarif tersebut masih belum jelas, sehingga ketidakpastian tetap membayangi pasar global,” paparnya.
Dari China, data menunjukkan kontras antara kinerja sektor eksternal dan kondisi domestik. Sepanjang 2025, China mencatat surplus perdagangan rekor sebesar 1,189 triliun dollar AS, dengan ekspor tumbuh 5,5 persen yoy dan impor relatif stagnan.
Pada Desember, ekspor China meningkat 6,6 persen yoy, melampaui ekspektasi, sementara impor tumbuh 5,7 persen yoy. Pergeseran tujuan ekspor ke Uni Eropa dan Asia Tenggara menjadi pendorong utama, sementara surplus perdagangan China dengan AS justru menurun.
Namun dari sisi domestik, pertumbuhan kredit China masih tertahan. Pertumbuhan outstanding yuan loan bertahan di 6,4 persen yoy, terendah sepanjang sejarah, meskipun money supply M2 meningkat 8,5 persen yoy ke level tertinggi. Merespons kondisi tersebut, People’s Bank of China (PBOC) menegaskan masih terdapat ruang untuk menurunkan suku bunga dan giro wajib minimum (GWM).
Dari sektor riil, penjualan kendaraan China sepanjang 2025 tumbuh 9,4 persen yoy menjadi 34,4 juta unit, dengan penjualan kendaraan energi baru (NEV) melonjak 28,2 persen yoy. Namun, pada Desember, total penjualan kendaraan justru turun 6,2 persen yoy, mencerminkan pelemahan menjelang akhir tahun.
Pasar Domestik Tetap Solid
Di tengah dinamika global tersebut, pasar domestik justru mencatatkan kinerja positif. Dari sisi konsumsi, penjualan ritel Indonesia pada November 2025 tumbuh 6,3 persen yoy, meningkat dari bulan sebelumnya dan menjadi laju pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024.
“Pertumbuhan terjadi di berbagai kategori, termasuk makanan dan minuman, suku cadang otomotif, serta barang rekreasi. Secara bulanan, penjualan ritel meningkat 1,5 persen, menjadi yang tertinggi dalam delapan bulan terakhir,” bebernya.
Selain itu, Foreign Direct Investment (FDI) Indonesia pada kuartal IV 2025 tumbuh 4,3 persen yoy menjadi Rp 256,3 triliun, berbalik arah dari kontraksi pada kuartal sebelumnya. Sepanjang 2025,
total FDI tercatat relatif stabil di Rp 900,9 triliun, dengan sektor logam dasar dan pertambangan menjadi tujuan utama investasi.
Di pasar komoditas, harga minyak WTI naik 0,4 persen dan ditutup di level 59,44 dollar AS per barel, seiring meredanya kekhawatiran eskalasi militer AS terhadap Iran, meskipun risiko geopolitik masih membayangi.
Harga batu bara juga menguat mendekati 110 dollar AS per ton, mendekati level tertinggi satu bulan terakhir, seiring persiapan China meluncurkan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga batu bara baru.
Sementara itu, harga timah melonjak ke 53.400 dollar AS per ton, tertinggi sejak 2022, didorong permintaan yang kuat dan keterbatasan pasokan global. Sebaliknya, harga emas terkoreksi sekitar 1 persen ke level 4.560 dollar AS per ons.
Proyeksi dan Rekomendasi IPOT
Memasuki pekan perdagangan 19-23 Januari 2026, fokus pasar akan tertuju pada sejumlah rilis data dan keputusan kebijakan global maupun domestik. IPOT memperkirakan IHSG bergerak dalam fase konsolidasi dengan rentang support di level 9.000 dan resistance di 9.200.
Dari China, perhatian tertuju pada rilis pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 yang diperkirakan tumbuh 4,4 persen yoy, serta data penjualan ritel dan tingkat pengangguran Desember.
Keputusan Loan Prime Rate (LPR) tenor 1 tahun dan 5 tahun juga menjadi sorotan, di tengah sinyal pelonggaran lanjutan dari PBOC.
Dari dalam negeri, investor menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia. Pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga di level 4,75 persen, dengan fokus menjaga stabilitas nilai tukar.
Sementara itu, dari Amerika Serikat, rilis US Core PCE Price Index dengan konsensus 2,7 persen yoy akan menjadi indikator inflasi utama yang dicermati pasar sebagai acuan kebijakan moneter The Fed.
Merespons kondisi tersebut, IPOT merekomendasikan sejumlah strategi investasi, baik di saham maupun obligasi.
IPOT merekomendasikan buy saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) di area Rp 2.700 dengan target Rp 2.880 dan stop loss di bawah Rp 2.610. Kenaikan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 menjadi Rp 335 triliun dinilai menjadi katalis struktural kuat bagi JPFA sebagai salah satu perusahaan poultry terintegrasi terbesar di Indonesia.
Selain itu, IPOT merekomendasikan buy on breakout saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) di area Rp 3.860 dengan target 4.060 dan stop loss di bawah 3.760. Dalam sepekan terakhir, investor asing tercatat melakukan net buy BBRI sebesar Rp 575,7 miliar.
Rekomendasi berikutnya adalah buy on breakout saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) di Rp 7.725 dengan target Rp 8.300 dan stop loss di bawah Rp 7.450, seiring penguatan harga batu bara global.
Di luar saham, IPOT juga merekomendasikan pembelian Obligasi Berkelanjutan III Bussan Auto Finance Tahap IV Tahun 2025 Seri B (BAFI03BCN4) dengan kupon 5,65 persen per tahun dan jatuh tempo 19 November 2028. Obligasi berperingkat idAAA tersebut dinilai cocok untuk strategi investasi berisiko rendah di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
Tag: #asing #capai #triliun #analis #rekomendasikan #jpfa #bbri #aadi