Trump Ancam Tarif Baru, Kesepakatan Dagang UE-AS Makin Rumit
Uni Eropa bersiap menahan persetujuan kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat menyusul ancaman tarif baru Presiden Donald Trump terkait dukungan negara-negara Eropa terhadap Greenland.(AFP/CHRISTOPHER FURLONG)
11:00
18 Januari 2026

Trump Ancam Tarif Baru, Kesepakatan Dagang UE-AS Makin Rumit

- Anggota parlemen Uni Eropa (UE) bersiap menghentikan proses persetujuan kesepakatan dagang antara UE dan Amerika Serikat (AS).

Langkah ini dipicu ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa yang menentang rencana AS mencaplok Greenland

Presiden Partai Rakyat Eropa (European People’s Party/EPP), Manfred Weber, mengatakan bahwa kesepakatan dengan AS tidak lagi memungkinkan pada tahap ini. EPP merupakan kelompok politik terbesar di Parlemen Eropa.

“EPP mendukung kesepakatan dagang UE-AS, tetapi mengingat ancaman Donald Trump terkait Greenland, persetujuan tidak mungkin dilakukan saat ini,” tulis Weber di media sosial pada Sabtu (18/1/2026).

Weber menambahkan, kesepakatan UE untuk menurunkan tarif atas “produk-produk AS harus ditangguhkan”.

Masih Butuh Persetujuan Parlemen

Dikutip dari Bloomberg, kesepakatan dagang UE-AS yang dicapai Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dengan Trump pada musim panas lalu telah diterapkan sebagian. Namun, perjanjian tersebut masih menunggu persetujuan Parlemen Eropa.

Jika anggota parlemen dari EPP bergabung dengan kelompok politik berhaluan kiri, mereka berpotensi mengantongi cukup suara untuk menunda atau bahkan memblokir persetujuan.

Dalam kesepakatan tersebut, AS menetapkan tarif sebesar 15 persen untuk sebagian besar barang UE. Sebagai imbalannya, UE berkomitmen menghapus bea masuk atas produk industri AS dan sejumlah produk pertanian.

Von der Leyen, yang memimpin negosiasi dagang UE, menyepakati perjanjian itu dengan tujuan mencegah perang dagang terbuka dengan Trump.

Penolakan Menguat di Parlemen UE

Sejumlah anggota parlemen UE sejak awal menentang kesepakatan tersebut karena dinilai lebih menguntungkan AS. Penolakan kian menguat setelah AS memperluas tarif 50 persen atas baja dan aluminium ke ratusan produk UE lainnya menyusul kesepakatan Juli lalu.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer bulan lalu juga mengkritik UE karena dinilai tidak menjalankan sejumlah aspek perjanjian, terutama terkait regulasi perusahaan teknologi.

Pada Sabtu, Trump mengumumkan tarif sebesar 10 persen mulai 1 Februari terhadap barang dari negara-negara Eropa yang mendukung kedaulatan Greenland di tengah ancaman AS untuk mengambil alih wilayah semi-otonom Denmark tersebut.

Trump mengatakan tarif itu akan dinaikkan menjadi 25 persen hingga “kesepakatan tercapai untuk pembelian Greenland secara penuh dan total”.

Respons Pemimpin Eropa

Pernyataan Trump langsung memicu reaksi dari para pemimpin Eropa. Ursula von der Leyen menegaskan bahwa “tarif akan merusak hubungan transatlantik dan berisiko memicu spiral penurunan yang berbahaya”.

Presiden Perancis Emmanuel Macron juga menolak keras ancaman tersebut dan menyebutnya “tidak dapat diterima”.

Perkembangan ini membuat proses pengesahan kesepakatan dagang semakin kompleks.

“Sudah jelas bahwa kedaulatan nasional setiap negara harus dihormati oleh semua mitra dalam kesepakatan dagang,” kata Ketua Komite Perdagangan Parlemen Eropa, Bernd Lange pekan ini.

Seruan Tangguhkan Implementasi

Setelah pengumuman Trump, Lange menulis di media sosial bahwa implementasi kesepakatan dagang UE-AS harus ditangguhkan hingga ancaman tersebut dihentikan.

Ia juga menyerukan penggunaan anti-coercion instrument (ACI), instrumen balasan dagang terkuat UE.

ACI, yang belum pernah digunakan, dirancang sebagai alat pencegah dan respons terhadap tindakan koersif negara ketiga yang menggunakan kebijakan perdagangan untuk menekan keputusan UE atau negara anggotanya.

Langkah-langkah tersebut dapat mencakup tarif, pajak baru bagi perusahaan teknologi, pembatasan investasi, pembatasan akses ke pasar UE, hingga larangan mengikuti tender publik di Eropa.

Parlemen UE Masih Tunggu Perkembangan

Parlemen Eropa saat ini masih menunggu perkembangan. Anggota Komite Perdagangan telah menggelar diskusi awal pada Rabu untuk mengaitkan isu kedaulatan Greenland dengan kesepakatan dagang AS dan sepakat menggelar pertemuan lanjutan dalam sepekan.

Anggota Parlemen Eropa asal Denmark dari kelompok The Left, Per Clausen, mengumpulkan 30 tanda tangan untuk surat yang dikirim kepada pimpinan parlemen.

Surat itu mendesak agar kesepakatan dagang “dibekukan” selama klaim dan ancaman AS terhadap Greenland masih berlangsung.

“Akan sangat aneh jika kita menandatangani kesepakatan dengan AS saat ini,” kata Clausen.

“Ini akan menjadi sinyal jelas bahwa UE siap menggunakan instrumen yang dimilikinya terhadap AS jika agresi tersebut berlanjut,” lanjut dia. 

Tag:  #trump #ancam #tarif #baru #kesepakatan #dagang #makin #rumit

KOMENTAR