DPR Sebut Kebangkitan BUMN Tekstil Penting bagi Industri Nasional
- Anggota Komisi VII DPR Bambang Haryo Soekartono mengapresiasi rencana pemerintah untuk kembali menghidupkan badan usaha milik negara (BUMN) di sektor tekstil atau sandang.
Menurut dia, sandang merupakan kebutuhan dasar yang memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat dan menjadi kewajiban negara untuk memenuhinya.
“Pemerintah memang memiliki kewajiban untuk menjamin kebutuhan dasar manusia, seperti yang disampaikan dalam undang-undang, terutama UUD 1945, lalu UU Nomor 13/2011 tentang penanganan fakir miskin,” kata Bambang dalam keterangannya, Sabtu (17/1/2026).
Anggota komisi VII DPR Fraksi Partai Gerindra Bambang Haryo Soekartono saat meninjau kesiapan liburan Nataru 2024/2025 di pelabuhan semayang Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (27/12/2024).
Ia menegaskan, kebutuhan dasar manusia mencakup sandang, pangan, dan papan. Artinya, sandang harus menjadi hal pertama yang dipenuhi oleh negara, kemudian pangan atau makanan, dan selanjutnya papan atau perumahan.
“Sandang ini sangat penting, sebagai kebutuhan dasar masyarakat, yang wajib dipenuhi oleh negara. Sesuai dengan UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1,” ungkapnya.
Bambang mengaku prihatin dengan kebijakan penghapusan BUMN tekstil pada era pemerintahan sebelumnya. Menurut dia, sesuai konstitusi, BUMN sandang seharusnya tetap ada dan dijamin keberlangsungannya oleh pemerintah.
“BUMN sandang ini diharapkan mampu menjadi stabilisator dari ribuan industri sandang yang ada di Indonesia. Mencegah para industri itu menciptakan kartelisasi, yang menjadikan sandang di Indonesia berharga mahal,” ujarnya.
Selain itu, BUMN tekstil juga diharapkan berperan sebagai stabilisator pasar atau kecukupan market untuk menjaga keseimbangan antara suplai dan permintaan.
Peran lain yang dinilai penting adalah sebagai stabilisator harga agar harga sandang di pasar tidak terlalu mahal, karena adanya BUMN sebagai pesaing industri swasta.
Ilustrasi: Bahan baku benang sintetis yang akan diolah menjadi tekstil polyester.
“Terakhir, BUMN sandang harus mampu menjadi stabilisator mutu atau kualitas,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa Industri Sandang Nusantara (ISN), yang merupakan BUMN tekstil Indonesia dan didirikan pada 1961, resmi dibubarkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 14 Tahun 2020, yang kemudian diikuti dengan RUPS Menteri BUMN. Aset-aset ISN saat itu juga dilelang.
“Ini sangat disayangkan. Tindakan mempailitkan industri sandang ini adalah tindakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil, menengah, dan atas. Semua rakyat di Indonesia. Karena jaminan sandang ini penting,” tutur Bambang.
Karena itu, ia menyambut positif langkah Presiden Prabowo Subianto yang berencana membangun kembali industri tekstil nasional.
“Ini adalah satu tindakan kemanusiaan yang luar biasa bagus. Karena ini adalah satu kebutuhan yang harus direalisasikan oleh negara, pemerintah, dan DPR. Jangan sampai kebodohan menutup industri sandang itu dimunculkan lagi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bambang menilai rencana roadmap peningkatan nilai ekspor industri sandang dari 4 miliar dollar AS menjadi 40 miliar dollar AS dalam waktu 10 tahun sebagai target yang reasonable.
“Ini bisa dilakukan, jika pemerintah serius untuk melakukannya. Artinya, industri sandang yang dibangun oleh pemerintah harus disertai dengan inovasi tinggi, sehingga mampu bersaing di kancah global,” tuturnya.
Ia menambahkan, potensi tersebut akan semakin besar jika industri sandang nasional menggunakan bahan baku yang berasal dari dalam negeri.
Menurut dia, ketergantungan impor bahan baku, terutama dari China yang saat ini mencapai sekitar 60 sampai 90 persen, dapat dikurangi secara signifikan.
“Kapas disediakan, terus industri hulunya yang sekarang ini impor dari China sekitar 60 sampai 90 persen juga bisa dikurangi drastis. Ini diharapkan bisa terjadi terus, dengan didukung dengan industri-industri swasta, yang penuh dengan inovatif,” katanya.
Ilustrasi industi tekstil
Selain sektor manufaktur, Bambang juga mendorong dukungan yang lebih besar terhadap industri ekonomi kreatif (ekraf) agar muncul produk-produk unik yang memiliki daya tarik di pasar internasional.
“Dukungan dari pemerintah yang sekarang ini anggarannya sangat kecil. Kita sangat mengharapkan memang ekraf ini bisa dibesarkan, sehingga ini akan membawa industri-industri spesifik dan khusus, yang tidak ada padanannya di seluruh dunia. Sehingga mampu menarik untuk konsumen luar negeri,” ujarnya.
Di sisi lain, ia juga mendorong pemerintah untuk terus mengajak masyarakat menggunakan produk dalam negeri. Menurut dia, peningkatan konsumsi domestik harus berjalan seiring dengan peningkatan ekspor.
“Jadi yang naik tidak hanya ekspor, tapi juga konsumsi dalam negeri kita. Masyarakat harus banyak menggunakan produk dalam negeri, terutama yang dihasilkan oleh industri sandang yang dibangun oleh pemerintah,” pungkas Bambang.
Tag: #sebut #kebangkitan #bumn #tekstil #penting #bagi #industri #nasional