Purbaya Akui Pemulihan Ekonomi Tak Secepat Perkiraan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Januari 2026 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
06:20
16 Januari 2026

Purbaya Akui Pemulihan Ekonomi Tak Secepat Perkiraan

– Awal September 2025 Purbaya Yudhi Sadewa resmi dilantik menjadi Menteri Keuangan. Ia menggantikan Sri Mulyani Indrawati. Setelah menjabat, Purbaya mengakui adanya jarak antara ekspektasi dan realitas saat mulai memegang peran sebagai bendahara negara.

Dari sisi kebijakan, Purbaya awalnya yakin perubahan yang ditempuh akan cepat memperbaiki kondisi ekonomi domestik. Keyakinan itu muncul karena ruang fiskal dinilai masih tersedia.

Perkembangannya tidak sesuai harapan. Pemulihan ekonomi berjalan lebih lambat.

“Kalau kita lihat Agustus-September (kondisi ekonomi) kan turun ke level rendah sekali. Kita tahu kalau tidak dibalik, stabilitas sosial politik akan terganggu,” ujar Purbaya saat ditemui di Menara IDN HQ, Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).

Tekanan ekonomi muncul bersamaan dengan situasi sosial. Gelombang demonstrasi mulai mereda setelah memanas pada akhir Agustus 2025. Kondisi tersebut memberi dampak pada aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat.

Perlambatan ekonomi tidak semata berasal dari sektor perbankan. Likuiditas dinilai tidak mengalir ke aktivitas ekonomi riil. Perbankan memiliki dana yang cukup. Penyalurannya belum optimal ke sektor produktif.

Pada awal masa jabatan, Purbaya yakin pemulihan akan terlihat dalam hitungan minggu setelah kebijakan diambil. Realitas di lapangan menunjukkan proses itu menghadapi sejumlah hambatan.

Kebijakan yang dimaksud berupa penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun ke bank-bank Himpunan Bank Milik Negara pada 12 September 2025. Penempatan tersebut terdiri dari Rp 55 triliun masing-masing ke Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan Bank Rakyat Indonesia. Dana Rp 25 triliun ditempatkan di Bank Tabungan Negara. Bank Syariah Indonesia menerima Rp 10 triliun.

Hambatan lain muncul dari kebutuhan penyelarasan kebijakan fiskal dan moneter. Pengetatan moneter membuat pemulihan tidak sekuat perkiraan, terutama pada kuartal IV. Kondisi ini memengaruhi kecepatan transmisi kebijakan ke sektor riil.

Koordinasi dengan Bank Indonesia terus dilakukan. Tujuannya mencari keseimbangan peran antara kebijakan fiskal dan moneter agar pemulihan lebih efektif.

Purbaya menilai kondisi pasar kini bergerak ke arah yang lebih aman. Sinyal pemulihan paling cepat terlihat di pasar keuangan. Pasar modal dan obligasi biasanya merespons lebih awal dibandingkan sektor perbankan.

“Hitungan saya Rp 200 triliun itu menimbulkan pertumbuhan uang M0 sekitar 13 persen. Harusnya kredit di akhir tahun tumbuh double digit juga. Tapi karena mungkin ada miskomunikasi, atau sinyal saya tidak diikuti, penyerapan baru mulai bertahap di minggu-minggu berikutnya,” ujar Purbaya.

Tag:  #purbaya #akui #pemulihan #ekonomi #secepat #perkiraan

KOMENTAR