Obligasi dan Sukuk Ramai Masuk BEI Awal Januari 2026
Aktivitas pasar modal Indonesia kian semarak pada pekan pertama Januari 2026.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat masuknya sejumlah obligasi dan sukuk baru, seiring melonjaknya aktivitas perdagangan saham dan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali menorehkan rekor.
Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, mengatakan sepanjang periode 5-9 Januari 2026 ada tiga obligasi dan satu sukuk baru.
Ilustrasi obligasi.
Pencatatan tersebut mencerminkan tetap kuatnya minat emiten dalam memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan.
“Selama periode 5-9 Januari 2026, terdapat pencatatan tiga obligasi dan satu sukuk di Bursa Efek Indonesia,” ujar Kautsar dalam keterangan pers, Sabtu (10/1/2026).
Pada Rabu (7/1/2026), PT Eagle High Plantations Tbk mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap III Tahun 2025 senilai Rp 210 miliar, serta Sukuk Mudharabah Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2025 dengan nilai Rp 290 miliar.
Kedua instrumen tersebut memperoleh peringkat idA- dan idA- sy dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO), dengan wali amanat PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk.
Di hari yang sama, PT Summarecon Agung Tbk juga resmi mencatatkan Obligasi Berkelanjutan V Tahap I Tahun 2025 dengan nilai nominal Rp 351,96 miliar.
Obligasi ini mengantongi peringkat idA+ dari PEFINDO, dengan wali amanat PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Selain itu, PT Energi Mega Persada Tbk turut mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap I Tahun 2025 senilai Rp 500 miliar. Obligasi ini juga memperoleh peringkat idA+ dari PEFINDO dengan wali amanat Bank Rakyat Indonesia.
Ilustrasi investasi. Ilustrasi Sukuk Wakaf Ritel (SWR). Apa itu pengertian Sukuk Wakaf Ritel (SWR). Sukuk Wakaf Ritel (SWR) adalah.Dengan pencatatan tersebut, pada awal Januari 2026, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI mencapai empat emisi dari tiga emiten dengan nilai Rp 216,97 triliun.
Secara keseluruhan, BEI kini menampung 662 emisi obligasi dan sukuk dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 539,79 triliun dan 134,01 juta dollar AS, yang diterbitkan oleh 136 emiten.
Sementara itu, Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat di BEI berjumlah 190 seri dengan nilai nominal Rp 6.484,29 triliun dan 352,10 juta dollar AS.
Selain itu, terdapat enam emisi Efek Beragun Aset (EBA) dengan total nilai Rp3,99 triliun.
Perdagangan saham di BEI juga menunjukkan lonjakan signifikan. Selama periode 5 hingga 9 Januari 2026, rata-rata volume transaksi harian melonjak 48,08 persen menjadi 61,78 miliar lembar saham, dibandingkan 41,72 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.
Rata-rata nilai transaksi harian turut meningkat tajam sebesar 44,68 persen menjadi Rp 31,45 triliun, dari sebelumnya Rp 21,74 triliun.
Frekuensi transaksi harian juga naik 42,74 persen menjadi 3,98 juta kali transaksi, dari 2,79 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Seiring meningkatnya aktivitas perdagangan, IHSG juga mencatatkan kinerja impresif. Sepanjang pekan, IHSG menguat 2,16 persen dan ditutup di level 8.936,754, naik dari posisi 8.748,132 pada pekan sebelumnya.
Pada Rabu (7/1/2026), IHSG bahkan menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa di level 8.944,813.
Momentum berlanjut pada Kamis (8/1/2026), ketika IHSG berhasil menembus level psikologis 9.000 secara intraday, dengan titik tertinggi mencapai 9.002,92. Sejalan dengan penguatan indeks, kapitalisasi pasar BEI juga mengalami peningkatan signifikan.