Hidup Mandiri di Tengah Ketidakpastian yang Kian Panjang
Kemandirian finansial kini menjadi ukuran utama hidup sejahtera masyarakat Indonesia di masa tua, bukan sekadar panjang usia.(Shutterstock/oatawa)
07:04
25 Februari 2026

Hidup Mandiri di Tengah Ketidakpastian yang Kian Panjang

— Kemandirian finansial kini menjadi ukuran utama hidup sejahtera masyarakat Indonesia di masa tua, bukan sekadar panjang usia. Pergeseran cara pandang itu terlihat dari Manulife Asia Care Survey (ACS) 2025. Hasil survei tersebut menemukan bahwa hanya 6 persen responden yang menjadikan usia panjang sebagai prioritas utama.

Sebanyak 56 persen responden lebih memilih memiliki kemandirian finansial serta kemampuan untuk tetap aktif, baik secara fisik maupun mental, tanpa harus membebani keluarga pada hari tua.

"Hidup lebih lama seharusnya memberi masyarakat lebih banyak pilihan, bukan justru mengurangi kemandirian. Tantangan terbesar saat ini bukan soal memperpanjang usia, melainkan tetap hidup mandiri di tengah ketidakpastian yang semakin kompleks," ujar Presiden Direktur Manulife Indonesia, Lauren Sulistiawati lewat keterangan tertulis kepada Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

Sadar, tapi minim persiapan

Meski punya kesadaran tinggi soal kemandirian, kenyataannya masyarakat Indonesia minim persiapan untuk mencapai hal tersebut.

Tanpa persiapan yang tepat, usia panjang justru berisiko menjadi fase hidup yang penuh ketergantungan, baik secara finansial maupun dalam aktivitas sehari-hari.

Hasil Manulife Asia Care Survey 2025 mengungkap bahwa 76 persen responden Indonesia merasa sudah berada di jalur yang tepat dalam menyiapkan dana pensiun. Namun, hampir setengah responden mengakui hanya mampu bertahan kurang dari satu tahun jika sumber pendapatan utama mereka tiba-tiba terhenti.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan finansial masyarakat Indonesia masih rapuh di tengah dinamika hidup yang semakin tidak terduga.

Kerapuhan tersebut juga diperkuat oleh pola pengelolaan aset yang masih sangat konservatif. Sebanyak 73 persen responden Indonesia masih sangat mengandalkan kas dan simpanan bank. Rata-rata sekitar 49 persen total aset disimpan dalam bentuk kas atau deposito.

“Cara tersebut memang memberikan rasa aman, tapi hanya dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, nilai aset tersebut akan tergerus oleh inflasi biaya hidup dan kesehatan,” jelas Lauren.

Karena itulah, lanjutnya, perencanaan keuangan tidak lagi cukup sekadar menabung, tapi juga membutuhkan strategi agar bisa bertahan di setiap fase kehidupan.

Hidup yang lebih baik bukan tentang menghindari ketidakpastian, melainkan memiliki kesiapan untuk menghadapinya melalui perencanaan yang tepat.Shutterstock/kitzcorner Hidup yang lebih baik bukan tentang menghindari ketidakpastian, melainkan memiliki kesiapan untuk menghadapinya melalui perencanaan yang tepat.

Menumbuhkan kemandirian

Berdasarkan pengalaman memimpin di industri jasa keuangan, Lauren mengungkapkan bahwa kemandirian tidak pernah lahir secara kebetulan.

“Kemandirian dibangun dari rangkaian keputusan kecil yang konsisten (sejak dini) dengan pemahaman menyeluruh terhadap risiko hidup, baik yang bisa diprediksi maupun yang datang tanpa rencana,” ungkapnya.

Untuk itu, diperlukan pendampingan profesional, termasuk dari tenaga pemasar asuransi atau agen, dalam perencanaan keuangan. Pendampingan ini, lanjut Lauren, bukan untuk menjanjikan kepastian, melainkan membantu keluarga mempersiapkan berbagai kemungkinan secara lebih terstruktur dan adaptif.

Baca juga: Bukan Sekadar Panjang Umur, Masyarakat Kini Prioritaskan Hidup Mandiri dan Sehat

Manulife sendiri terus meningkatkan profesionalisme dan kemampuan para tenaga pemasar melalui program Manulife Pro. Sejak diluncurkan pada 2024, program ini telah berkembang dengan lebih dari 600 tenaga pemasar sudah terdaftar.

Lauren menambahkan, kemitraan strategis Manulife dengan Million Dollar Round Table (MDRT) juga memperkuat standar layanan para tenaga pemasar agar nasabah mendapatkan pendampingan yang konsisten, relevan, dan berkelas global. Skala pelayanan ini turut didukung oleh fondasi operasional Manulife Indonesia yang kuat.

Untuk diketahui, hingga saat ini, Manulife Indonesia telah melayani sekitar 2 juta nasabah, memiliki lebih dari 50 kantor pemasaran, dan lebih dari 16.000 tenaga pemasar profesional.

Pendampingan profesional dari tenaga pemasar tersebut ditopang oleh rangkaian solusi perlindungan dan perencanaan yang disesuaikan dengan kebutuhan keluarga di setiap tahap kehidupan.

“Solusi seperti Manulife Dynamic Wealth Assurance (MDWA) dapat membantu keluarga merancang tujuan jangka menengah dan panjang, mulai dari pendidikan hingga persiapan pensiun, secara lebih terstruktur,” tuturnya.

Kemudian, Manulife PRIME, hasil kolaborasi dengan Bank DBS Indonesia, hadir untuk menjawab kebutuhan perencanaan lintas generasi serta memberikan kejelasan dan ketersediaan likuiditas dalam transisi warisan agar kesinambungan finansial keluarga tetap terjaga.

“Selain produk yang berorientasi pada solusi seperti MDWA dan perencanaan warisan melalui Manulife PRIME, Manulife juga menyediakan proteksi komprehensif terhadap risiko kesehatan yang dapat mengganggu kemandirian finansial keluarga,” jelasnya.

Melalui Proteksi Prima Perlindungan Andalan (PPPA) yang dipasarkan bersama Bank Danamon, nasabah bisa memperoleh perlindungan atas 89 kondisi penyakit kritis, manfaat meninggal dunia, serta manfaat akhir masa pertanggungan dengan masa pembayaran premi yang hanya lima tahun.

Seluruh solusi tersebut dapat membantu keluarga tetap tangguh menghadapi ketidakpastian kesehatan yang muncul.

Salurkan klaim sebesar Rp 8 triliun

Keunggulan produk perlindungan Manulife terlihat dari klaim yang telah dibayarkan. Selama 2025, Manulife Indonesia telah membayarkan klaim sebesar Rp 8 triliun (unaudited) kepada nasabah. Sementara, klaim syariah yang telah dibayarkan mencapai sekitar Rp 278 miliar (unaudited).

Klaim tersebut menjadi dukungan finansial bagi ribuan keluarga ketika menghadapi sakit, kehilangan, atau perubahan besar dalam hidup.

Bagi Lauren, jumlah klaim sebesar itu menunjukkan komitmen dari Manulife dan kepercayaan tinggi masyarakat terhadap produk perlindungan dari Manulife.

“Kepercayaan ini dibangun melalui proses klaim yang adil, transparansi, dan komitmen untuk hadir sebagai mitra jangka panjang, tidak hanya di awal perjalanan, tetapi juga di saat-saat paling krusial,” jelas Lauren.

Baca juga: Manulife Indonesia Luncurkan Manulife Dynamic Wealth Assurance, Solusi Perlindungan dan Perencanaan yang Aman dan Fleksibel

Lauren melanjutkan, pergeseran prioritas masyarakat membawa satu kesadaran penting, yakni hidup yang lebih baik bukan tentang menghindari ketidakpastian, melainkan memiliki kesiapan untuk menghadapinya.

Ketika fondasi finansial yang lebih tangguh, perencanaan yang tepat, dan pendampingan profesional sudah dibangun sejak dini, pertanyaan soal menjalani hidup hingga masa tua pun tidak lagi terasa menakutkan.

Pertanyaan itu justru menjadi undangan untuk menjalani hidup dengan lebih percaya diri, mandiri, dan bermakna di setiap fase kehidupan.

 

Tag:  #hidup #mandiri #tengah #ketidakpastian #yang #kian #panjang

KOMENTAR