Tidak Relevan Perkebunan Sawit Dijadikan Dalang Deforestasi di Indonesia
ILUSTRASI DEFORESTASI. (AI/DIMAS PRADIPTA/JAWAPOS.COM)
08:09
9 Januari 2026

Tidak Relevan Perkebunan Sawit Dijadikan Dalang Deforestasi di Indonesia

- Isu kebun kelapa sawit masih menjadi diskursus lingkungan, terutama terkait dengan deforestasi. Ekspansi perkebunan sawit dalam beberapa dekade terakhir sering dikaitkan dengan perubahan tutupan hutan, baik di tingkat global maupun nasional. 

Kondisi itu menjadi perhatian berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku industri, hingga organisasi lingkungan. Kampanye Greenpeace Indonesia Rio Rompas menegaskan, industri sawit memang menjadi salah satu alasan terdorongnya deforestasi. 

“Industri sawit menjadi salah satu komoditas yang menjadi pendorong deforestasi, karena prasyarat komoditas ini membutuhkan lahan yang luas untuk menopang industrinya,” kata Rio Rompas kepada JawaPos.com, Rabu (8/1). 

Deforestasi terus menjadi sorotan di berbagai wilayah karena penurunan luas hutan alam. Alhasil, pembukaan lahan untuk kebun kelapa sawit sering disebut sebagai salah satu bentuk perubahan penggunaan lahan yang berdekatan dengan kawasan hutan. 

Adapun alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan sawit sering terjadi di area yang sebelumnya memiliki tutupan vegetasi yang lebih lebat. Perubahan ini sendiri berdampak pada lanskap hutan, termasuk fragmentasi habitat dan berkurangnya tutupan vegetasi alami di lokasi-lokasi tertentu.

Menurut dia, dampak produksi sawit yang mengorbankan hutan tentu akan memberikan salah satu dampak negatif yakni menghancurkan kesejahteraan alam. 

“Dalam berproduksi sawit akan membuka hutan dan menggantikannya dengan tanaman sawit yg monokultur, hutan dan lahan gambut dibuka dan menghancurkan bentang alam,” tukasnya.  

ILUSTRASI PERKEBUNAN SAWIT. (DIMAS PRADIPTA/JAWAPOS.COM) (KELANA)

Rio Rompas menyoroti deforestasi juga akan berdampak pada keanekaragaman hayati dan habitat satwa liar. Termasuk pula keanekaragaman hayati, bencana banjir, dan pengeringan lahan gambut yang memicu kebakaran hutan. 

Apalagi adanya sertifikasi seperti Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Hingga kini tak menunjukkan perbaikan terkait deforestasi. Sebab, sanksi bagi pihak yang melanggar tampak tak tegas. 

"Banyak kebun yang bersertifikat masih ditemukan melakukan penanaman sawit dalam kawasan hutan dan melakukan praktik deforestasi,” tukasnya. 

Di pihak lain, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono dengan tegas menyataakan, tak relevan jika perkebunan sawit dijadikan dalang atau penyebab deforestasi di Indonesia. 

Sebab, perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah dimoratorium sejak 2011 dan Inpres No. 5 Tahun 2019 telah diterbitkan yang bertujuan menghentikan pemberian izin baru untuk perkebunan kelapa sawit di Hutan Primer dan Lahan Gambut (HP-LG) serta menyempurnakan tata kelola hutan. 

Infografis. (Dimas Pradipta/JawaPos.com)

“Sudah tidak diperbolehkan lagi adanya izin baru (perkebunan kelapa sawit) dan luasan sampai dengan saat ini masih 16,3 juta ha,” ungkapnya. 

Dia menjelaskan, luasan kawasan hutan di Indonesia berada di angka 125 juta ha. Sehingga, hanya 13 persen yang digunakan untuk perkebunan sawit. “Jadi menurut saya tidak relevan kalau perkebunan sawit di Indonesia dituduh sebagai penyebab deforestasi,” tegas Eddy. 

Dia pun menegaskan, dalam upaya mengurangi deforestasi salah satunya dengan memperjelas batasan kawasan hutan dengan yang bukan, agar masyarakat tak menyentuh kawasan hutan. Terlebih mengalihfungsikannya sebagai lahan seperti perkebunan sawit. 

“Sangat bisa (mengurangi deforestasi) tinggal mesti jelas batas kawasan hutan supaya masyarakat tahu mana kawasan hutan dan bukan, juga utamanya pengawasan setelah batas-batas tersebut jelas,” tukasnya. (*)

Editor: Ilham Safutra

Tag:  #tidak #relevan #perkebunan #sawit #dijadikan #dalang #deforestasi #indonesia

KOMENTAR