HNW Kecam Keras Sahur On The Road di Jombang, Pakai Sound Horeg dan Penari Seksi?
Ilustrasi Sound Horeg [AI Imagen 4]
16:52
24 Februari 2026

HNW Kecam Keras Sahur On The Road di Jombang, Pakai Sound Horeg dan Penari Seksi?

Baca 10 detik
  • Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, mengecam keras kegiatan Sahur on the Road di Jombang karena menggunakan sound horeg dan penari seksi.
  • HNW menekankan kegiatan tersebut sangat bertentangan dengan esensi ibadah Ramadan, nilai kesopanan, serta ketenangan berpuasa.
  • Ia juga menyoroti Jombang sebagai Kota Santri dan mendesak aparat menertibkan kegiatan tanpa izin tersebut agar tidak terulang.

Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), mengecam keras aksi Sahur on the Road (SOTR) di Jombang, Jawa Timur, yang viral karena menggunakan sound horeg (pengeras suara bervolume tinggi) dan menampilkan penari seksi. 

HNW menilai kegiatan tersebut sangat jauh dari esensi ibadah Ramadan dan nilai kesopanan.

Menurutnya, istilah "Sahur on the Road" seharusnya merujuk pada aktivitas membangunkan warga untuk makan sahur dengan cara yang santun, bukan justru mengganggu kenyamanan.

"Kalau sahur itu kan untuk mengingatkan orang untuk sahur, bukan justru mengingatkan orang untuk nilai-nilai yang tidak pantas dalam konteks ketimuran maupun agama Islam, apalagi dalam konteks puasa Ramadan," ujar HNW kepada wartawan, Selasa (24/2/2026).

Anggota Komisi VIII DPR RI itu menekankan, bahwa bulan puasa seharusnya diisi dengan menjaga etika dan menghadirkan ketenangan, terutama di waktu sahur yang sakral bagi umat Muslim. Penggunaan sound horeg yang bising dinilai sangat kontradiktif dengan prinsip tersebut.

"Sound horeg itu pasti sangat bising dan tidak sesuai dengan prinsip berpuasa yang menghadirkan keheningan dan kenyamanan. Kita diminta toleran terhadap non-muslim, maka mestinya hadirkanlah kenyamanan bagi sesama umat Islam yang berpuasa. Jangan malah diganggu dengan kegiatan yang ngakunya sahur tapi jauh dari nilai puasa," tegasnya.


Soroti Status Jombang sebagai Kota Santri

Wakil Ketua Majelis Syura PKS ini juga menyayangkan aksi tersebut terjadi di Jombang. 


Ia mengingatkan bahwa Jombang memiliki sejarah besar sebagai "Kota Santri" dan tempat lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama (NU), serta rumah bagi pesantren-pesantren besar seperti Tebuireng dan Tambakberas.

"Jombang itu dikenal sebagai Kota Santri, ada pesantren besar, ada kiai-kiai besar di sana. Ini kan jadi seperti tidak menghormati Jombang yang mempunyai sejarah kepesantrenan yang luar biasa. Mestinya mereka tahu dirilah dan sangat baik kalau berani minta maaf kepada warga Jombang," tambahnya.

Terkait fakta bahwa kegiatan tersebut tidak mengantongi izin dari pemerintah desa maupun kepolisian, HNW mendesak aparat keamanan untuk segera mengambil langkah tegas agar kejadian serupa tidak terulang atau menjadi contoh di daerah lain.

"Mestinya pemerintah daerah dan kepolisian segera menghentikan dan menertibkan, karena ini jelas mengganggu ketertiban umum dan kenyamanan orang berpuasa. Jangan sampai ini dibiarkan dan jadi contoh di tempat lain," katanya.

Meski mengkritik keras kejadian di Jombang, HNW menyatakan bahwa kegiatan SOTR pada dasarnya diperbolehkan asalkan tujuannya murni

untuk syiar dan dilakukan dengan cara yang etis.

"SOTR kalau tujuannya membangunkan orang sahur dengan cara yang etis, itu kan tradisi lama di kampung-kampung. Selama tidak bising, tidak mengganggu, dan tidak membuat kegaduhan, itu bagian dari semarak Ramadan. Tapi kalau pakai sound horeg, apalagi ditambah atribut (penari seksi) dan tanpa izin, itu jelas tidak sesuai tujuan puasa dan toleransi beragama," pungkasnya.

Editor: Bella

Tag:  #kecam #keras #sahur #road #jombang #pakai #sound #horeg #penari #seksi

KOMENTAR