2 IPO Lighthouse Mengintip Pasar di 2026, dari Nikel dan Infrastruktur
- Harapan pasar modal Indonesia memasuki awal 2026 kembali menguat, sejalan dengan sinyal hadirnya dua calon emiten kategori lighthouse alias berskala besar dan berkualitas tinggi.
Kedua perusahaan dikabarkan melantai di pasar modal (Initial Public Offering/IPO) pada kuartal I-2026.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, mengatakan pernyataan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai potensi kehadiran dua calon emiten kategori lighthouse yang dijadwalkan melantai melalui penawaran umum perdana saham atau IPO pada Kuartal I-2026.
“Memasuki awal tahun 2026, antusiasme pasar modal domestik kembali meningkat seiring dengan pernyataan Bursa Efek Indonesia terkait kehadiran dua calon emiten kategori lighthouse yang dijadwalkan melantai di pasar modal pada kuartal I-2026,” ujar Azharys kepada Kompas.com, Kamis (8/1/2026).
Kedua calon emiten tersebut berasal dari sektor strategis, yakni infrastruktur dan pertambangan.
Menurutnya, kehadiran perusahaan dengan skala besar dan fundamental kuat dari sektor strategis dapat memberikan suntikan likuiditas signifikan ke pasar, sekaligus memperkuat kapitalisasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Emiten kategori lighthouse umumnya juga diharapkan menjadi tolok ukur valuasi, serta meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun asing, terhadap pasar saham Tanah Air.
“Kedua perusahaan ini berasal dari sektor strategis, yakni infrastruktur dan pertambangan (mining), yang diproyeksikan akan memberikan suntikan likuiditas signifikan serta memperkuat kapitalisasi pasar IHSG,” paparnya.
Dari sektor pertambangan, perhatian investor tertuju pada Neo Energy.
Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu pemain besar di industri nikel nasional dan dinilai memiliki fondasi bisnis yang solid.
Neo Energy tercatat memiliki cadangan sumber daya nikel yang mencapai sekitar 200 juta ton dengan area pengembangan seluas 10.800 hektare (ha), menjadikannya memiliki potensi jangka panjang yang signifikan.
Skala cadangan dan luas wilayah operasi tersebut menempatkan Neo Energy sebagai kandidat emiten strategis yang relevan dengan agenda hilirisasi mineral dan pengembangan industri berbasis nikel di dalam negeri.
“Mata pasar tertuju pada Neo Energy, sebagai salah satu pemain besar di industri nikel Indonesia, perusahaan ini memiliki basis fundamental yang kuat dengan cadangan sumber daya nikel mencapai 200 juta ton dan area pengembangan seluas 10.800 Ha,” beber Azharys.
Ia mencatat rencana pengoperasian fasilitas pengolahan nikel hilir berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) pada 2029 oleh Neo Energy dipandang sebagai katalis jangka panjang yang krusial.
HPAL merupakan teknologi pengolahan lanjutan yang digunakan untuk mengekstraksi nikel dari bijih nikel kadar rendah, khususnya jenis limonit.
Teknologi tersebut menjadi bagian penting dalam strategi hilirisasi nikel karena mampu mengubah bahan mentah bernilai rendah menjadi produk bernilai tambah tinggi yang dibutuhkan industri global, terutama industri baterai kendaraan listrik.
Azharys memandang fasilitas itu mampu menangkap peluang ekspansi pasar kendaraan listrik global yang masih bertumbuh.
Meski demikian, ia mengingatkan investor tetap mencermati dinamika industri baterai global, terutama meningkatnya adopsi teknologi Lithium Ferro Phosphate (LFP) yang mulai menjadi pesaing serius bagi baterai berbasis nikel (NCM), termasuk di Indonesia.
“Namun sebagai catatan bagi investor, Neo Energy dihadapkan pada tantangan dinamika pasar baterai global, di mana dominasi teknologi Lithium Ferro Phosphate di Indonesia mulai menjadi pesaing serius bagi baterai berbasis nikel (NCM),” ucapnya.
Sementara itu, dari sektor infrastruktur, Titan Infra Sejahtera (TIS) dinilai menawarkan profil risiko yang lebih defensif.
Perusahaan afiliasi Grup Kalla ini memegang peran penting dalam rantai pasok energi, khususnya melalui penyediaan akses jalan dan layanan logistik batu bara sepanjang sekitar 118 kilometer di Sumatera Selatan.
Azharys menilai, meskipun industri batu bara bersifat siklikal dan menghadapi tantangan transisi energi, model bisnis TIS yang berbasis layanan infrastruktur logistik memberikan karakter pendapatan yang lebih stabil dan berulang (recurring income).
Hal ini membedakan TIS dari emiten produsen batu bara murni, sekaligus menjadikannya menarik bagi investor yang mengincar diversifikasi risiko dan stabilitas arus kas.
Sebagai informasi, Titan Infra sudah mengungkap rencana IPO sejak 2024 silam dengan target pelepasan saham baru sekitar 10 persen.
Azharys menekankan keberhasilan IPO perusahaan sekelas Neo Energy maupun TIS berpotensi menjadi tolok ukur baru bagi valuasi sektor pertambangan dan infrastruktur di tahun 2026.
Respons positif pasar terhadap kedua IPO tersebut dinilai dapat memicu efek berantai (multiplier effect) terhadap emiten lain di sektor sejenis, baik dari sisi minat investor maupun penilaian harga saham.
“Keberhasilan IPO perusahaan sebesar Neo Energy atau TIS akan menjadi benchmark atau tolak ukur bagi penilaian (valuasi) sektornya masing-masing di tahun 2026. Jika keduanya mendapatkan respons positif, hal ini berpotensi memicu multiplier effect terhadap emiten lain di sektor serupa,” tutur Azharys.
Tag: #lighthouse #mengintip #pasar #2026 #dari #nikel #infrastruktur