Trump Gelar Rapat Tertutup di Gedung Putih, Bahas Serangan Awal ke Iran
- Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi serangan militer skala besar terhadap Iran apabila kesepakatan diplomatik gagal tercapai.
Langkah ini disebut-sebut bertujuan untuk menggulingkan kepemimpinan Teheran dari kursi kekuasaan.
Menurut orang-orang yang diberi informasi tentang pertimbangan internal pemerintahan, dikutip dari The New York Times, Minggu (22/2/2026), Trump cenderung akan melakukan serangan awal dalam waktu dekat untuk memberikan tekanan kepada Iran.
Baca juga: Iran Mungkin Pilih Konfrontasi daripada Menyerah ke AS
Sejumlah target potensial kini masuk dalam radar pertimbangan, mulai dari markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), situs nuklir strategis, hingga fasilitas program rudal balistik.
Jika tekanan tersebut tak membuahkan hasil, Trump mengisyaratkan akan membuka peluang operasi militer penuh pada akhir tahun ini dengan target utama menggulingkan Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei.
Meski demikian, internal pemerintahan AS sendiri masih meragukan apakah tujuan ambisius tersebut bisa dicapai hanya melalui serangan udara.
Baca juga: Kapal dan Jet Tempur AS Sudah Siap, Apa Tujuan Trump Serang Iran?
Gelar pertemuan tertutup di Gedung Putih
Rencana besar ini dikabarkan telah dibahas dalam pertemuan tertutup di Ruang Situasi Gedung Putih, Rabu (18/2/2026).
Pertemuan tingkat tinggi tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat teras, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Dalam forum tersebut, Trump mendesak Jenderal Caine dan Ratcliffe untuk memaparkan pandangan mereka terkait strategi luas terhadap Iran.
Namun, kedua pejabat tersebut dilaporkan bersikap hati-hati dan tidak memberikan rekomendasi kebijakan spesifik.
Baca juga: Trump Kebingungan, Iran Tak Kunjung Menyerah meski Dikepung Militer AS
Jenderal Caine lebih fokus memaparkan kapabilitas militer dari sisi operasional. Sementara itu, Ratcliffe membedah situasi terkini di lapangan serta analisis dampak dari operasi yang diusulkan.
Berbeda dengan optimisme saat operasi penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela bulan lalu, Jenderal Caine kali ini tidak memberikan jaminan keberhasilan yang sama.
Hal ini dikarenakan Iran dinilai sebagai target yang jauh lebih kompleks dan sulit ditembus.
Di sisi lain, JD Vance tidak menyatakan penolakan. Namun, ia melontarkan serangkaian pertanyaan tajam mengenai risiko dan kerumitan pelaksanaan serangan tersebut.
Baca juga: Melihat Persiapan Iran untuk Hadapi Serangan AS...
Pertimbangan opsi militer
Kapal induk USS Abraham Lincoln (CVN 72) milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) saat mengisi bahan bakar dari kapal USNS Arctic (T-AOE 9) pada 8 Mei 2019.
Sebelumnya, AS telah mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk menempatkan tim pasukan operasi khusus di darat yang dapat melakukan serangan untuk menghancurkan fasilitas nuklir atau rudal Iran.
Ini termasuk operasi manufaktur dan pengayaan uranium yang terkubur jauh di bawah permukaan, di luar jangkauan amunisi konvensional AS.
Namun, serangan semacam itu akan sangat berbahaya, membutuhkan pasukan operasi khusus untuk berada di lapangan jauh lebih lama daripada yang dibutuhkan untuk serangan penangkapan Maduro.
Beberapa pejabat AS mengatakan, untuk saat ini, rencana serangan komando telah ditangguhkan.
Para pejabat Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara juga telah menyampaikan kekhawatiran tentang dampak yang dapat ditimbulkan oleh perang berkepanjangan dengan Iran.
Baca juga: Iran Uji Payung Pertahanan Sayyad-3G di Tengah Ancaman Serangan AS
Usulan yang diperdebatkan Iran-AS
Salah satu usulan sedang diperdebatkan oleh pemerintahan Trump dan kepemimpinan Iran.
Menurut beberapa pejabat, usulan itu berasal dari Rafael Grossi, direktur jenderal Badan Energi Atom Internasional, sebuah organisasi PBB yang memeriksa fasilitas nuklir Iran.
Berdasarkan proposal tersebut, Iran akan diizinkan untuk memproduksi sejumlah kecil bahan bakar nuklir untuk keperluan medis.
Iran telah memproduksi isotop medis selama bertahun-tahun di Reaktor Penelitian Teheran, sebuah fasilitas berusia hampir 60 tahun yang dipasok oleh AS di bawah program "Atom untuk Perdamaian".
Namun, masih jauh dari jelas apakah Iran bersedia mengecilkan program nuklir skala besar yang telah menghabiskan miliaran dollar, menjadi upaya kecil dengan cakupan yang terbatas.
Tidak jelas juga apakah Trump akan mengizinkan produksi nuklir yang terbatas pada studi pengobatan kanker dan tujuan medis lainnya, mengingat deklarasi publiknya tentang "pengayaan nol".
Tag: #trump #gelar #rapat #tertutup #gedung #putih #bahas #serangan #awal #iran