Survei: 46 Persen Gen Z Pilih Stabilitas Finansial Ketimbang Cinta
Stabilitas finansial kini menjadi pertimbangan penting dalam hubungan asmara, khususnya di kalangan Gen Z.
Survei terbaru layanan biro jodoh Tawkify menunjukkan, 46 persen Gen Z memilih stabilitas keuangan jangka panjang dibandingkan romansa.
Bahkan, hampir satu dari tiga responden Gen Z mengaku bersedia kembali dengan mantan pasangan jika mantan tersebut menjadi kaya raya.
Baca juga: Survei Ungkap, Gen Z Jadi Generasi Paling Kesepian di Kantor
Ilustrasi pasangan
Survei yang dirilis pada Juni 2025 itu melibatkan 1.000 responden warga Amerika Serikat (AS) dan menyoroti bagaimana faktor keuangan memengaruhi dinamika kencan saat ini.
“Uang sama dengan keselamatan, keamanan, dan kebebasan,” ujar Chief Client Officer sekaligus chief matchmaker Tawkify, Brie Temple, kepada The New York Post, dikutip pada Senin (23/2/2026).
Ia menambahkan, keputusan untuk kembali dengan mantan pasangan bukan semata-mata karena uang.
“Mengambil kembali mantan karena mereka menjadi kaya bukan hanya tentang rekening bank. Ini tentang apa yang dilambangkan oleh kekayaan itu: keamanan, ambisi, dan mungkin perasaan bahwa mereka telah ‘naik level’ sejak putus,” kata Temple.
Baca juga: Survei Global: Gen Z dan Milenial Terjebak Overwork, 4 dari 10 Mengaku Stres
Gen Z dan standar penghasilan pasangan
Hasil survei menunjukkan, Gen X menjadi generasi yang paling berhati-hati secara finansial. Sebanyak 52 persen responden Gen X menyatakan akan memilih uang dibandingkan cinta. Namun, Gen Z tidak terpaut jauh.
Gen Z juga memiliki ekspektasi tertentu terhadap pendapatan calon pasangan.
Ilustrasi pasangan.
Satu dari 10 perempuan Gen Z menyebut pasangan ideal mereka seharusnya berpenghasilan 200.000 dollar AS atau lebih per tahun. Dengan asumsi kurs Rp 16.806 per dollar AS, angka tersebut setara sekitar Rp 3,36 miliar per tahun.
Sebagian besar responden perempuan Gen Z juga mengaku tidak bersedia menerima pasangan dengan penghasilan di bawah 80.000 dollar AS per tahun, atau sekitar Rp 1,34 miliar per tahun.
Baca juga: Survei Deloitte: Biaya Hidup Jadi Sumber Stres Finansial Gen Z dan Milenial
Di sisi lain, generasi milenial justru dinilai paling mengedepankan romansa.
Sebanyak 59 persen responden milenial menyatakan lebih memilih hubungan yang “broke and magical” alias miskin tapi romantisdibandingkan hubungan dengan keamanan finansial.
Secara keseluruhan, sekitar 63 persen warga Amerika yang disurvei mengatakan mereka akan menikah demi cinta, meski harus menghadapi perjuangan finansial seumur hidup.
Namun, bagi sebagian responden, cinta tetap memiliki batas, termasuk batas minimum penghasilan.
Baca juga: Job Hopping Jadi Strategi Karier Milenial dan Gen Z, Bukan Sekadar Pindah Kerja
Hampir separuh Gen Z, atau 46 persen, menyatakan tidak akan berkencan dengan seseorang yang menganggur, meskipun tertarik secara personal.
Faktor ini bahkan lebih besar dibandingkan perbedaan pandangan politik sebagai alasan untuk tidak melanjutkan hubungan.
Uang sebagai simbol keamanan
Menurut Temple, perhatian terhadap kondisi finansial tidak hanya terbatas pada besaran pendapatan. Para lajang dari berbagai kelompok usia kini juga memperhatikan kebiasaan belanja, tujuan menabung, dan kecocokan finansial jangka panjang.
“Kami semakin banyak bertanya tentang bagaimana orang mengelola uang, gaya hidup seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka melihat masa depan mereka,” tutur Temple.
Ilustrasi pasangan.
Baca juga: Survei Deloitte: Gen Z dan Milenial Ambisius, tapi Tak Lagi Fokus Jadi Bos
Ia menambahkan, perbedaan pandangan tentang keuangan dapat memicu masalah di kemudian hari, meskipun dua individu memiliki kecocokan secara emosional.
“Meskipun dua orang benar-benar akur, perbedaan pandangan tentang keuangan dapat menyebabkan masalah di kemudian hari,” ujarnya.
Survei tersebut juga menemukan bahwa hampir 70 persen responden lintas generasi pernah bertahan dalam hubungan lebih lama dari yang seharusnya karena faktor keuangan bersama.
Seperempat dari mereka menyebut hubungan tersebut sudah berlangsung dalam jangka panjang.
Baca juga: Survei: Milenial dan Gen Z Stres di Tempat Kerja, Tekanan Finansial Pemicunya
Temuan ini menunjukkan, uang tidak hanya menjadi pertimbangan dalam memulai hubungan, tetapi juga dalam mempertahankannya.
Latar belakang ketidakpastian ekonomi
Terapis pernikahan dan keluarga berbasis di Long Island, Marisa Cohen, menilai pola pikir Gen Z tidak terlepas dari pengalaman mereka menghadapi ketidakstabilan ekonomi sejak usia muda.
“Tekanan untuk fokus pada keuangan mungkin terasa sangat mendesak karena ketidakpastian ekonomi yang dihadapi Generasi Z sepanjang sebagian besar hidup mereka,” kata Cohen kepada New York Post.
Ia merujuk pada dampak lanjutan krisis finansial 2008, biaya pendidikan, hingga kehilangan pekerjaan pada masa pandemi sebagai faktor yang membentuk perspektif generasi ini terhadap uang.
Baca juga: 57 Persen Gen Z Pilih Side Hustle, Tak Lagi Kejar Jabatan Tinggi
Menurut Cohen, keterikatan dalam hubungan yang sarat ketidakpastian finansial dapat berbenturan dengan tujuan pribadi.
Ilustrasi pasangan.
“Terikat dalam suatu hubungan yang penuh ketidakamanan atau ketidakpastian finansial dapat bertentangan dengan tujuan dan cita-cita pribadi mereka,” terang Cohen.
Percakapan finansial datang lebih awal
Perubahan sikap terhadap uang juga tercermin dalam waktu pembahasan soal finansial dalam hubungan.
Damona Hoffman, pelatih kencan bersertifikat sekaligus penulis buku F the Fairy Tale: Rewrite the Dating Myths and Live Your Own Love Story, mengatakan percakapan tentang uang kini terjadi lebih awal dalam proses kencan.
Baca juga: Conscious unbossing dan Krisis Regenerasi: Saat Gen Z Menolak Jadi Bos
“Para pencari jodoh takut menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki riwayat kredit buruk atau utang yang tidak terkendali,” ujar Hoffman.
Ia menambahkan, tampilan luar yang tampak mapan belum tentu mencerminkan kondisi keuangan sebenarnya.
“Anda bisa memiliki mobil mewah, apartemen bagus, dan membayar kencan Anda dengan kartu kredit, tetapi tetap terbebani hutang berbunga tinggi,” kata Hoffman.
Menurutnya, kekhawatiran terhadap kredit buruk atau utang berbunga tinggi menjadi salah satu faktor yang membuat calon pasangan lebih berhati-hati.
Baca juga: Tren Keuangan Gen Z dan Milenial: Dari Belanja Impulsif hingga Investasi
Antara realisme dan romantisme
Meski cenderung realistis, Gen Z tidak sepenuhnya menyingkirkan romansa. Survei menunjukkan, 54 persen Gen Z masih memilih hubungan yang miskin tapi romantis dibandingkan hubungan yang kaya tetapi tanpa kehidupan emosional.
Temple menilai sikap ini mencerminkan pendekatan yang lebih sadar terhadap hubungan.
“Generasi Z berkencan dengan mata terbuka lebar,” terang dia.
Ia menambahkan, generasi ini tetap menginginkan cinta, tetapi dalam kerangka kehidupan yang terasa aman dan seimbang.
Baca juga: Belajar dari Warren Buffett: 5 Pelajaran Uang yang Relevan untuk Gen Z
“Mereka masih menginginkan cinta, tetapi hanya jika cinta itu sesuai dengan kehidupan yang terasa aman, seimbang, dan sesuai dengan jati diri mereka,” ucap Temple.
Data survei Tawkify tersebut menggambarkan pergeseran prioritas dalam lanskap kencan modern, di mana stabilitas keuangan menjadi salah satu variabel utama dalam membangun dan mempertahankan hubungan.
Tag: #survei #persen #pilih #stabilitas #finansial #ketimbang #cinta