Target IHSG Tembus 10.000, Ambisius Atau Realistis?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 2026 diproyeksikan akan menyentuh level 10.000.
Target ini dipandang ambisius, tetapi tak sedikit pihak yang melihat angka tersebut dapat dicapai.
Optimisme tersebut datang dari Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai pergerakan IHSG ke depan akan semakin menguat, seiring membaiknya kondisi ekonomi nasional dan sinkronisasi kebijakan fiskal serta moneter.
Dengan perbaikan koordinasi kebijakan yang tengah dilakukan, ia optimistis laju IHSG akan bergerak lebih cepat.
Purbaya memprediksi target IHSG menembus level 10.000 pada 2026 depan sangat mungkin tercapai.
“(IHSG) 10.000 tahun depan? Oh lebih lah. Lebih kalau tahun depan ya,” ujar Purbaya dalam Media Briefing di Kementerian Keuangan, Rabu (31/12/2025).
Dia menyebut, jika dilihat dari prospek ekonomi yang membaik dan kebijakan yang semakin selaras, peluang IHSG melampaui angka tersebut pada akhir 2026 cukup besar.
Purbaya menerangkan, secara desain kebijakan, IHSG seharusnya sudah berada di level yang lebih tinggi saat ini.
Namun, menurut dia, ketidaksinkronan kebijakan di periode sebelumnya membuat kinerja pasar saham belum sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi.
"Harusnya kalau kemarin desainnya sesuai dengan desain saya, sekarang sudah. 9.000. Tapi kan sudah itu sedikit, ke depan dengan kebijakan semakin sinkron dan ekonominya semakin bagus, harusnya IHSG akan naik lebih cepat," ujar mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tersebut.
Ilustrasi IHSG
Sebagai informasi, IHSG belum mampu menembus level psikologis 9.000 hingga penutupan perdagangan Selasa (30/12/2025).
Sejumlah faktor, mulai dari penipisan likuiditas musiman, melemahnya saham-saham berkapitalisasi besar (big caps), hingga belum kuatnya dukungan fundamental emiten, dinilai menjadi penyebab utama tertahannya laju penguatan indeks.
Sebelumnya, Purbaya memperkirakan pergerakan IHSG ke posisi 9.000 pada Desember 2025.
Bahkan, ia memprediksi IHSG bisa bergerak menguat di kisaran 32.000 dalam waktu sepuluh tahun mendatang.
Target IHSG 10.000 ambisius, tapi realistis
Analis sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, dalam konteks jangka menengah hingga panjang, proyeksi IHSG menembus level 10.000 pada akhir 2026 memang terkesan ambisius.
Namun demikian, target tersebut masih berada dalam koridor realistis jika dikaitkan dengan fondasi pasar modal Indonesia saat ini.
Perlu dicatat, sepanjang 2025, IHSG mencetak rekor tertinggi baru dengan kapitalisasi pasar yang telah menembus kisaran Rp 16.000 triliun, didukung oleh pertumbuhan investor domestik yang konsisten, likuiditas pasar yang terjaga, serta ketahanan indeks di tengah tekanan global.
Awal 2026 pun dibuka dengan sentimen positif, tercermin dari penguatan IHSG lebih dari 1 persen pada hari perdagangan pertama dengan nilai transaksi yang besar, menandakan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional masih cukup solid.
"Untuk mencapai level psikologis 10.000, penguatan IHSG tetap membutuhkan dukungan fundamental yang berkelanjutan," ungkap dia dalam keterangan resmi, Senin (5/12/2025).
Ilustrasi IHSG.
Untuk mencapai hal tersebut, pertumbuhan laba emiten, terutama saham-saham berkapitalisasi besar, menjadi motor utama indeks.
Selain itu, peluang kembalinya arus modal asing seiring meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga global, stabilitas inflasi, nilai tukar rupiah yang terkendali, serta keberlanjutan initial public offering (IPO) berkualitas akan memperkuat struktur pasar modal secara jangka panjang.
Pergerakan IHSG di awal 2026 konstruktif
Hendra melihat, pergerakan IHSG mengawali tahun 2026 dengan sentimen yang relatif konstruktif, meskipun dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik global.
"Secara teknikal, IHSG masih berada dalam tren naik yang sehat dan memiliki peluang untuk kembali menguji level all time high di kisaran 8.777," kata dia.
Namun demikian, Hendra menambahkan, memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Venezuela berpotensi meningkatkan aversi risiko investor global dalam jangka pendek.
Kondisi ini membuat IHSG pada awal pekan, berpeluang bergerak melemah terbatas untuk menguji area support di kisaran 8.642 hingga 8.672.
Area tersebut menjadi level krusial untuk mengukur kekuatan pasar, sementara resistance terdekat tetap berada di level puncak historis 8.777.
Adapun hingga Senin (5/1/2026) pukul 15.07 WIB, IHSG berada di level 8.820,78 atau naik 0,83 persen setara 72,65 poin dibandingkan pembukaannya hari ini.
IHSG bahkan sempat menyentuh level tertinggi intraday di titik 8.840,66 pada sesi perdagangan kedua hari ini.
Sentimen global masih jadi faktor dominan pasar keuangan
Ilustrasi saham.
Lebih lanjut, Hendra menyebutkan, sentimen global kembali menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan pada awal 2026, khususnya setelah memanasnya hubungan AS dan Venezuela.
Isu penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh otoritas AS meningkatkan ketegangan geopolitik dan langsung berdampak pada persepsi risiko global.
Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sehingga setiap eskalasi konflik berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.
Kondisi ini mendorong harga minyak bergerak volatil dan cenderung menguat dalam jangka pendek. Di satu sisi, hal ini menjadi sentimen positif bagi saham-saham energi dan komoditas.
Namun di sisi lain meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan ketidakpastian global, sehingga mendorong sikap wait and see, khususnya dari investor asing.
Selain faktor Venezuela, pergerakan IHSG pada pekan ini juga dipengaruhi oleh ekspektasi arah kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, serta dinamika arus dana asing di pasar emerging markets.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati kesinambungan kebijakan ekonomi pemerintah yang pro-pasar, stabilitas makroekonomi, serta realisasi kinerja awal tahun emiten-emiten berkapitalisasi besar.
"Kombinasi sentimen global dan domestik ini membuat pergerakan IHSG cenderung fluktuatif, namun masih berada dalam fase konsolidasi yang sehat selama support utama mampu dipertahankan," ungkap dia.
Secara keseluruhan, meskipun ketegangan global akibat konflik AS–Venezuela berpotensi menekan IHSG dalam jangka sangat pendek, struktur pasar domestik yang semakin matang dan prospek pertumbuhan laba emiten membuat outlook IHSG tetap konstruktif.
"Selama area support 8.642–8.672 mampu bertahan, peluang IHSG untuk kembali menguji level tertinggi sepanjang masa di 8.777 tetap terbuka," ungkap Hendra.
Ilustrasi saham.Laju IHSG awal tahun 2026 masih terpengaruh Santa Claus rally
Minat investor pasar modal di periode pergantian tahun awal tahun masih meningkat. IHSG mencatatkan penguatan solid sepanjang periode 29 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.
Meski hanya berlangsung dalam tiga hari perdagangan, IHSG berhasil naik ke level 8.748,13, seiring meningkatnya minat beli investor di awal tahun.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, menjelaskan penguatan IHSG didorong oleh aksi akumulasi investor asing yang mencatatkan net buy sebesar Rp 1,3 triliun di pasar reguler.
Dari sisi sentimen, Hari menuturkan pergerakan positif IHSG tidak lepas dari lanjutan Santa Claus Rally di akhir Desember 2025, serta mulai berjalannya January Effect sejak 2 Januari 2026.
"Kedua faktor tersebut mendorong peningkatan risk appetite pasar dan menjaga momentum bullish IHSG di awal tahun," tutur dia.
Menurut dia, pada sepekan perdagangan 5 sampai 9 Januari tahun ini, pasar saham global, khususnya Wall Street, masih berpeluang melanjutkan penguatan.
Optimisme tersebut didukung oleh kinerja solid sepanjang 2025, dengan sektor teknologi tetap menjadi motor utama.
Hal ini tercermin dari kenaikan indeks S&P 500 lebih dari 16 persen, Nasdaq di atas 20 persen, dan Dow Jones sekitar 13 persen sepanjang tahun lalu.
“Ke depan, reli diperkirakan akan lebih seimbang dengan potensi rotasi ke sektor non-teknologi, termasuk bank regional. Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Venezuela, termasuk kabar serangan militer, berpotensi memengaruhi harga komoditas global, khususnya minyak, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan,” ujar Hari lewat keterangan pers, Senin (5/1/2026).
Ilustrasi: Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (1/7/2018). Laju perusahaan teknologi berbasis AI dinanti investor
Adapun pada 2026, sejumlah investor masih mempertanyakan apakah sentimen yang dibawa oleh perusahaan teknologi masih akan berlanjut tahun ini.
Riset Philip Sekuritas Indonesia menjelaskan, pertanyaan terbesar bagi para investor saham di tahun 2026 adalah apakah perusahaan teknologi besar dapat mempertahankan relo bertema kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang telah menggelembungkan belanja modal atau capex dan valuasi perusahaan di sektor teknologi.
Dalam hal ini, investor akan menantikan agenda Consumer Electronics Show di Las Vegas yang akan dimulai pada 6 Januari 2026.
Acara tersebut akan menampilkan CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO AMD Lisa Su. Kecerdasan buatan akan menjadi fokus utama dalam pameran dagang tersebut.
Tag: #target #ihsg #tembus #10000 #ambisius #atau #realistis