Dianggap Wajar, 5 Kebiasaan Ini Justru Menggerus Kekayaan
Ilustrasi kekayaan. Konsultan keuangan Dave Ramsey menilai kehancuran kekayaan bukan berasal dari krisis besar, melainkan dari kebiasaan finansial yang dianggap wajar dalam kehidupan sehari-hari.()
14:56
5 Januari 2026

Dianggap Wajar, 5 Kebiasaan Ini Justru Menggerus Kekayaan

– Banyak orang mengira kegagalan membangun kekayaan disebabkan oleh investasi yang salah, gaji yang kurang besar, atau kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Namun, menurut pakar keuangan asal Amerika Serikat (AS), Dave Ramsey, penyebab utamanya justru berasal dari kebiasaan sehari-hari yang selama ini dianggap normal.

Ramsey, yang dikenal luas melalui program edukasi keuangan dan pengalamannya membimbing jutaan keluarga kelas menengah, menilai budaya konsumtif modern telah menormalisasi perilaku yang secara perlahan menghancurkan kekayaan.

Utang, cicilan, dan gaya hidup berbasis pengakuan sosial menjadi jebakan yang jarang disadari dampaknya dalam jangka panjang.

Selama puluhan tahun pengamatannya, Ramsey menyimpulkan bahwa kehancuran kekayaan jarang terjadi akibat kegagalan finansial besar. Sebaliknya, keputusan-keputusan kecil yang tampak masuk akal di awal justru menumpuk menjadi kerugian ekonomi yang signifikan.

Dikutip dari New Trader U, Senin (5/1/2026), berikut lima kesalahan yang diam-diam menggerus kekayaan kelas menengah, menurut Dave Ramsey.

1. Hidup dengan atau Menumpuk Utang

Ajaran paling mendasar dari Dave Ramsey adalah penolakannya terhadap utang. Menurutnya, utang menghancurkan kekayaan karena mengalihkan pendapatan dari pembentukan aset ke pembayaran konsumsi masa lalu.

Ramsey menegaskan bahwa bunga majemuk pada utang bekerja melawan pemiliknya, berbeda dengan bunga investasi yang justru memperbesar nilai aset.

Saldo kartu kredit, cicilan kendaraan, pinjaman pendidikan, hingga pinjaman pribadi membuat setiap rupiah bunga menjadi biaya peluang yang hilang.

Dalam jangka panjang, dana yang seharusnya bisa diinvestasikan justru habis untuk membayar bunga, menciptakan kesenjangan besar dalam nilai kekayaan bersih.

Ramsey juga menyoroti perbedaan perilaku antara orang kaya dan kelas menengah. Kelompok kaya cenderung menghindari cicilan dan menggunakan pendapatan untuk membeli aset.

Sebaliknya, kelas menengah menggunakan pendapatan untuk membayar utang. Perbedaan ini membuat arah keuangan keduanya semakin menjauh seiring waktu.

2. Terjebak Kondisi House Poor

Kesalahan berikutnya adalah terjebak kondisi house poor, yakni ketika kepemilikan rumah yang seharusnya menjadi aset justru berubah menjadi beban keuangan. Dave Ramsey menilai jebakan ini berbahaya karena kerap disalahartikan sebagai tanda keberhasilan finansial.

Seseorang disebut house poor ketika total biaya hunian menyerap porsi terlalu besar dari pendapatan bulanan. Biaya tersebut tidak hanya mencakup cicilan pokok dan bunga, tetapi juga pajak properti, asuransi, iuran HOA, hingga asuransi kredit pemilikan rumah.

Untuk menghindari kondisi tersebut, Ramsey menetapkan aturan 25 persen. Artinya, total pengeluaran rumah sebaiknya tidak melebihi 25 persen dari pendapatan bersih bulanan.

Batas ini penting agar tetap tersedia ruang finansial untuk menabung, mempersiapkan dana pensiun, serta menghadapi kebutuhan tak terduga.

Gejala house poor biasanya terlihat ketika perbaikan kecil saja memicu kecemasan, target tabungan pensiun sulit tercapai, atau pengeluaran sederhana seperti makan di luar dan berlibur terasa memberatkan.

3. Belanja untuk Mengesankan Orang Lain

Ramsey menilai keinginan untuk terlihat sukses di mata orang lain sebagai salah satu perusak kekayaan paling kompleks. Pola ini mendorong seseorang menggunakan konsumsi sebagai simbol status, bukan sebagai alat memenuhi kebutuhan.

Ia menyatakan, “Kita membeli barang yang tidak kita butuhkan dengan uang yang tidak kita miliki untuk mengesankan orang-orang yang tidak kita sukai.” Menurut Ramsey, banyak orang yang tampak kaya sebenarnya berada dalam tekanan finansial.

Media sosial memperkuat jebakan ini. Banyak orang membandingkan kehidupan nyata mereka dengan potongan terbaik kehidupan orang lain. Mobil baru, barang bermerek, dan pengalaman mewah akhirnya dibeli bukan karena mampu, melainkan demi pengakuan sosial.

Masalahnya, dana yang digunakan untuk simbol status tersebut seharusnya bisa diinvestasikan. Kerugiannya bukan hanya pada nilai barang yang menyusut, tetapi juga pada potensi pertumbuhan dana dalam jangka panjang.

4. Berinvestasi pada Hal yang Tidak Dipahami

Ramsey menegaskan pentingnya kesederhanaan dalam berinvestasi. Aturannya jelas: jika sebuah investasi tidak bisa dijelaskan kepada anak kelas enam, maka investasi tersebut sebaiknya dihindari.

Produk keuangan yang kompleks kerap menggunakan istilah teknis dan struktur rumit untuk menutupi kinerja yang tidak menguntungkan. Beberapa di antaranya adalah asuransi jiwa seumur hidup, jenis anuitas tertentu, timeshare, dan investasi spekulatif.

Menurut Ramsey, kompleksitas bukanlah nilai tambah, melainkan tirai yang menutupi biaya tinggi dan ketentuan yang merugikan. Dalam jangka panjang, biaya-biaya ini justru mengalihkan kekayaan investor kepada perantara keuangan.

5. Cicilan dan Sewa Kendaraan

Ramsey secara khusus mengkritik cicilan kendaraan dan menyebut sewa mobil sebagai “fleeces”. Dengan rata-rata cicilan mobil baru yang melebihi 700 dollar AS per bulan, pos ini menjadi salah satu penggerus terbesar keuangan kelas menengah.

Mobil mengalami depresiasi cepat, sementara pinjaman mengenakan bunga. Kombinasi ini menciptakan dampak ganda terhadap penurunan kekayaan bersih.

Selain itu, dana cicilan bulanan mengurangi kemampuan seseorang untuk menabung dan berinvestasi.

Ramsey menantang cara umum menilai kemampuan membeli mobil. Menurutnya, kendaraan benar-benar terjangkau ketika dapat dibayar tunai, bukan sekadar mampu dicicil.

Pola cicilan berulang membuat banyak orang terus membayar aset yang nilainya menurun, tanpa pernah membangun kekayaan.

Tag:  #dianggap #wajar #kebiasaan #justru #menggerus #kekayaan

KOMENTAR