Beban Utang Kian Berat, Pemerintah Perlu Evaluasi Proyek Mercusuar
Ilustrasi bunga utang(SHUTTERSTOCK/BILLION PHOTOS)
13:04
30 Desember 2025

Beban Utang Kian Berat, Pemerintah Perlu Evaluasi Proyek Mercusuar

– Pakar ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Lukman Hakim, menilai beban utang Indonesia semakin berat jika dilihat dari berbagai rasio utang, meskipun secara nominal masih berada dalam batas aman.

Menurut Lukman, indikator seperti debt service ratio dan debt income ratio menunjukkan tren peningkatan, yang menandakan kewajiban utang semakin menekan kemampuan fiskal negara. Kondisi ini otomatis mendorong lonjakan pembayaran bunga utang.

“Kalau dilihat dari rasio utang seperti debt service ratio dan debt income ratio, itu semakin meningkat. Ini menandakan utang makin berat bagi Indonesia, dan otomatis pembayaran bunganya juga makin tinggi,” ujar Lukman saat dihubungi Kompas.com Selasa (30/12/2025).

Meski demikian, Lukman menilai posisi fiskal Indonesia masih relatif aman karena rasio defisit anggaran dijaga di bawah 3 persen, sebagaimana tertuang dalam Rancangan APBN (RAPBN).

Namun, ia mengingatkan tekanan akan semakin terasa di tengah tren suku bunga yang tinggi.

“Dengan semakin tingginya suku bunga, ruang fiskal pemerintah menjadi makin sempit. Karena itu, pemerintah perlu lebih kreatif dalam mencari dan meningkatkan sumber-sumber pendapatan negara lainnya,” jelasnya.

Lukman menilai, salah satu langkah paling mendesak yang perlu dilakukan pemerintah adalah mengevaluasi proyek-proyek yang dinilai tidak efisien.

Ia menyoroti proyek infrastruktur berskala besar yang bersifat mercusuar, seperti pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Menurut dia, alokasi anggaran seharusnya lebih diarahkan pada program-program yang mampu mendorong investasi produktif dan memberikan dampak ekonomi berantai yang kuat.

“Lebih baik fokus pada program yang menumbuhkan kembali sektor pertanian dan industri, karena sektor-sektor ini punya linkages yang kuat, baik ke depan maupun ke belakang,” kata Lukman.

Ia menegaskan, penguatan sektor-sektor produktif tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan negara dalam jangka menengah-panjang, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional di tengah tekanan fiskal yang kian besar.

Penilaian Bank Dunia

Sebagai catatan, Bank Dunia menilai pembayaran bunga utang Indonesia masih menyerap porsi besar pendapatan negara. Kondisi ini terjadi meski pembiayaan tergolong longgar dan biaya pinjaman berhasil ditekan.

Penilaian tersebut tercantum dalam laporan Bank Dunia berjudul Fondasi Digital untuk Pertumbuhan edisi Desember 2025.

Laporan itu mencatat rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan mencapai 20,5 persen hingga Oktober 2025. Defisit naik dari 1,4 persen PDB pada Oktober 2024 menjadi 2,0 persen PDB pada Oktober 2025.

Tag:  #beban #utang #kian #berat #pemerintah #perlu #evaluasi #proyek #mercusuar

KOMENTAR