Ekonomi AS Tumbuh Kuat, tapi Konsumen Mulai Lebih Berhati-hati
Data awal produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat (AS) pada kuartal ketiga menunjukkan percepatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.
Dikutip dari CNN, Kamis (24/12/2025), Departemen Perdagangan AS melaporkan ekonomi Negeri Paman Sam tumbuh pada tingkat tahunan yang disesuaikan dengan inflasi sebesar 4,3 persen pada kuartal III 2025.
Angka pertumbuhan ekonomi AS tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 3,8 persen pada kuartal II 2025.
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.
Capaian tersebut menjadi laju pertumbuhan tercepat dalam dua tahun terakhir dan menegaskan bahwa aktivitas ekonomi AS masih bergerak ekspansif di tengah ketidakpastian global dan dinamika kebijakan perdagangan.
Percepatan ini terutama ditopang oleh penguatan pengeluaran atau belanja konsumen dan ekspor.
Pengeluaran konsumen tercatat tumbuh 3,5 persen pada kuartal III 2025, meningkat dari 2,5 persen pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, ekspor melonjak 8,8 persen setelah sempat terkontraksi 1,8 persen pada kuartal II 2025.
Selain itu, belanja pemerintah federal juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan PDB AS.
Peningkatan belanja tersebut mencerminkan lonjakan pengeluaran pertahanan serta implementasi program pembelian kembali alias buyback saham untuk pekerja federal.
Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menata struktur pengeluaran negara dalam jangka panjang.
Laporan PDB kuartal IV 2025 yang akan dirilis pada bulan depan diperkirakan akan menunjukkan tekanan.
Gedung Capitol Amerika Serikat saat diguyur hujan pada hari kedelapan government shutdown, di Washington DC, 8 Oktober 2025.
Salah satu faktor yang diperkirakan memengaruhi kinerja ekonomi adalah penurunan belanja federal akibat penutupan alias shutdown pemerintah AS selama 43 hari.
Menanggapi rilis data PDB tersebut, Presiden AS Donald Trump menyatakan, pertumbuhan ekonomi yang kuat tersebut merupakan dampak langsung dari kebijakan tarif besar-besaran yang ia terapkan dan tingkatkan secara signifikan selama kuartal III 2025.
“TARIF bertanggung jawab atas Angka Ekonomi AS yang HEBAT yang BARU SAJA DIUMUMKAN…DAN AKAN SEMAKIN BAIK!” tulis Trump di platform media sosialnya.
“Juga, TIDAK ADA INFLASI & KEAMANAN NASIONAL YANG HEBAT. Berdoalah untuk Mahkamah Agung AS!!!” imbuh Trump.
Pernyataan tersebut muncul di tengah proses hukum yang masih berjalan di Mahkamah Agung Amerika Serikat, yang berpotensi membatalkan sebagian besar tarif yang telah diberlakukan.
Jika hal itu terjadi, pembatalan tarif tersebut dapat memicu pengembalian dana dalam jumlah besar kepada para importir.
Di sisi kebijakan moneter, laporan PDB kuartal III 2025 ini juga berimplikasi terhadap arah suku bunga acuan.
Meski Trump kerap mendorong bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) untuk menurunkan suku bunga guna mendorong perekonomian, data pertumbuhan yang solid dinilai memberi bank sentral alasan yang lebih terbatas untuk memangkas suku bunga dalam rapat kebijakan berikutnya yang dijadwalkan berlangsung bulan depan.
Gambaran ekonomi yang beragam
Laporan PDB kerap dipandang sebagai potret menyeluruh kondisi perekonomian.
IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia 2025 akan tumbuh di bawah 5 persen. Sementara per kuartal II-2025, BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi RI 5,12 persen.
Dari sudut pandang makro tersebut, ekonomi AS terlihat berada di jalur yang relatif kokoh. Namun, jika ditelaah lebih mendalam, gambaran yang muncul tidak sepenuhnya positif.
Pertumbuhan pengeluaran konsumen dinilai masih didorong terutama oleh kelompok rumah tangga berpenghasilan tinggi.
Sebaliknya, konsumen berpenghasilan rendah dan menengah cenderung bersikap lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka.
Para ekonom menyebut kondisi ini sebagai ekonomi “berbentuk K”, di mana pemulihan dan pertumbuhan tidak terjadi secara merata di seluruh lapisan masyarakat.
“Ekonomi berbentuk K sedang kita hadapi,” kata James Knightley, kepala ekonom internasional di ING, dalam catatannya setelah rilis laporan PDB.
Menurut Knightley, pertumbuhan ekonomi terkonsentrasi di antara rumah tangga berpenghasilan tinggi dan investasi yang dipimpin teknologi, sementara kepercayaan konsumen secara luas tetap berada di bawah tekanan.
Indikasi melemahnya sentimen masyarakat juga tercermin dalam laporan kepercayaan konsumen.
Kurang dari dua jam setelah data PDB AS dirilis, Conference Board melaporkan bahwa indeks keyakinan konsumen turun 3,8 poin dibandingkan November 2025.
Angka keyakinan konsumen pada Desember 2025 tercatat sebesar 89,1, menjadi level terendah sejak April 2025, saat Trump pertama kali memperkenalkan kebijakan tarif impor yang ia sebut sebagai tarif “Hari Pembebasan”.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa pandangan konsumen terhadap kondisi keuangan keluarga mereka saat ini turun ke wilayah negatif untuk pertama kalinya dalam hampir empat tahun.
Kekhawatiran tidak hanya muncul di satu kelompok pendapatan, tetapi merata di seluruh lapisan.
Konsumen di semua tingkat pendapatan melaporkan meningkatnya kecemasan terhadap kondisi pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran terbaru tercatat berada di level tertinggi dalam empat tahun.
Sejalan dengan itu, proporsi responden yang menilai lapangan kerja masih melimpah turun ke titik terendah dalam periode yang sama.
Tekanan terhadap kepercayaan juga mulai terasa di kalangan pelaku usaha.
Untuk pertama kalinya sejak September 2024, dunia usaha melaporkan pandangan negatif bersih terhadap kondisi perekonomian, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian di tengah pertumbuhan ekonomi yang secara agregat masih terlihat kuat.
Tag: #ekonomi #tumbuh #kuat #tapi #konsumen #mulai #lebih #berhati #hati