Harga Minyak Diprediksi Turun pada 2026 Karena Pasokan Berlebih
- Analis komoditas di bank-bank investasi besar Wall Street memprediksi tahun 2026 dan 2027 akan sulit bagi industri minyak. Hal ini terjadi setelah harga minyak turun hampir 20 persen sepanjang 2025.
Dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (29/11/2025), ketua tim analis komoditas dari JPMorgan, Natasha Kaneva, memperkirakan harga minyak mentah Brent akan turun ke 58 dollar AS per barel pada 2026.
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan diperdagangkan sekitar 4 dollar AS lebih rendah. Pada 2027, harga minyak diperkirakan turun lagi satu dollar AS per barel.
“Meski permintaan kuat, pasokan terlalu berlebihan. Pesan ini konsisten sejak Juni 2023,” tulis para analis JPMorgan.
Sementara itu, analis Goldman Sachs, Daan Struyven, memproyeksikan harga minyak mentah Brent dan WTI pada 2026 sekitar 56 dollar AS dan 52 dollar AS per barel.
Namun, harga minyak diperkirakan naik kembali pada 2028 menjadi 80 dollar AS untuk Brent dan 76 dollar AS untuk WTI, jika pasokan berlebih tidak terus berlanjut.
“Kami perkirakan harga minyak naik pada 2027 saat pasar mulai seimbang dan investasi kembali diminati karena cadangan minyak menipis serta produksi shale AS mulai menurun,” kata analis Goldman Sachs.
Kelebihan pasokan tetap menjadi isu utama hingga 2025 dan diperkirakan berlanjut tahun depan. Permintaan lebih kuat dari perkiraan, tetapi pasokan global terus bertambah.
Sejak April, OPEC+ mencabut pengurangan produksi secara bertahap dan meningkatkan output lebih dari 2 juta barel per hari. Produsen shale AS diperkirakan mencapai produksi tertinggi pada Desember, menurut data Energy Information Administration.
Pada semester pertama 2025, China menimbun minyak jutaan barel per hari untuk menyerap kelebihan pasokan dan mendukung harga.
Permintaan dari Timur Tengah stabil, dan penyuling India menambah pembelian minyak Urals dari Rusia, menurut analis yang diwawancara Yahoo Finance.
Saat ini, lebih dari 1 miliar barel minyak tersimpan di kapal tanker di laut, jumlah tertinggi sejak 2023. International Energy Agency memperkirakan kelebihan pasokan 4 juta barel per hari pada 2026.
Sementara itu, Bank Australia Macquarie memperkirakan harga minyak turun pada 2026 karena kelebihan pasokan. Mereka menargetkan harga Brent 60,75 dollar AS dan WTI 56,63 dollar AS per barel.
Ketiga bank besar tersebut sepakat pasar akan terpaksa mengurangi produksi karena harga rendah akan memukul pasokan non-OPEC dan investasi proyek baru hampir tidak ada setelah 15 tahun minim investasi.
Produsen negara seperti Saudi Aramco dan Abu Dhabi National Oil Company juga perlu menjaga keuntungan. Faktor geopolitik seperti perang Ukraina juga menambah ketidakpastian.
JPMorgan memperingatkan jika tidak ada langkah stabilisasi, harga Brent bisa turun ke level 30-an dollar AS per barel pada 2027. Level ini belum pernah terlihat sejak krisis minyak awal pandemi COVID-19 2020.
Harga tersebut mendekati titik impas produksi minyak AS yang sekitar 51 dollar AS untuk Brent dan 43 dollar AS untuk WTI per barel.
Meski demikian, JPMorgan dan Goldman Sachs yakin industri minyak akan membatasi pasokan jauh sebelum harga mencapai titik terendah itu.
“Kesenjangan pasar sebesar ini kemungkinan tidak akan terjadi sepenuhnya. Pasar akan menemukan keseimbangan lewat naiknya permintaan karena harga rendah dan kombinasi pengurangan produksi sukarela dan tidak sukarela,” kata analis JPMorgan.
Tag: #harga #minyak #diprediksi #turun #pada #2026 #karena #pasokan #berlebih