WNA Selandia Baru Ngamuk di Gili Trawangan, Tak Suka Suara Tadarus dari Toa
Seorang Warga Negara Asing (WNA) belum lama ini viral di jagad maya karena mengamuk di mushala di kawasan Gili Trawangan, Lombok Utara pada Kamis (19/2/2026) malam.
Diketahui, WNA asal Selandia Baru tersebut mengamuk lantaran tidak suka dengan suara tadarus yang terdengar dari toa mushala.
Pada saat kejadian, ia mencabut kabel mikrofon, merusaknya, dan melukai warga yang tengah tadarus di mushala.
Baca juga: 2 WNA China Diduga Curi Uang Penumpang dalam Pesawat Citilink, Diamankan Imigrasi Surabaya
Terbaru, Kapolda NTB, Irjen Polisi Edy Murbowo mengatakan saat ini WNA tersebut sudah diamankan.
"Jadi itu sudah dilakukan edukasi, Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanto juga saya minta untuk berkoordinasi dengan para pengelola hotel, resort dan lainnya, untuk mementingkan informasi edukasi pada para tamu di Trawangan, " kata Edy, dikutip dari Kompas.com (21/2/2026).
Baca juga: Imigrasi Amankan 170 WNA Bermasalah dalam Operasi Wira Waspada di Jadetabek
Apa yang sebenarnya terjadi?
Mulanya, pada Kamis (19/2/2026) malam seorang WNA mengamuk karena tidak suka dan merasa terganggu dengan suara tadarus dari toa mushala di kawasan wisata Gili Trawangan.
WNA tersebut masuk ke dalam mushala dan mencabut kabel mikrofon, merusaknya, dan melukai warga yang tengah mengaji.
Kejadian itu memicu kemarahan warga setempat dan mendesak WNA tersebut keluar dari tempat ibadah. Namun WNA asal New Zealand itu melawan dengan mencakar salah seorang warga hingga terluka.
Setelah itu, WNA tersebut terus berteriak memaki warga dengan keras. Namun, para warga terlihat menghindari tindakan fisik pada perempuan New Zealand tersebut.
Baca juga: WNA Coba Masuk RI Pakai Paspor Palsu, Ternyata Bukan Kasus Pertama
Kepala Dusun Gili Trawangan Muhammad Husni, membenarkan kejadian di wilayahnya. Saat dikonfirmasi, Husni menjelaskan bahwa peristiwa intoleransi itu terjadi sekitar pukul 23.30 Wita di mushala warga.
"Saat warga tengah Tadarus di dalam mushala, tiba-tiba WNA ini masuk dan marah-marah langsung mencabut kabel mikrofon warga, tindakan tidak sopannya spontan membuat warga emosi," ujar Husni, Jumat (20/2/2026).
Baca juga: Kasus Paspor Palsu Terungkap, Pemerintah Beri Peringatan ke WNA
Cakar dan ancam warga dengam parang
Kata Husni, warga berusaha menjelaskan kepada WNA tersebut, namun tidak dihiraukannya. WNA itu justru balik menyerang dan melukai warga dengan mencakar.
"Untungnya warga kami tidak terpancing, terus menjelaskan meskipun ada yang emosi tetapi tidak ada tindakan membalas dengan kekerasan fisik," ujar Husni.
Husni mengatakan, dia mendapat laporan kejadian sekitar pukul 23.30 Wita. Dia pun menjelaskan bahwa itu waktu yang masih diperbolehkan warga menggunakan speaker atas atau toa untuk tadarus.
Baca juga: Kronologi 2 WNA China Diamankan Usai Viral Video Dugaan Suap Petugas Imigrasi
Dalam aturan selama bulan puasa di Gili Trawangan, setelah pukul 24.00 Wita, warga harus menggunakan speaker bawah atau dalam.
Husni menyebut, aturan itu juga berlaku pada kafe yang menggelar acara selama bulan puasa.
Husni mengatakan, WNA asal New Zealand tersebut sudah lama menetap di Gili Trawangan bersama orangtuanya.
Mereka memiliki villa tetapi tidak suka mendengar tadarusan warga di mushala, sehingga terjadi insiden tersebut.
Baca juga: WNA Pemilik Tanah 1,1 Hektar di Bali Dilarang Masuk Indonesia
Lebih lanjut disampaikan, warga berusaha melerai guna menghindari pertengkaran meluas. Tetapi, yang bersangkutan disebut tetap melawan.
"Saat didesak menjauh di tengah jalan, tiba-tiba WNA ini menyerang dan melukai warga, bahkan merebut handphone warga dan masuk dalam villanya (Villa Ottalia). Saat warga mau mengambil handphone-nya, WNA ini justru melawan mengunakan parang," kata Husni.
Kejadian malam itu tidak hanya melibatkan warga, tetapi juga aparat Kepolisian. WNA tersebut juga mengejar aparat dengan parang.
Terkait hal itu, Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta yang dikonfirmasi, membenarkan kejadian tersebut, dan mengatakan pihaknya masih terus memonitor pasca-kejadian.
"Masih kita monitor dan kita pantau yang bersangkutan untuk menjaga Kamtibmas tetap kondusif, " kata Agus Purwanta.
Pelaku sudah diamankan
Menambahkan dari Kompas.com (21/2/2026), Kapolda NTB mengatakan, saat ini WNA asal Selandia Baru tersebut sudah diamankan.
Aparat kepolisian dan aparat desa di wilayah mereka harus menjelaskan, bahwa di Lombok ada tradisi atau kebiasaan warga setempat dalam menjalankan ibadah bulan Ramadhan.
Seperti ada tadarus Alquran yang biasa mereka jalani selama bulan puasa atau Ramadhan.
Hanya saja, kata dia, harus dijelaskan bahwa tradisi itu dijalankan hingga pukul 24.00 Wita sesuai kesepakatan warga.
"Warga setempat harus memberi penjelasan bahwa ada tradisi di negara kita, khususnya wilayah Lombok ini yang merupakan pulau seribu masjid, harus dipahami oleh mereka para pendatang atau wisatawan," kata Edy.
Baca juga: Turis Asing Ketakutan Saat Berlayar ke Gili Trawangan, Penting untuk Infokan Kondisi Pelayaran
Dia juga mengatakan, pemahaman dan edukasi untuk para wisatawan luar negeri itu harus dijelaskan dengan baik.
Lebih lanjut, tugas Kapolres berkoordinasi dengan takmir masjid, kepala lingkungan tokoh agama dan tokoh masyarakat, bagaimana menjaga toleransi beragama.
Dia menambahkan, ibadah harus tetap dijalankan tapi harus ada cara agar tidak ada komplain dari pihak lain, misalnya volume (speakernya) dikurangi, agar sama sama menjaga toleransi.
"Kemungkinan karena dia WNA tersebut tidak tahu kebiasaan dan tradisi kita, sehingga dia mengamuk dan emosi. Sejauh ini sudah dilakukan pertemuan untuk memberi pemahaman pada yang bersangkutan," kata Edy.
Tag: #selandia #baru #ngamuk #gili #trawangan #suka #suara #tadarus #dari