4 Masjid Berarsitektur Unik Tionghoa, Jejak Harmoni Lintas Budaya
Sejumlah masjid di Jakarta tampil berbeda dari kebanyakan rumah ibadah lain yang identik dengan kubah Timur Tengah.
Beberapa di antaranya mengusung bentuk atap bertingkat menyerupai pagoda dan ornamen khas Tionghoa, sekaligus menjadi simbol toleransi serta akulturasi budaya.
Berikut empat masjid bergaya pagoda di Jakarta yang sarat nilai sejarah dan harmoni lintas budaya.
1. Masjid Tjia Kang Hoo
Masjid Tjia Kang Hoo di Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Kamis (14/3/2024).
Berlokasi di Jalan H. Soleh RT 002/RW 07, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Masjid Tjia Kang Hoo berdiri di tengah permukiman warga dengan arsitektur bernuansa Tionghoa.
Dilansir dari Kompas.com, sejarah berdirinya masjid ini berkaitan erat dengan sosok Tjia Kang Hoo, kakek dari Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) saat ini, Muhamad Wildan Hakiki.
Nama masjid diambil dari nama sang kakek sebelum memeluk Islam.
Baca juga: Sempat Terendam Banjir, Jalur Kereta Stasiun Gubug-Karangjati Bisa Dilewati Lagi
Sebagai keturunan Tionghoa yang lama menetap di Pekayon, Tjia Kang Hoo menjalin hubungan erat dengan warga Betawi setempat dan menikah dengan perempuan Betawi.
Setelah menjadi mualaf, ia mengganti nama menjadi Abdul Soleh dan bahkan menunaikan ibadah haji.
“Masjid ini dibikin bernuansa Tionghoa karena Tjia Kang Hoo adalah nama kakek saya sebelum mualaf,” ujar Wildan saat ditemui di lokasi, Kamis (14/3/2024), seperti dikutip dari Kompas.com.
Bangunan masjid yang masih dalam tahap pembangunan ini menampilkan elemen pagoda, ornamen merah dan emas, serta atap bertingkat layaknya kelenteng.
Baca juga: Promo Tiket Kereta Cepat Whoosh, Ada Cashback hingga Rp 250.000
Papan nama masjid mencantumkan nama kakek dan nenek Ketua DKM dalam huruf Arab, Mandarin, dan Latin.
Lahan masjid merupakan bekas rumah sang kakek yang kemudian dijadikan amal jariah oleh keluarga.
Meski pembangunan belum rampung, masjid sudah digunakan untuk salat lima waktu, tarawih, dan pengajian rutin.
Pengunjung diperbolehkan datang, namun anak kecil disarankan tidak masuk demi alasan keselamatan.
Kini, masjid ini menjadi destinasi wisata religi sekaligus representasi harmonisasi budaya Tionghoa, Islam, dan Betawi.
Baca juga: Rute Termudah ke Basecamp Gunung Andong via Temu Kidul dari Arah Salatiga
2. Masjid Babah Alun
Tampilan Masjid Babah Alun di Tol Desari, Cilandak, yang diresmikan oleh Wali Kota Jakarta Selatan, Marullah di Tahun Baru Islam 1442 Hijriah, Kamis (20/8/2020)
Masjid ini berdiri di sisi Jalan Tol Depok–Antasari (Desari), Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan.
Dikutip dari Antara News, Masjid Babah Alun Desari dibangun oleh Muhammad Jusuf Hamka, yang dahulu dikenal sebagai “jawara” Pasar Baru sebelum memeluk Islam pada 1981 di bawah bimbingan Buya Hamka.
Jusuf lahir di Pasar Baru, Jakarta Pusat, dari orang tua keturunan Tionghoa asal Samarinda.
Baca juga: Harga Tiket Pendakian Gunung Andong via Temu Kidul, Jalur yang Sedang Naik Daun
Ia membangun masjid ini sebagai bagian dari kontribusi sosial dan keagamaan, bahkan memiliki visi membangun 1.000 masjid di Indonesia.
Masjid satu lantai seluas sekitar 200 meter persegi ini diresmikan pada Agustus 2020 oleh Pemerintah Kota Jakarta Selatan, dengan kapasitas sekitar 200 jamaah.
Arsitekturnya bercorak oriental dengan sentuhan Tionghoa, terlihat dari ornamen warna cerah dan bentuk atap menyerupai pagoda.
Baca juga: Wisata Pengalaman Jadi Tren, Begini Cara Liburan Biar Untung
Selain tempat ibadah, masjid ini dirancang sebagai wisata religi yang mudah diakses pengguna tol Desari.
Keunikan desainnya menjadikan masjid ini simbol harmoni lintas budaya di tengah metropolitan Jakarta.
Baca juga: Jadwal Lengkap Libur Cuti Bersama Ramadhan 2026, Siap Mudik?
3. Masjid Lautze
Masjid Lautze, Jakarta Pusat, Minggu (15/4/2023). Masjid bergaya arsitektur China ini menjadi wadah warga keturunan Tionghoa untuk belajar dan memeluk agama Islam.
Terletak di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat, Masjid Lautze menjadi ikon akulturasi Islam dan Tionghoa di ibu kota.
Mengutip dari Kompas.com, masjid ini dibangun pada 1991 atas inisiatif KH Haji Mohammad Saleh atau Haji Abdul Qodir Saleh, ulama Betawi keturunan China.
Nama “Lautze” terinspirasi dari nama asrama atau komunitas Muslim Tionghoa di China.
Baca juga: Cerita Megahnya Gedung A.A. Maramis, SCBD Jakarta Versi Zaman Dulu
Pendirian masjid ini bertujuan menghadirkan tempat ibadah yang ramah bagi Muslim keturunan Tionghoa.
Ciri khasnya tampak pada atap bertingkat menyerupai pagoda, ornamen merah dan emas, serta dekorasi mirip kelenteng.
Meski demikian, fungsi utamanya tetap sebagai tempat salat dan pusat kegiatan keagamaan.
Letaknya di kawasan pecinan bersejarah menjadikan Masjid Lautze bagian dari rute wisata budaya Jakarta.
Baca juga: Padusan di Pantai Gunungkidul, Gelombang Diprediksi Landai
4. Masjid Hidayatullah
Masjid Hidayatullah, masjid bersejarah sudah ada sejak 1747.
Masjid ini berada di Komplek Perumahan Ciledug Raya, Jakarta Selatan.
Dikutip dari Kompas.com, Masjid Hidayatullah dikenal karena memadukan empat unsur budaya: Betawi, Arab, Jawa, dan Tionghoa.
Atap bertingkat bernuansa pagoda menjadi ciri menonjol, berpadu dengan ornamen Jawa dan motif Betawi, serta simbol keislaman khas Arab.
Baca juga: Pacuan Kuda di Tegalwaton Semarang Jadi Wahana Wisata Keluarga Jelang Ramadhan
Menurut pengurus masjid, bentuk pagoda dipilih sebagai perwujudan keberagaman dan toleransi, bukan untuk meniru satu budaya tertentu.
Masjid ini dibangun sebagai simbol persatuan di tengah masyarakat majemuk.
Selain tempat ibadah, masjid ini juga menjadi tujuan wisata religi dan kultural. Pengunjung disarankan datang di luar waktu salat utama dan tetap berpakaian sopan.
Keempat masjid ini menunjukkan bahwa arsitektur bukan sekadar bentuk fisik, melainkan medium dialog budaya.
Di tengah keberagaman Jakarta, bangunan-bangunan bergaya pagoda tersebut menjadi pengingat bahwa toleransi dapat diwujudkan melalui ruang ibadah yang terbuka dan inklusif.
Tag: #masjid #berarsitektur #unik #tionghoa #jejak #harmoni #lintas #budaya