Kisah Jennifer, Orangutan Indonesia yang Dijodohkan di Jepang
Orangutan betina bernama Jennifer (15) asal Indonesia, dikirim ke Tobe Zoo, Ehime, Jepang, sebagai bagian kerja sama konservasi internasional dalam menjaga keberlanjutan gen spesiesnya.(KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN)
07:07
18 Januari 2026

Kisah Jennifer, Orangutan Indonesia yang Dijodohkan di Jepang

Di tengah musim dingin Jepang, seekor orangutan betina asal Indonesia menjalani fase baru dalam hidupnya. Namanya Jennifer (15). Ia lahir dan dibesarkan di Taman Safari Indonesia, lalu kini berada ribuan kilometer dari habitat asalnya.

Jennifer dikirim ke Tobe Zoo, Ehime, Jepang, sebagai bagian kerja sama konservasi internasional dalam menjaga keberlanjutan gen spesiesnya.

Orangutan bukan satwa yang asing bagi kerja sama Indonesia-Jepang. Saat masih kecil, Jennifer pernah singgah di Jepang untuk keperluan pameran dalam program kolaborasi antar kebun binatang. 

Kini, bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke negeri Sakura tersebut dengan misi yang lebih besar, yakni dijodohkan dengan Hayato, orangutan jantan yang usianya sebaya dan sudah lebih dulu berada di sana.

Menjaga populasi orangutan

Direktur Taman Safari Indonesia Jansen Manansang menjelaskan, pengiriman Jennifer merupakan bagian dari program konservasi global antar kebun binatang.

Melalui skema breeding loan atau peminjaman satwa, Indonesia dan Jepang berkolaborasi menjaga populasi orangutan agar tidak mengalami kepunahan.

"Fokusnya untuk menjaga dan mempertahankan genetik orangutan agar bisa terus berkembang dan tidak punah," kata Jansen dalam acara Global Cooperation for Orangutan Conservation Taman Safari Indonesia and Tobe Zoo, di Rainforest TSI.

Program ini berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang kembali jika memungkinkan. Selain menjaga populasi orangutan, kerja sama Indonesia - Jepang ini mencakup pertukaran pengetahuan dan sumber daya manusia. 

Menurut Jansen, tenaga ahli dari Jepang dan Indonesia saling bergantian melakukan kunjungan. Kerja sama ini juga didukung oleh Menteri Kehutanan (Menhut) dan telah berlangsung sejak tiga tahun lalu.

“Kami juga bertukar ilmu, teknologi, termasuk kolaborasi antar keeper, staf, dan dokter hewan. Sehingga hubungan antara Indonesia dan Jepang semakin erat," ujarnya.

"Tentu semua ini bisa terjadi karena didukung oleh Kementerian Kehutanan," imbuhnya.

Setibanya di Jepang, Jennifer tidak langsung diperkenalkan atau ditampilkan ke publik. Gubernur Prefektur Ehime, Tokihiro Nakamura, mengatakan kondisi cuaca menjadi pertimbangan utama.

"Saat ini Jepang sedang musim dingin, suhunya rendah. Prioritas utama menjaga kesehatannya, jadi belum dipublikasikan secara terbuka,” ujar Nakamura didampingi penerjemah.

Orangutan betina bernama Jennifer (15) asal Indonesia, dikirim ke Tobe Zoo, Ehime, Jepang, sebagai bagian kerja sama konservasi internasional dalam menjaga keberlanjutan gen spesiesnya.KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Orangutan betina bernama Jennifer (15) asal Indonesia, dikirim ke Tobe Zoo, Ehime, Jepang, sebagai bagian kerja sama konservasi internasional dalam menjaga keberlanjutan gen spesiesnya.

Psikologis Jennifer jadi prioritas utama sebelum dijodohkan

Jennifer ditempatkan di ruang internal khusus dan dipantau selama 24 jam oleh para keeper.

Nakamura menambahkan, perhatian terhadap kondisi fisik dan psikologis Jennifer menjadi prioritas utama sebelum mereka dijodohkan.

Rencana pertemuan Jennifer dan Hayato pun disusun secara bertahap. Penjodohan diproyeksikan mulai sekitar Mei, saat suhu mulai menghangat sambil terus mengamati respons dan kesiapan keduanya.

“Kami tidak buru-buru, Yang terpenting adalah memastikan kesehatannya stabil sebelum diperkenalkan ke publik, sambil melihat kondisi masing-masing satwa. Ruangan untuk pasangannya sudah kami siapkan,” katanya.

Untuk itu, sambung dia, kandang baru sudah disiapkan agar sesuai dengan kebutuhan pasangan orangutan tersebut.

Menurut Nakamura, kondisi Jennifer saat ini sehat dan nafsu makannya baik. Antusiasme masyarakat Jepang terhadap kehadiran Jennifer terbilang tinggi, sudah banyak warga yang ingin segera melihatnya secara langsung.

Pihaknya bahkan berencana menggelar acara khusus saat Jennifer dan Hayato resmi dipertemukan.

"kondisinya sehat, makannya banyak dan pengunjung ingin melihat Jennifer. Kami juga akan menyelenggarakan semacam resepsi pernikahan di kebun binatang (Tobe Zoo)," ucapnya.

Sementara itu, Pemerintah menyebut kerja sama peminjaman orangutan ke Jepang melalui skema breeding loan menjadi bagian dari strategi diplomasi satwa untuk memperkuat hubungan Indonesia-Jepang.

Skema ini dinilai tidak hanya berorientasi pada konservasi, tetapi juga menjadi instrumen kerja sama bilateral antarpemerintah.

Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan (Menhut), Ahmad Munawir mengatakan, pemanfaatan satwa liar sebagai sarana diplomasi dilakukan untuk mempererat hubungan yang selama ini sudah terjalin baik antara kedua negara.

“Ini salah satu strategi diplomasi dengan menggunakan satwa liar untuk lebih memperkuat hubungan Indonesia dan Jepang,” ujarnya saat ditemui usai acara Global Cooperation for Orangutan Conservation di Taman Safari Indonesia, Jumat (16/1/2026).

Munawir menjelaskan, kerja sama ini menggunakan skema breeding loan, yakni peminjaman satwa untuk tujuan konservasi, penelitian, dan edukasi, tanpa mengalihkan status kepemilikan.

Dengan skema tersebut, orangutan yang dikirim ke Jepang tetap menjadi milik Indonesia, termasuk apabila nantinya berkembang biak.

"Keuntungannya bagi kita, Prefecture Ehime juga akan berkontribusi terhadap konservasi orangutan di Indonesia, baik yang berada di lembaga konservasi (ex-situ) seperti kebun binatang, maupun yang ada di habitat alaminya (in-situ). Jennifer sendiri berasal dari Kalimantan, sehingga ke depan dimungkinkan ada kontribusi langsung untuk konservasi orangutan di alam," terangnya.

Bagi Indonesia, kisah Jennifer bukan hanya tentang seekor orangutan yang berpindah negara. Ia menjadi simbol diplomasi dalam menjaga satwa liar.

Selain pertukaran satwa, kerja sama ini juga mencakup pertukaran pengetahuan, teknologi konservasi, serta tenaga ahli seperti dokter hewan dan keeper.

Di balik rencana “pernikahan” Jennifer dan Hayato, tersimpan pesan yang lebih besar, konservasi tidak mengenal batas negara. Ketika habitat alami terus terdesak, upaya menjaga keberlanjutan satwa menuntut kolaborasi global.

Jennifer kini menjadi bagian dari cerita itu, sebuah kisah tentang adaptasi, harapan, dan tanggung jawab manusia terhadap masa depan orangutan yang populasinya terancam punah.

Tag:  #kisah #jennifer #orangutan #indonesia #yang #dijodohkan #jepang

KOMENTAR