Menyapu saat Imlek Disebut Bawa Sial, Fakta atau Mitos?
Masyarakat keturunan Tionghoa akan segera merayakan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang, berdasarkan kalender Masehi, jatuh pada 17 Februari 2026.
Ketua Umum Niciren Syosyu Indonesia (NSI) Suhadi Sendjadja menjelaskan bahwa perayaan Imlek umumnya dimaknai sebagai momen untuk mempererat hubungan antarsesama sekaligus melakukan berbagai kegiatan kebaikan.
“Seluruh umat keturunan Tionghoa atau yang menjalankan tradisi Chinese merayakan Tahun Baru Imlek, apa pun agamanya,” ujar Suhadi, dikutip dari Kompas.com (20/1/2023).
Baca juga: Jadwal Perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2026 di Indonesia
Larangan menyapu saat Imlek, mitos atau fakta?
Menurut Suhadi, Imlek sejatinya bukan perayaan keagamaan tertentu, melainkan tradisi budaya masyarakat Tionghoa yang menggunakan kalender lunar sebagai acuan penanggalan.
Perayaan Imlek setiap tahun identik dengan berbagai tradisi khas, seperti memasang lampion di rumah dan tempat ibadah, mengenakan busana berwarna merah, hingga menyaksikan pertunjukan barongsai.
Suasana perayaan juga semakin meriah dengan alunan musik tradisional China yang mengiringi berbagai kegiatan.
Secara etimologis, kata Imlek berasal dari dua suku kata, yakni im yang berarti bulan dan lek yang berarti penanggalan. Dengan demikian, Imlek merujuk pada sistem penanggalan bulan atau kalender lunar.
Di tengah perayaan Imlek, beredar pula anggapan mengenai pantangan tertentu, salah satunya larangan menyapu rumah saat Hari Raya Imlek karena diyakini dapat membawa keburukan.
Lantas, apakah anggapan tersebut merupakan fakta atau sekadar mitos?
Ilustrasi menyapu lantai rumah.
Suhadi menilai, anggapan pantangan menyapu saat Imlek pada dasarnya bertujuan mendorong masyarakat untuk melakukan bersih-bersih sebelum hari perayaan tiba.
“Artinya, pada hari pertama Imlek itu rumah sudah bersih. Karena sudah masuk perayaan, kita bergembira dan saling bersuka cita,” kata Suhadi.
Ia menegaskan bahwa keyakinan akan datangnya keburukan jika melanggar pantangan tersebut merupakan pemahaman yang tidak proporsional.
“Kalau lantai kotor, ya disapu saja, tidak ada masalah. Jangan mengarah ke takhayul,” ujarnya.
Menurut Suhadi, anggapan semacam itu tidak seharusnya dijadikan pegangan dalam menyambut Tahun Baru Imlek. Selain tidak masuk akal, keyakinan tersebut juga tidak membawa manfaat.
Baca juga: Sejarah dan Makna Kue Keranjang, Sajian Wajib Saat Imlek
Ia menekankan bahwa esensi menyambut Imlek justru terletak pada upaya membersihkan hati dan pikiran dengan melakukan perbuatan baik.
“Saya kira yang paling penting itu berbuat baik. Berbuat baik tidak harus menunggu Imlek,” katanya.
Imlek, lanjut Suhadi, merupakan momen tradisi yang lahir karena manusia hidup bermasyarakat. Tradisi tersebut diharapkan dapat mendekatkan kembali hubungan antarmanusia serta menjadi pengingat untuk terus menebarkan kebaikan.
Menanggapi berbagai pantangan yang kerap dikaitkan dengan perayaan Imlek, Suhadi berpendapat bahwa satu-satunya hal yang benar-benar tidak boleh dilakukan adalah perbuatan jahat.
“Itu pantangan yang paling utama. Intinya, ketika kita menyambut Imlek, kita mengawali tahun dengan yang baik, apa pun agamanya,” ujarnya.
Baca juga: 10 Hidangan Imlek yang Melambangkan Keberuntungan
Makna Imlek bagi masyarakat Tionghoa
Lebih lanjut, Suhadi menjelaskan bahwa Imlek bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momen awal tahun untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan.
“Intinya, ketika kita menyambut Imlek ini, kita mengawali tahun dengan yang baik,” kata dia.
Kebaikan tersebut dimulai dari diri sendiri, seperti membersihkan pikiran, perasaan, dan perilaku, kemudian dilanjutkan dengan berbuat baik kepada sesama.
Hal ini tercermin dalam berbagai tradisi Imlek, seperti mengunjungi sanak saudara, saling mengucapkan terima kasih dan doa baik, serta berbagi rezeki melalui angpao.
“Berbuat baik itu tidak harus menunggu Imlek. Imlek hanyalah sebuah momen, karena pada dasarnya kita hidup bermasyarakat dan membangun tradisi bersama,” tutup Suhadi.
Tag: #menyapu #saat #imlek #disebut #bawa #sial #fakta #atau #mitos