Mengenal Indeks MSCI yang Bikin IHSG Anjlok Dua Hari Berturut-turut
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok cukup dalam selama dua hari berturut-turut akibat pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Pada perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG anjlok 8 persen atau 718,44 poin ke level 8.261,78 sehingga BEI memberlakukan trading halt. Setelah dibuka kembali, IHSG terus turun hingga posisi terendah 8.237,64 dan ditutup melemah 7,35 persen di 8.320,56.
Keesokan harinya, Kamis (29/1/2026), trading halt kembali diberlakukan saat IHSG turun 8 persen ke 7.654,66. Setelah pembukaan kembali, IHSG turun lebih dalam ke 7.485,35 namun akhirnya ditutup turun tipis 1,06 persen di 8.232,20.
Pada Jumat (30/1/2026), IHSG sempat melemah setelah pengumuman pengunduran diri Iman Rachmat, namun tekanan jual tersebut tidak berlangsung lama. IHSG akhirnya ditutup menguat 1,18 persen atau 97,40 poin ke posisi 8.329,61.
Baca juga: Dirut BEI Mundur, OJK Tegaskan Pertemuan dengan MSCI Tidak Terganggu
Peringatan MSCI terhadap Pasar Saham Indonesia
Dalam keterangannya, MSCI menyatakan akan menghentikan sementara penambahan saham Indonesia ke dalam berbagai indeksnya, sekaligus membekukan kenaikan jumlah saham yang dikategorikan bebas diperdagangkan (free float) bagi investor.
Kebijakan ini didasari adanya isu mendasar terkait kelayakan investasi, termasuk kekhawatiran terhadap potensi praktik perdagangan terkoordinasi yang berisiko mengganggu mekanisme pembentukan harga saham.
MSCI juga menegaskan bahwa apabila hingga Mei 2026 belum terlihat perbaikan berarti dalam aspek transparansi pasar, lembaga tersebut akan melakukan evaluasi ulang terhadap tingkat aksesibilitas pasar Indonesia.
Evaluasi tersebut berpotensi menimbulkan dampak signifikan, mulai dari berkurangnya bobot saham Indonesia di MSCI Emerging Markets Index hingga kemungkinan turunnya status Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar frontier.
Baca juga: Isu MSCI hingga Mundurnya Dirut BEI, Simak Rekomendasi Saham BBCA
Apa Itu Indeks MSCI?
MSCI merupakan singkatan dari Morgan Stanley Capital International, lembaga riset keuangan yang menyediakan indeks saham global.
Indeks ini dibuat untuk melacak dan mencerminkan pergerakan harga di pasar saham serta menjadi acuan utama bagi investor institusi di seluruh dunia.
Nilai aset yang berpatokan pada indeks MSCI mencapai sekitar 139 triliun dollar Amerika Serikat. Untuk indeks pasar negara berkembang MSCI, nilai saham yang dilacak sekitar 10 triliun dollar AS.
MSCI tidak mengelola dana secara langsung, tetapi produknya menjadi acuan utama investor institusi global.
Indeks MSCI jadi penyebab utama anjloknya IHSG selama dua hari berturut-turut. Simak penjelasan lengkap soal MSCI dan dampaknya pada pasar saham RI
Pengaruh MSCI terhadap Pasar Saham
MSCI memiliki pengaruh besar karena pertumbuhan exchange traded fund (ETF) yang mengikuti indeks secara pasif.
Ketika komposisi indeks berubah, pengelola dana wajib menyesuaikan portofolio secara otomatis, tanpa penilaian subjektif.
Mekanisme ini menyebabkan arus dana masuk dan keluar pasar secara besar-besaran dan serentak dalam skala miliaran dollar AS.
Bersama FTSE Russell dan S&P Global, MSCI membentuk struktur utama investasi global dan menjadi tolok ukur kinerja bagi banyak investor.
Baca juga: IHSG Rontok Disentil MSCI, OJK dan BEI Aktifkan Semua Rem di Pasar Modal
Dampak Peringatan MSCI pada IHSG
Peringatan MSCI menimbulkan risiko penurunan status Indonesia dari pasar negara berkembang menjadi pasar frontier.
Risiko tersebut memicu kepanikan pasar dan aksi jual besar-besaran investor asing. Dalam dua hari perdagangan, IHSG sempat anjlok hingga 16,7 persen.
BEI memberlakukan trading halt dua kali guna menjaga kelancaran dan keteraturan perdagangan saham.
Meski pada perdagangan Jumat (30/1/2026), IHSG sempat menguat, tekanan pasar masih terasa.
Risiko Penurunan Status Pasar Indonesia
Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa perubahan peringkat MSCI berdampak signifikan.
Goldman Sachs memperkirakan arus keluar dana asing bisa mencapai 7,8 miliar dollar AS jika Indonesia turun status.
Saat ini, bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets sekitar 1 persen, relatif kecil dibandingkan China, Taiwan, dan India.
Meski kecil, perpindahan dana tersebut berdampak besar bagi likuiditas pasar domestik.
Baca juga: OJK Ingin Emiten RI Tetap di MSCI, Segera Rilis Aturan Free Float 15 Persen hingga Exit Policy
Respons Pemerintah dan Otoritas Pasar
Otoritas keuangan Indonesia memandang masukan MSCI sebagai evaluasi penting dan komunikasi dengan MSCI berjalan positif.
Salah satu usulan utama adalah peningkatan syarat free float saham menjadi 15 persen untuk memperbaiki transparansi dan kualitas data pasar.
Konsultasi reklamasi indeks MSCI biasanya berlangsung panjang dan bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun.
Namun, reaksi pasar terhadap isu ini sering kali berlangsung lebih cepat daripada proses formal tersebut.
Tag: #mengenal #indeks #msci #yang #bikin #ihsg #anjlok #hari #berturut #turut