Perusahaan Logistik Terbesar di Dunia Bakal PHK 30.000 Karyawan
Perusahaan logistik terbesar di dunia, United Parcel Service (UPS), mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga 30.000 pekerjaan sepanjang tahun ini.
Langkah tersebut diambil seiring strategi perusahaan yang semakin agresif mengurangi volume pengiriman untuk pelanggan terbesarnya, Amazon, yang dinilai menekan margin keuntungan.
Dikutip dari BBC, Kamis (29/1/2026), UPS menyatakan PHK akan dilakukan melalui penawaran pengunduran diri sukarela kepada pengemudi penuh waktu, serta dengan tidak mengganti karyawan yang meninggalkan perusahaan secara sukarela.
Baca juga: Tekanan Persaingan AI, Amazon PHK 16.000 Karyawan
Ilustrasi logistik, industri logistik, jasa logistik.
Perusahaan menegaskan tidak akan melakukan PHK massal secara langsung, meskipun skala penyesuaian yang direncanakan tergolong besar.
Pengumuman tersebut disampaikan bersamaan dengan laporan kinerja keuangan kuartal keempat tahun lalu.
Dalam periode tiga bulan terakhir 2025, UPS mencatatkan pendapatan sebesar 24,5 miliar dollar AS.
Untuk tahun mendatang, perusahaan bahkan memperkirakan pendapatan akan meningkat menjadi 89,7 miliar dollar AS, melampaui ekspektasi sejumlah analis pasar.
Baca juga: Ruwetnya Konflik Keluarga Pabrik Kertas Ternama, 2.500 Pekerja Pun Terancam PHK
Strategi mengurangi pengiriman Amazon
Hubungan bisnis antara UPS dan Amazon telah lama menjadi salah satu pilar utama industri logistik global.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, UPS secara terbuka menyatakan akan mengurangi ketergantungan pada raksasa e-commerce tersebut.
Ilustrasi pemutusan hubungan kerja (PHK).
UPS menilai sebagian besar pengiriman Amazon bersifat bervolume tinggi tetapi bermargin rendah, sehingga kurang menguntungkan bagi keberlanjutan bisnis jangka panjang.
“Kami berada di enam bulan terakhir dari rencana pengurangan layanan pengiriman Amazon yang dipercepat, dan untuk tahun penuh 2026, kami bermaksud untuk mengurangi satu juta paket per hari lagi sambil terus mengonfigurasi ulang jaringan kami,” ujar CEO UPS Carol Tome.
Baca juga: 88.519 Buruh Kena PHK di 2025, KSPI: Impor Ugal-ugalan
Pernyataan tersebut menegaskan langkah pengurangan pengiriman Amazon bukanlah keputusan sementara, melainkan bagian dari strategi pemulihan dan penataan ulang model bisnis UPS.
Sejak tahun lalu, perusahaan mulai mengalihkan fokusnya ke segmen pelanggan yang dinilai lebih menguntungkan, termasuk perusahaan perawatan kesehatan dan logistik bernilai tinggi.
Menurut laporan tahunan 2024, UPS memiliki sekitar 490.000 karyawan secara global, dengan hampir 78.000 di antaranya bekerja di level manajemen.
Sebagian besar tenaga kerja UPS tergabung dalam serikat pekerja, sehingga setiap kebijakan penyesuaian tenaga kerja dilakukan melalui mekanisme yang diatur secara ketat.
Baca juga: Citigroup Dikabarkan Bakal Kembali PHK Karyawan pada Maret
Gelombang efisiensi sejak 2025
Langkah PHK 30.000 pekerjaan tahun ini melanjutkan rangkaian efisiensi yang telah dilakukan sebelumnya. Pada 2025, UPS memangkas sekitar 48.000 pekerjaan dan menutup 93 fasilitas operasional sebagai bagian dari pengurangan volume pengiriman Amazon.
UPS juga mengumumkan rencana penutupan 24 fasilitas tambahan pada paruh pertama tahun ini.
Reuters mewartakan, penutupan fasilitas tersebut terutama terjadi di pusat-pusat penyortiran dan distribusi yang sebelumnya sangat bergantung pada arus paket Amazon.
Dengan berkurangnya volume dari pelanggan tersebut, UPS memilih merampingkan jaringan agar lebih sesuai dengan permintaan baru.
Baca juga: 88.519 Pekerja Kena PHK di 2025, Kemenaker: Tekanan Ekspor-Impor
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terus bertambah di berbagai sektor di AS, memicu kecemasan pekerja. Sejumlah perusahaan besar mengumumkan pemangkasan tenaga kerja dalam jumlah besar.
Dalam laporan kepada investor, manajemen UPS menyebutkan bahwa rekonfigurasi jaringan logistik menjadi kunci untuk menjaga profitabilitas di tengah perubahan peta persaingan industri pengiriman paket global.
Langkah ini mencakup penyesuaian rute, konsolidasi fasilitas, hingga optimalisasi armada transportasi.
Pensiunkan armada pesawat kargo MD-11
Selain penyesuaian tenaga kerja dan jaringan, UPS juga mengumumkan keputusan penting terkait armada udara.
Perusahaan secara resmi akan mempensiunkan seluruh armada pesawat kargo MD-11 setelah terjadinya kecelakaan fatal di Louisville, Kentucky, pada November 2025 lalu.
Baca juga: Pengelolaan SDM Jadi Strategi Perusahaan Bertahan di Tengah Tren PHK
Pesawat MD-11, yang menyumbang sekitar 9 persen dari total armada udara UPS, telah dihentikan operasinya sejak insiden tersebut.
Keputusan untuk mempensiunkan armada ini menandai berakhirnya penggunaan salah satu pesawat kargo andalan yang telah lama beroperasi dalam jaringan global UPS.
Menurut laporan media penerbangan internasional, MD-11 memang telah berusia relatif tua dibandingkan pesawat kargo generasi baru.
Sejumlah maskapai kargo global juga mulai menggantinya dengan pesawat yang lebih efisien bahan bakar dan berbiaya perawatan lebih rendah.
Baca juga: Dari Sritex sampai Michelin, Gelombang PHK Menguat Sepanjang 2025
UPS menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap keselamatan dan efisiensi operasional.
Namun, penghentian armada tersebut juga berimplikasi pada kebutuhan penyesuaian kapasitas angkut udara, yang selanjutnya memengaruhi struktur biaya dan jaringan distribusi perusahaan.
Respons pasar dan kinerja saham
Pengumuman pemangkasan pekerjaan dan strategi bisnis terbaru UPS mendapat respons relatif tenang dari pasar modal.
Ilustrasi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Saham UPS ditutup sedikit lebih tinggi dalam perdagangan di New York pada Selasa (27/1/2026), mencerminkan bahwa investor telah mengantisipasi langkah efisiensi tersebut.
Baca juga: Industri Tekstil Tertekan, PHK Meluas Sepanjang 2025
Analis yang dikutip oleh CNBC menilai bahwa pasar lebih fokus pada proyeksi pendapatan jangka menengah UPS serta kemampuannya mengalihkan portofolio pelanggan ke segmen yang lebih menguntungkan.
Meski demikian, skala pengurangan tenaga kerja tetap menjadi sorotan, terutama di tengah perhatian publik terhadap isu ketenagakerjaan di Amerika Serikat.
Amazon dan perubahan lanskap pengiriman
Di sisi lain, keputusan UPS untuk mengurangi pengiriman Amazon tidak terlepas dari perubahan besar yang dilakukan Amazon sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, Amazon secara signifikan memperluas dan memperkuat layanan pengirimannya sendiri, mengurangi ketergantungan pada pihak ketiga seperti UPS, FedEx, dan United States Postal Service (USPS).
Baca juga: Nike Bakal PHK Hampir 1.000 Karyawan Korporat, Kedua pada 2025
Menurut laporan indeks pengiriman paket dari Pitney Bowes, pada 2024 Amazon menangani sekitar 6,3 miliar pengiriman di Amerika Serikat. Angka tersebut melampaui volume pengiriman UPS dan FedEx di pasar domestik AS.
Laporan yang sama memproyeksikan bahwa pada 2028, Amazon berpotensi melampaui USPS dalam volume pengiriman paket di Amerika Serikat.
Proyeksi ini menegaskan posisi Amazon bukan hanya sebagai pemain e-commerce, tetapi juga sebagai salah satu perusahaan logistik terbesar di dunia.
The Wall Street Journal mencatat bahwa Amazon telah menginvestasikan miliaran dollar AS untuk membangun jaringan gudang, armada pesawat kargo, dan layanan pengiriman jarak dekat.
Baca juga: PHK di AS Tembus 1,17 Juta pada 2025, AI Jadi Pendorong
Strategi ini memungkinkan Amazon mengendalikan lebih banyak mata rantai distribusi, sekaligus menekan biaya dan meningkatkan kecepatan pengiriman.
Ilustrasi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dampak terhadap industri logistik global
Perkembangan ini mengubah keseimbangan kekuatan di industri pengiriman paket global.
Perusahaan logistik tradisional seperti UPS dan FedEx kini harus beradaptasi dengan kenyataan bahwa salah satu pelanggan terbesar mereka juga menjadi pesaing langsung.
Dalam konteks tersebut, langkah UPS untuk mengurangi volume Amazon dan fokus pada segmen bernilai tinggi dipandang sebagai respons terhadap tekanan struktural jangka panjang.
Baca juga: PHK Massal Terjadi Sepanjang 2025, Meta hingga Amazon Pangkas Karyawan
Segmen perawatan kesehatan, misalnya, menawarkan margin lebih tinggi dan permintaan yang relatif stabil, meskipun membutuhkan standar layanan dan kepatuhan yang lebih kompleks.
Laporan Bloomberg menyebutkan bahwa sejumlah perusahaan logistik global kini berlomba memperkuat layanan khusus, seperti pengiriman farmasi bersuhu terkendali dan logistik alat kesehatan, untuk mengimbangi berkurangnya pendapatan dari pengiriman ritel massal.
Tag: #perusahaan #logistik #terbesar #dunia #bakal #30000 #karyawan