Serba-serbi Turis Arab di Indonesia, Kenapa Mereka Suka ke Puncak?
Ilustrasi turis arab saudi.(FREEPIK/FREEPIK)
11:07
17 Januari 2026

Serba-serbi Turis Arab di Indonesia, Kenapa Mereka Suka ke Puncak?

Kehadiran turis Arab di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bukan lagi fenomena baru.

Setiap tahun, ribuan wisatawan dari Timur Tengah datang ke Indonesia, dan tidak sedikit di antaranya yang memilih menetap sementara di Puncak.

Meski begitu, Puncak bukan satu-satunya destinasi wisata yang dituju turis Arab di Indonesia. Mereka juga sering kali melirik destinasi lain karena sejumlah alasan.

Kompas.com merangkum serba-serbi turis Arab di Indonesia, meliputi jumlah kunjungan, destinasi favorit, sampai alasan turis Arab suka ke Puncak Bogor berikut ini. 

Fakta menarik turis Arab di Indonesia

Jumlah kunjungan turis Arab

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Senin (5/1/2026), jumlah kunjungan turis Arab Saudi ke Indonesia selama Januari-November 2025 mencapai 144.182.

Angka ini meningkat bila dibandingkan dengan jumlah turis Arab Saudi ke Indonesia pada 2024, yakni sebanyak 135.643 kunjungan.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Ni Made Ayu Marthini, mengatakan bahwa jumlah kunjungan turis Arab ke Indonesia kian terlihat positif selama lima tahun belakangan.

Meski belum ditotal penuh sepanjang tahun 2025, jumlah kunjungan turis Arab ke Indonesia diprediksi menyamai angka sebelum pandemi Covid-19.

Sebab, pasca-pandemi Covid-19, jumlah kunjungan turis Arab ke Indonesia kian anjlok dari tahun ke tahun.

"Baru mulai di atas 100.000 (kunjungan) itu tahun 2023, terus mulai creeping up," kata Made ketika dihubungi Kompas.com lewat sambungan telepon, Rabu (26/11/2025).

"Kelihatannya dari prediksi, kita akan memenuhi target yang ditetapkan untuk Arab Saudi," sambung Made.

BPS mencatat bahwa Indonesia hanya menerima jumlah turis Arab sebanyak: 31.906 kunjungan pada 2020, 2.053 kunjungan pada 2021, 47.472 kunjungan pada 2022, serta 107.684 kunjungan pada 2023.

Kenapa turis Arab suka ke Puncak Bogor?

Popularitas Puncak di mata turis Arab tak lepas dari kombinasi faktor alam, budaya, dan kenyamanan yang ditawarkan.

"Kenapa mereka suka Bandung dan Puncak? Karena mereka suka daerah dingin, hijau, karena memang negaranya (banyak) padang pasir begitu ya," ujar Made.

Hal serupa juga disampaikan oleh Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Jawa Barat, Daniel G Nugraha.

"Memang karakternya orang Timur Tengah atau Arab itu suka yang area pegunungan, yang dingin dan hijau, karena mungkin berbeda dengan iklim atau keadaan di negaranya," kata Daniel saat dihubungi Kompas.com secara terpisah, Rabu (3/12/2025).

Tea Bridge di kawasan Agrowisata Gunung Mas, Puncak Bogor Dok. Agrowisata Gunung Mas Tea Bridge di kawasan Agrowisata Gunung Mas, Puncak Bogor Begitu tiba di Puncak, turis Arab biasanya memilih vila maupun hotel berbintang empat dan lima untuk menginap selama kurang dari seminggu.

Selama masa liburannya, tempat wisata alam, seperti kebun teh dan Taman Safari Bogor, hampir selalu masuk daftar kunjungan wajib bagi turis-turis Arab.

"Mereka juga senang menyewa motor terus keliling. Saya enggak tahu di negaranya mungkin enggak biasa ya, tapi di sini hal itu menjadi sesuatu yang menarik buat mereka," kata Made.

Destinasi wisata favorit turis Arab selain Puncak

Bali kembali mengukuhkan posisinya sebagai destinasi wisata terbaik dunia dengan meraih peringkat pertama dalam ?The Travelers? Choice Awards Best of the Best Destination List 2026? versi TripAdvisor.DOK. Kementerian Pariwisata Bali kembali mengukuhkan posisinya sebagai destinasi wisata terbaik dunia dengan meraih peringkat pertama dalam ?The Travelers? Choice Awards Best of the Best Destination List 2026? versi TripAdvisor.Puncak bukan satu-satunya destinasi tujuan turis Arab di Indonesia. Masih ada kawasan lain yang juga menjadi incaran banyak turis Arab selama beberapa tahun belakangan.

Misalnya, Bali dan Lombok. Secara khusus, kata Made, mereka yang memilih dua destinasi ini biasanya berfokus pada kemewahan.

"Tapi memang beda-beda segmennya gitu ya. Pada dasarnya mereka tergantung segmen ya. Kalau mereka ke Bali, mereka suka dengan family, tinggal di resor, spending-nya tinggi," kata Made.

"Kalau ke NTB juga begitu. Di sana kan muslim friendly ya. Salah satu muslim friendly tourism ya di sana," sambung dia.

Selain itu, ada juga Bandung yang dipilih karena alasan serupa dengan Puncak. Ibu kota Jawa Barat ini menawarkan iklim sejuk sehingga menarik minat turis Arab yang ingin berlibur jauh dari cuaca panas ekstrem di negara asal mereka..

"Memang karakternya orang Timur Tengah atau Arab itu suka yang area yang pegunungan, yang dingin dan hijau, karena mungkin berbeda dengan iklim atau keadaan di negaranya ya," kata Daniel.

Jakarta juga memiliki daya tarik tersendiri sehingga kerap menjadi destinasi favorit bagi wisatawan Arab.

Dalam sekali kunjungan, kata Daniel, turis Arab biasanya menetap selama lima hari di Puncak dan dua hari di Jakarta.

Selanjutnya, turis Arab umumnya melanjutkan wisata ke destinasi lain, seperti Bali dan Lombok.

"Kalau Jakarta sudah jelas ke malnya saja. Jadi mal-mal yang besar, yang grand-grand yang super-super itu favoritnya tamu-tamu di Jakarta," kata Daniel.

"Jadi area Thamrin, Grand Indonesia dengan hotel-hotelnya yang ada di situ semua. Termasuk Grand Hyatt, Kempinski, dan Ascott," sambungnya.

Berapa banyak pengeluaran turis Arab di Indonesia?

Setiap kali berkunjung ke Indonesia, rata-rata turis Arab menetap selama 13,4 hari alias dua minggu.

"Itu angka rata-rata ya, jadi enggak semua. Misalnya, yang ke Bali bisa lama atau ke Bandung bisa lebih lama, tapi rata-rata itu (berkunjung) ke Indonesia selama 13,4 hari," tutur  Made.

Durasi tinggal turis Arab di Indonesia terbilang lebih lama bila dibandingkan turis asal negara tetangga, seperti Malaysia.

Mereka biasanya tinggal di Indonesia sekitar lima hingga delapan hari. Namun, turis Malaysia tergolong repeater alias wisatawan yang kerap kembali berkunjung.

Sekali berkunjung ke Indonesia, turis Arab Saudi menghabiskan rata-rata 1.945 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 33 jutaan per orang.

Ilustrasi ekspatriat.iStockphoto/marchmeena29 Ilustrasi ekspatriat.Turis Arab umumnya menghabiskan dana liburan paling banyak untuk akomodasi dan kuliner.

Daniel mengatakan, turis Arab umumnya tidak sembarang memilih akomodasi selagi berlibur ke Indonesia.

Bersama dengan keluarganya, para turis asal Timur Tengah tersebut biasanya menetap di hotel-hotel bintang empat maupun lima.

"Setelah dari Jakarta, terus ke Puncak selama lima hari, biasanya mereka masih ada (berlanjut) tiga hari di sekitar Bandung. Check-in di hotel-hotel bintang empat atau bintang lima di sekitar Kota Bandung, bahkan di apartemen," kata Daniel.

"Dan tidak jarang mereka juga mengambil vila atau resor di sekitar Ciater karena ada pemandian air panas," lanjutnya.

Selain akomodasi dan kuliner, turis Arab juga mengeluarkan biaya untuk transportasi lokal, sewa kendaraan, belanja, hiburan, kesehatan, dan paket wisata.

Apa yang dicari turis Arab saat menginap di Indonesia?

Kamar tipe Studio Deluxe di Grand Aston Puncak Hotel & Resort.SITUS ASTON HOTEL INTERNATIONAL Kamar tipe Studio Deluxe di Grand Aston Puncak Hotel & Resort.Dihubungi terpisah pada Kamis (27/11/2025), Director of Sales & Marketing Grand Aston Puncak Hotel & Resort, Natalia Waani, mengatakan bahwa puncak kunjungan turis Arab ke Indonesia biasanya meningkat setelah Lebaran Idul Fitri dan saat Lebaran Haji (Idul Adha).

Selama periode itu terdapat sekitar 60 persen turis Arab yang menginap di Grand Aston Puncak Hotel & Resort dari jumlah tamu keseluruhan.

Sedangkan memasuki penghujung tahun pada Oktober-November, jumlah tamu Arab di hotel ini cenderung menurun.

Turis Arab biasanya membawa keluarga selama berlibur di Puncak. Setidaknya, mereka menghabiskan dua malam untuk menginap di hotel.

Saat menginap di hotel, mereka memiliki sejumlah preferensi khusus yang menjadi pertimbangan utama dalam memilih akomodasi.

"Mereka itu biasanya minta kamar hotel yang mountain view. Kebanyakan begitu," kata Natalia.

Adapun menurut Daniel, pada dasarnya, tamu asal Arab Saudi memilih hotel di kawasan sejuk, sekaligus yang terhubung dengan mal atau pusat perbelanjaan.

"Yang favorit di Bandung itu contohnya The Trans Luxury Hotel, terhubung dengan Trans Studio, mal, dan lain-lain," kata Daniel.

Contoh lainnya adalah Hotel Sensa di Bandung yang terintegrasi dengan Mal Cihampelas Walk.

"Tapi sebenarnya mereka carinya apartemen sih. Apartemen yang di dalamnya atau di bawahnya ada semua fasilitas, mal, entertainment-nya, atau supermarket-nya sekalian," ungkap dia.

Hal serupa juga terjadi di Jakarta. Turis Arab cenderung memilih hotel-hotel mewah dengan lokasi strategis dan terhubung dengan pusat perbelanjaan.

Berbeda dengan Bandung, saat berkunjung ke Puncak Bogor, Daniel justru melihat turis Arab cenderung memilih penginapan berbentuk vila, bukan hotel.

Vila-vila di kawasan Puncak dengan fasilitas kolam renang pribadi, terutama yang berada dekat Taman Safari Bogor dan kebun teh, paling banyak diincar oleh turis Arab.

Fasilitas serupa juga dicari turis Arab saat menginap di Bali. Mereka umumnya mencari vila yang menawarkan kolam renang pribadi dengan suasana sejuk ala pedesaan.

Tag:  #serba #serbi #turis #arab #indonesia #kenapa #mereka #suka #puncak

KOMENTAR