Bos Danantara Ungkap Sederet Masalah di Balik Kerugian Kimia Farma
- Danantara Indonesia mengungkapkan sejumlah persoalan yang membebani kinerja PT Kimia Farma Tbk (KAEF), mulai dari rendahnya utilisasi pabrik hingga masalah investasi dengan pihak asing.
Danantara sendiri baru saja menyuntikkan modal sebesar Rp 846 miliar ke Kimia Farma menyusul memburuknya kondisi keuangan emiten farmasi pelat merah tersebut.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria mengatakan, Kimia Farma memiliki banyak pabrik, namun tingkat utilisasinya rendah. Kondisi ini menekan keuntungan perusahaan meskipun pendapatan tergolong besar.
"Ini menyebabkan perusahaan itu contribution margin-nya menjadi negatif. Secara revenue dia cukup tinggi, tetapi secara net income-nya mereka enggak mampu. Karena pabriknya dibuat banyak, tetapi utilisasinya rendah," ungkap Dony dalam acara diskusi di Plataran, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Baca juga: Danantara Target Konsolidasi Hotel BUMN Rampung Tahun Ini
Alhasil modal kerja yang dimiliki rendah, sehingga berdampak pada pengurangan jumlah produk atau stock keeping unit (SKU) yang dipasarkan Kimia Farma.
Lebih lanjut, Dony mengatakan, Kimia Farma tidak boleh terus memangkas portofolio produknya karena berpotensi memperburuk kondisi perusahaan.
Jika pengurangan SKU terus dilakukan, menurutnya, perusahaan bisa masuk ke dalam siklus penghancuran diri (self-destruction cycle).
Oleh karena itu, Danantara memutuskan melakukan injeksi modal pada akhir 2025 guna memperbaiki struktur keuangan Kimia Farma.
"Perusahaannya akan mati kalau dipotong-potong terus, makanya kita melakukan injeksi equity akhir tahun kemarin kepada Kimia Farma, supaya mereka masuk ke dalam profil yang sehat," ungkapnya.
Baca juga: Danantara Target Laba Bersih BUMN Capai Rp 350 Triliun di 2026
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria (kiri) dalam acara diskusi yang berlangsung di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Rabu (28/1/2026).Selain persoalan operasional, Dony mengungkapkan Kimia Farma juga menghadapi masalah akibat langkah investasi yang salah. Perusahaan diketahui mengundang investor asing masuk, namun belakangan memicu sengketa.
Menurutnya, investor asing tersebut merasa dirugikan karena data keuangan yang disajikan saat investasi dinilai tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Saat ini, kasus tersebut tengah berproses melalui jalur arbitrase.
"Sekarang investornya merasa ketipu, karena ternyata bukunya yang disajikan waktu itu enggak benar. Sekarang mereka menuntut kita untuk kembalikan duitnya. Berperkaralah di arbitrase. Minta 'duit gua balikin dong, lu salah ngasih datanya', gitu," paparnya.
Baca juga: Kimia Farma Apotek Lakukan Restrukturisasi Keuangan dengan 5 Bank
Di sisi lain, terdapat kendala perizinan pada jaringan apotek yang menjadi sasaran investasi oleh investor asing tersebut. Ia menjelaskan, kepemilikan apotek oleh pihak asing tidak diperbolehkan sehingga izin operasional tidak dapat diperpanjang ketika masa berlakunya habis.
"Akibatnya begitu ada yang jatuh tempo, izinnya nggak bisa diperpanjang. Mau nggak mau kan ini menjadi problematika, harus kita restructuring," kata Dony.
Adapun berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2025, Kimia Farma mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp 179,73 miliar. Meski masih merugi, angka tersebut menyusut 57,93 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 421,83 miliar.
Pada periode tersebut, Kimia Farma membukukan laba usaha sebesar Rp 99,14 miliar. Namun, penjualan tercatat turun 10,88 persen menjadi sebesar Rp 70 triliun.
Tag: #danantara #ungkap #sederet #masalah #balik #kerugian #kimia #farma