Ekonomi 2026 Stabil, Mengapa Tekanan Rumah Tangga Masih Terasa?
Aktivitas warga di pasar tradisional di tengah dinamika ekonomi 2026.(Kompas.com/Ahmad Dzulviqor)
14:08
1 Februari 2026

Ekonomi 2026 Stabil, Mengapa Tekanan Rumah Tangga Masih Terasa?

– Proyeksi perekonomian Indonesia pada 2026 dinilai tetap berada di jalur stabil dengan inflasi terkendali dan konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama. Namun, di balik optimisme makro tersebut, tekanan ekonomi di tingkat rumah tangga masih dirasakan sebagian masyarakat.

Stabilitas ekonomi nasional itu tidak terlepas dari dinamika sepanjang 2025, ketika pertumbuhan ekonomi relatif terjaga meski dibayangi tantangan global. Pemerintah dan Bank Indonesia pun menargetkan kesinambungan pertumbuhan pada 2026.

“Jadi secara data pertumbuhan ekonomi 2025 itu relatif stabil di tengah tantangan global yang terjadi. Inflasi pun juga tetap terkendali maka itu sebabnya pemerintah menargetkan pertumbuhan pdb sekitar 5-5,5 persen atau lebih tinggi di 2026,” ujar Dewi Pertiwi, dosen Petra Christian University (PCU) Surabaya, sekaligus ketua Program Koordinator Finance and Investment Petra Christian University (PCU) kepada Kompas.com.

Baca juga: Pemerintah dan BI Antisipasi Tekanan Inflasi Awal 2026

Menurut Dewi, proyeksi tersebut mencerminkan optimisme bahwa konsumsi dan investasi domestik masih mampu menopang laju ekonomi nasional. Namun, stabilitas tersebut tetap mensyaratkan kesinambungan aktivitas ekonomi di dalam negeri.

“Artinya pertumbuhan ekonomi ke depan itu diperkirakan tetap bisa stabil dengan syarat konsumsi dan investasi dalam negeri itu terus berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Dari sisi harga, Bank Indonesia menargetkan inflasi tetap berada dalam kisaran aman pada 2026. Target inflasi berada di rentang 2,5 persen plus minus 1 persen atau sekitar 1,5-3,5 persen.

Menurut Dewi, target tersebut sejalan dengan sasaran jangka menengah kebijakan moneter. Artinya, sepanjang 2026 harga barang dan jasa diperkirakan relatif terkendali, meski risiko fluktuasi harga pangan tetap ada akibat faktor musim dan pasokan.

Baca juga: Bank Indonesia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Tembus 5,5 Persen pada 2027

Kenaikan UMP dan Daya Beli Pekerja

Untuk menjaga daya beli masyarakat, pemerintah menaikkan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang berlaku sejak 1 Januari 2026. Kebijakan ini dinilai sebagai salah satu upaya meredam tekanan biaya hidup yang terus meningkat.

“Kalau kita melihat kenaikan UMP di sejumlah daerah yang efektif pada 1 Januari 2026, ini pada dasarnya salah satu upaya pemerintah untuk menjaga daya beli para pekerja karena biaya hidup kan terus mengalami peningkatan,” tutur Dewi.

Meski demikian, ia menilai kebijakan tersebut belum sepenuhnya menjawab tantangan struktural yang ada. Konsumsi rumah tangga masih diharapkan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, yang ditopang oleh program sosial pemerintah dan optimisme konsumen.

Dalam kondisi inflasi yang masih berada dalam target Bank Indonesia, daya beli masyarakat dinilai relatif dapat dijaga. Harga kebutuhan sehari-hari tidak melonjak tajam sehingga masyarakat tidak harus terus-menerus menyesuaikan anggaran belanja.

Baca juga: Hadapi Tantangan Global, Pemerintah Perkuat Daya Beli dan Penyerapan Tenaga Kerja

Kondisi ini turut menopang konsumsi dan membuka peluang kerja di berbagai sektor, mulai dari jasa, ritel, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah.

“Harapannya kalau konsumsi itu tetap berjalan maka dampak lainnya lapangan kerja masih terbuka lebar di berbagai sektor, seperti jasa, detail, transportasi dan umkm itu masih terbuka lebar,” ujar Dewi.

Namun, persoalan kualitas pertumbuhan masih menjadi catatan. Menurut Dewi, banyak sektor yang tumbuh justru berada pada kelompok usaha dengan tingkat upah menengah ke bawah.

“Tetapi kita juga melihat tantangan-tantangan yang masih terjadi, karena banyak perusahaan yang tumbuhnya itu masih di sektor yang memberikan upah itu menengah ke bawah,” imbuhnya.

Baca juga: Menaker Akui Masih Ada UMP 2026 yang Jauh Di Bawah KHL

Harga Pangan dan Tekanan Anggaran Keluarga

Meski ekonomi secara agregat menunjukkan stabilitas, tekanan di tingkat rumah tangga masih terasa, terutama terkait pengelolaan keuangan sehari-hari.

“Ya jadi meskipun ekonominya terlihat stabil, sebagian sektor rumah tangga atau keluarga itu ya mereka masih merasakan tekanan ekonomi di tahun 2026 ini,” kata Dewi.

Ia menyoroti persoalan upah riil yang kerap tergerus inflasi. Jika kenaikan pendapatan tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup, rumah tangga akan semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan keuangan.

Tekanan paling nyata dirasakan saat harga pangan berfluktuasi sepanjang tahun. Dampak ini paling terasa bagi keluarga berpendapatan rendah dan menengah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 60 persen pengeluaran rumah tangga di Indonesia digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan.

“Nah kalau kita lihat data BPS, lebih dari 60 persen pengeluaran rumah tangga di Indonesia itu masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Jadi kalau misalkan harga pangan itu berfluktuasi maka masyarakat paling merasakan dampaknya,” ujar Dewi.

Fluktuasi tersebut tidak hanya memengaruhi konsumsi, tetapi juga berpotensi menggerus anggaran bulanan keluarga, termasuk tabungan dan dana darurat.

Menjawab pertanyaan apakah inflasi menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat pada 2026, Dewi menilai risikonya tetap ada meski masih dalam batas terkendali.

“Diperkirakan inflasi secara umum itu tidak akan melonjak secara drastis selama tetap dalam target Bank Indonesia. Tapi yang perlu dicermati bersama-sama itu inflasi pangan dan kehidupan sehari-hari. Itu kan tetap menjadi tantangan paling nyata,” pungkasnya.

Tag:  #ekonomi #2026 #stabil #mengapa #tekanan #rumah #tangga #masih #terasa

KOMENTAR