Bos BEI Bantah Tolak ''Free Float'' MSCI: Kami Justru Membantu...
- PT Bursa Efek Indonesia (BEI) membantah anggapan bahwa otoritas pasar modal menolak proposal metodologi perhitungan free float yang digunakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk saham-saham emiten Indonesia.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengatakan MSCI sejatinya telah melakukan konsultasi kepada seluruh konstituennya terkait proposal perubahan metodologi perhitungan free float, termasuk rencana pengelompokan kepemilikan saham ke dalam kategori corporate dan others, sejak akhir 2025.
Dalam proposal tersebut, MSCI menyampaikan rencana penggunaan data kepemilikan saham dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Namun, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan KSEI mencermati bahwa data KSEI selama ini masih mencampurkan kepemilikan saham di bawah dan di atas 5 persen.
Karena itu, menurut Iman, penting untuk mencegah kesalahan pemahaman dalam pembacaan data tersebut agar tidak menimbulkan interpretasi yang keliru.
“Memang dari awal, beberapa hal kita melihat bahwa jangan sampai dia (MSCI) salah kaprah mengambil data KSEI yang tercampur antara di bawah dan di atas 5 persen,” ujar Iman saat ditemui di gedung BEI, Rabu (28/1/2026).
Baca juga: IHSG Anjlok Terseret Isu MSCI, Bos BEI Beberkan Strategi Redam Pasar
Morgan Stanley Capital International (MSCI) menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia.Kekhawatiran serupa juga mengemuka dalam diskusi langsung yang dilakukan bersama OJK dan MSCI di Amerika Serikat pada akhir tahun lalu. Dalam pertemuan tersebut, BEI melihat bahwa pengelola indeks global menghadapi tantangan karena data yang dibutuhkan tidak berada dalam satu sumber.
Data kepemilikan saham, kata Iman, tersebar di KSEI, di bursa, serta pada keterbukaan informasi emiten, sehingga perlu proses penyelarasan agar dapat dibaca secara utuh.
“Dan kita juga waktu diskusi dengan mereka, saya pribadi sudah berangkat dengan Pak Irvan, dengan OJK, berdiskusi langsung mereka, merasa mereka kesulitan karena datanya scattered. Jadi datanya itu tidak di satu tempat, ada di KSEI, ada di bursa, ada di informasi emiten,” paparnya.
Sikap BEI tersebut bukan berarti enggan mengikuti metodologi MSCI. Justru bursa dapat membantu agar penilaiannya lebih tepat. Tak hanya itu, sejak awal yang diminta BEI adalah perlakuan yang setara, lantaran penerapan metodologi perhitungan Free float tidak digunakan di bursa negara lain.
“Ini bukan berarti kami tidak mau atau enggan mengikuti. Yang kami minta sejak awal adalah perlakuan yang setara. Namun, jika metodologi yang digunakan dapat kami bantu agar penilaiannya lebih tepat, tentu tidak ada alasan untuk tidak melakukannya,” paparnya.
“Intinya, posisi kami bukan menolak, melainkan membantu, agar proses yang berjalan tidak keliru dalam membaca kondisi pasar,” lanjut Iman.
Baca juga: Efek Pengumuman MSCI ke Kinerja IHSG, Berdampak Panjang?
Bantu MSCI selaraskan data
Ilustrasi logo OJK. Lebih jauh, OJK dan self regulatory organization (SRO) dipastikan mendukung dan memudahkan proses pencarian dan penyelarasan data yang dibutuhkan MSCI. Kendati BEI ingin memastikan penilaian tidak dilakukan hanya dengan menarik data mentah dari KSEI tanpa konteks yang memadai.
“Dengan pendekatan tersebut, mereka dapat melihat bahwa SRO dan OJK bersikap mendukung dan berupaya memudahkan pencarian serta penyelarasan data. Kami ingin memastikan penilaian tidak dilakukan hanya dengan menarik data mentah dari KSEI lalu langsung digunakan tanpa konteks,” ucap Iman.
Ia menekankan persiapan data yang dilakukan BEI bukanlah penyediaan data baru, melainkan penataan ulang atas informasi yang sebenarnya sudah tersedia agar dapat dibaca secara lebih komprehensif.
Baca juga: Mengapa Pengumuman MSCI Bikin IHSG Anjlok Sampai Trading Halt?
Iman juga menegaskan proses ini bukan baru dimulai dalam waktu dekat. Konsultasi formal memang berlangsung sekitar dua bulan terakhir, tetapi diskusi substantif dengan MSCI telah berjalan sejak tahun lalu.
Meski demikian, soal apakah data yang disampaikan tersebut dinilai cukup atau tidak, sepenuhnya berada di luar kewenangan BEI. Bursa tidak berada dalam posisi untuk mendikte kebutuhan atau menawar standar penilaian.
“Ketika kami diskusi, Bursa bisanya kasih apa? Mereka lihat. Nah itulah keputusan mereka ketika mereka komit,” lanjut Iman.
Baca juga: MSCI Bekukan Rebalancing, BEI Janjikan Transparansi Data Pasar
Kebijakan MSCI
Sebagaimana diketahui, MSCI telah memutuskan untuk menangguhkan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia. Keputusan ini diambil menyusul kekhawatiran terhadap tingginya konsentrasi kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tercatat.
Penangguhan tersebut akan berlaku hingga otoritas pasar dinilai mampu mengatasi isu struktur kepemilikan yang dianggap terlalu terkonsentrasi.
Kebijakan MSCI tersebut menjadi tekanan tambahan bagi pasar saham Indonesia, yang merupakan pasar modal terbesar di kawasan Asia Tenggara. Dalam pernyataannya, MSCI menyebutkan akan menghentikan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks-indeksnya, serta membekukan peningkatan jumlah saham yang dinilai tersedia bagi investor.
Keputusan itu didasarkan pada masih adanya persoalan mendasar terkait kelayakan investasi, termasuk kekhawatiran terhadap potensi praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat mendistorsi proses pembentukan harga saham.
MSCI juga mengingatkan bahwa jika hingga Mei 2026 Indonesia belum menunjukkan kemajuan signifikan dalam peningkatan transparansi, lembaga tersebut akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia.
Peninjauan ulang tersebut berpotensi berdampak besar, mulai dari penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index hingga kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier.
Baca juga: Pembekuan MSCI Jadi Alarm Pasar Modal RI, Regulator Punya Waktu 3-4 Bulan
Dampak free float MSCI
Kendati begitu, Iman menilai dampak jangka pendek dari keputusan MSCI relatif terbatas. Pada periode Februari hingga Mei 2026, tidak akan ada perubahan konstituen indeks, sehingga jumlah emiten Indonesia di MSCI tetap dan market share Indonesia dipastikan bertahan di kisaran 1,5 persen.
Kondisi tersebut, menurutnya, memberi ruang waktu bagi pasar dan regulator untuk melakukan penyesuaian tanpa tekanan perubahan bobot indeks secara langsung.
“Dari mulai Februari sampai dengan Mei tidak ada pergerakan, artinya jumlah emiten kita akan tetap. Market share kita yang saat ini 1,5 persen di MSCI akan stay di 1,5 persen. Itu adalah bagaimana kami membaca ya pengumuman MSCI,” jelasnya.
Adapun, tantangan terbesar justru berada pada periode selanjutnya. Iman menyebut pekerjaan rumah utama muncul menjelang pertengahan tahun, ketika MSCI kembali mengevaluasi apakah transparansi data yang diminta telah terpenuhi. Oleh karena itu, diskusi dengan MSCI terus dilakukan secara berkelanjutan.
Baca juga: IHSG Anjlok, Pasar Merespons Pembekuan Indeks MSCI
Tag: #bantah #tolak #free #float #msci #kami #justru #membantu