Benteng Pendem Ambarawa, Arsitektur Klasik Eropa di Kabupaten Semarang
– Tak perlu jauh-jauh ke Eropa untuk menikmati kemegahan arsitektur klasik peninggalan abad ke-19.
Di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, berdiri kokoh Fort Willem I atau yang lebih dikenal masyarakat setempat dengan nama Benteng Pendem.
Berlokasi di tengah persawahan Desa Lodoyong, benteng ini menjadi saksi bisu perjalanan sejarah, mulai dari era kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, hingga perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaan.
Struktur unik layaknya kapal
Nama "Benteng Pendem" disematkan karena konstruksinya yang seolah terpendam di tengah areal persawahan dan belukar.
Menariknya, meski dibangun di atas lahan rawa, benteng ini tetap kokoh menghadapi guncangan alam.
Ketua RT 07 Desa Lodoyong, Mahmudi, mengungkapkan bahwa rahasia kekokohan benteng ini terletak pada penggunaan balok-balok kayu jati berukuran besar sebagai fondasi utamanya.
“Ceritanya seperti itu, jadi bangunan ini layaknya kapal karena berdiri di tengah rawa. Jadi pas gempa Yogya (2006), hampir tidak terasa, bangunannya pun masih utuh,” ujar Mahmudi, sebagaimana dikutip dari laman Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Menurut Mahmudi, nama benteng ini diambil dari nama Raja Belanda, Willem Frederik Prins Vans Oranje-Nassau (1815-1840).
Dibangun selama 11 tahun (1834–1845), bangunan ini awalnya berfungsi sebagai barak serdadu dan gudang logistik yang mampu menampung hingga 12.000 prajurit
Keterangan Mahmudi juga diperkuat oleh penelitian ilmiah dari Jurnal ‘Ruang’ milik Universitas Diponegoro tahun 2016. Selain menampung serdadu, tempat ini digunakan untuk menyimpan logistik perang, mulai dari mimis, bedil, meriam, hingga kendaraan berat.
Benteng Pendem Ambarawa Setelah Revitalisasi, Sabtu (15/11/2025).
Di balik dindingnya yang tebal, tersimpan kisah pilu perjuangan. Tokoh pejuang sekaligus ulama, Kiai Mahfud Salam, diketahui pernah ditahan di benteng ini hingga akhir hayatnya.
Jejak sejarah lainnya tertoreh dalam peristiwa Palagan Ambarawa. Kawasan strategis ini sempat menjadi sasaran perebutan oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di bawah pimpinan Jenderal Besar Soedirman.
Kini, sebagian kompleks benteng masih berfungsi sebagai Lapas Kelas IIA Ambarawa serta rumah dinas sipir dan tentara.
"Setiap hari pasti ada pengunjung. Yang mengelola warga-warga yang tinggal di sini," tambah Mahmudi.
Spot foto favorit dan lokasi syuting
Visual benteng yang eksotis dengan deretan gerbang melengkung dan dinding kuno yang mengelupas menjadikannya spot foto favorit wisatawan.
Keaslian arsitekturnya bahkan menarik perhatian dunia perfilman. Sutradara Hanung Bramantyo pernah memilih lokasi ini sebagai tempat syuting film Soekarno pada tahun 2013.
Bagi kamu yang tertarik berkunjung, lokasi ini dapat ditempuh sekitar 1,5 jam berkendara dari Kota Semarang. Akses masuk dapat dilalui melalui jalur lingkar Ambarawa.
Wisatawan hanya perlu membayar retribusi yang sangat terjangkau, yakni sebesar Rp 5.000 per orang, belum termasuk biaya parkir kendaraan.
Tag: #benteng #pendem #ambarawa #arsitektur #klasik #eropa #kabupaten #semarang