Membandingkan Jalur ATR42-500 vs Prosedur Approach Makassar: Keluar dari Koridor Aman
Analisis data FlightAware yang dioverlay dengan peta AIP Indonesia runway 21 Makassar.(FlightAware)
11:03
23 Januari 2026

Membandingkan Jalur ATR42-500 vs Prosedur Approach Makassar: Keluar dari Koridor Aman

– Jalur penerbangan pesawat ATR 42-500 PK-THT milik Indonesia Air Transport sebelum menabrak pegunungan di Maros, Sulawesi Selatan, diketahui menyimpang dari prosedur standar pendekatan (instrument approach) menuju Runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Hal ini terlihat dari pencocokan data pergerakan pesawat yang direkam oleh situs FlightAware, dengan chart Instrument Approach Chart ILS/LOC RWY 21.

Berdasarkan analisis data FlightAware yang dioverlay dengan peta AIP Indonesia, rute pesawat yang digambarkan dengan garis oranye di atas, tidak mengikuti jalur pendekatan resmi yang seharusnya dilalui untuk mendarat di Makassar.

Padahal, prosedur standar mengharuskan pesawat masuk melalui titik Initial Approach Fix (IAF) ARAJA, lalu bergerak ke OPENG, dilanjutkan ke KABIB sebagai Intermediate Fix (IF), menuju Final Approach Point (FAP), dan akhirnya mengikuti localizer ILS ke arah landasan pacu Runway 21 dengan heading 210.

Namun, lintasan aktual pesawat justru menunjukkan pergerakan ke arah timur dan tenggara dari jalur tersebut.

Pesawat terlihat melintas di luar koridor pendekatan resmi, tidak melalui poin ARAJA, namun mendekati poin OPENG, lalu terus lurus masuk ke wilayah pegunungan di sisi timur Makassar, yang dikenal memiliki kontur ketinggian tinggi, bukan menuju titik KABIB sesuai chart.

Pada peta approach chart, sektor timur Bandara Sultan Hasanuddin masuk ke dalam area dengan Minimum Safe Altitude (MSA) sekitar 8.500 kaki. Artinya, pesawat yang berada di sektor tersebut wajib mempertahankan ketinggian minimal itu agar tetap aman dari bahaya terrain.

Sementara dari data pelacakan penerbangan, pesawat PK-THT diketahui berada jauh di bawah ketinggian aman tersebut.

Sejalan dengan temuan KNKT

Penyimpangan ini sejalan dengan kronologi yang diungkapkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Blackbox Pesawat ATR 42-500 Milik IAT Telah ditemukan oleh TIM SAR, di Gunung Bulusaraung, Sulsel, Rabu (21/1/2026)Dok Istimewah Blackbox Pesawat ATR 42-500 Milik IAT Telah ditemukan oleh TIM SAR, di Gunung Bulusaraung, Sulsel, Rabu (21/1/2026)

Dalam keterangan resminya, KNKT menyebut pesawat masih berkomunikasi dengan pengatur lalu lintas udara (ATC) Makassar saat diarahkan untuk melakukan pendekatan (approach) ke Bandara Sultan Hasanuddin.

Tak lama kemudian, radar kehilangan kontak dengan pesawat, sebelum akhirnya serpihan pesawat ditemukan di area pegunungan Bulusaraung di Maros.

Lokasi ditemukannya serpihan pesawat berada jauh di timur dari jalur final approach ILS Runway 21. Hal ini menunjukkan bahwa pesawat belum pernah benar-benar memasuki jalur pendaratan yang dilindungi oleh sistem navigasi ILS.

Secara prosedural, jalur ILS Runway 21 dirancang agar pesawat tetap berada di koridor udara yang aman dari hambatan terrain (pegunungan).

Sebaliknya, wilayah timur Makassar merupakan daerah bergunung yang secara navigasi hanya aman dilintasi bila pesawat berada pada ketinggian tertentu sesuai ketentuan MSA.

“Dari chart pendekatan Makassar terlihat bahwa pesawat tidak berada di jalur ILS RWY 21. Pesawat justru bergerak ke sektor timur yang memiliki medan pegunungan tinggi dan membutuhkan ketinggian jauh lebih besar,” demikian kesimpulan dari pencocokan lintasan penerbangan dengan peta prosedur pendekatan.

Pesawat ATR42-500 milik Indonesia Air Transport  saat mendarat di Bandar Udara Rembele pada 5 Desember 2025 lalu.KOMPAS.COM/ Iwan Bahagia Pesawat ATR42-500 milik Indonesia Air Transport saat mendarat di Bandar Udara Rembele pada 5 Desember 2025 lalu.

Dengan posisi di luar jalur prosedural dan berada di bawah ketinggian aman, risiko tabrakan dengan permukaan tanah atau gunung menjadi sangat besar.

Dalam dunia penerbangan, kondisi ini dikenal sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT), yakni situasi ketika pesawat masih dalam kendali pilot, namun menabrak terrain akibat kesalahan navigasi, ketinggian, atau persepsi posisi.

KNKT hingga kini masih melanjutkan investigasi untuk mengungkap faktor penyebab pasti kecelakaan, termasuk kemungkinan kesalahan navigasi, masalah instrumen, kondisi cuaca, maupun faktor manusia.

Namun, data lintasan penerbangan dan peta pendekatan (approach) menunjukkan bahwa pesawat berada di sektor yang secara prosedural tidak aman untuk ketinggian terbangnya.

Temuan ini memperkuat indikasi bahwa penyimpangan jalur dari prosedur approach resmi menjadi salah satu aspek penting yang akan menjadi fokus penyelidikan kecelakaan ATR 42-500 PK-THT di Maros.

Tag:  #membandingkan #jalur #atr42 #prosedur #approach #makassar #keluar #dari #koridor #aman

KOMENTAR