Saat AI Menjadi Teman Kepercayaan Manusia, Laporan Microsoft Copilot 2025 Ungkap Dampaknya pada Interaksi Global
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi semata menjadi alat bantu kerja, tetapi mulai bertransformasi menjadi teman kepercayaan manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Laporan Copilot Microsoft 2025 yang menganalisis 37,5 juta percakapan pengguna sepanjang Januari hingga September 2025 menunjukkan bagaimana AI dimanfaatkan tidak hanya untuk produktivitas, tetapi juga untuk nasihat personal, refleksi emosional, hingga pencarian makna hidup.
Dilansir dari Forbes, Rabu (31/12/2025), laporan yang dirilis Microsoft ini menegaskan bahwa penggunaan Copilot mengikuti ritme kehidupan manusia dengan presisi tinggi. Penggunaan melalui desktop didominasi kebutuhan kerja seperti produktivitas dan pemrograman, sementara akses melalui ponsel lebih banyak diarahkan pada isu kesehatan, pengembangan diri, dan hubungan personal.
Pergeseran ini menandai perubahan relasi manusia dengan AI, dari sekadar mesin pencari informasi menjadi entitas yang dipercaya dan diandalkan.
Menurut laporan tersebut, waktu penggunaan AI juga mencerminkan kebutuhan emosional dan sosial manusia. Pertanyaan filosofis meningkat pada dini hari, sedangkan topik hubungan melonjak menjelang momen seperti Hari Valentine. Pola ini memperlihatkan bahwa AI tidak hanya digunakan untuk kebutuhan fungsional, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan pencarian nasihat pribadi.
Temuan ini diperkuat oleh The Indian Express yang mencatat bahwa Copilot kini dipandang sebagai “pendamping kerja di siang hari dan tempat berkeluh kesah pada malam hari”. Fenomena tersebut menegaskan posisi AI yang kian intim dalam keseharian manusia.
Namun, meski unggul dari sisi skala dan pola perilaku, laporan tersebut belum menjawab pertanyaan krusial tentang dampak lanjutan dari interaksi ini. Apakah pengguna yang meminta saran kesehatan melalui AI benar-benar melanjutkannya dengan konsultasi profesional, atau justru menggantikan peran manusia dalam pengambilan keputusan penting, masih belum terukur secara jelas.
CEO Microsoft AI Mustafa Suleyman sebelumnya mengingatkan risiko yang dia sebut sebagai “AI yang tampak memiliki kesadaran manusia.”
Menurutnya, bahaya terbesar bukan terletak pada kemungkinan AI benar-benar memiliki kesadaran layaknya manusia, melainkan pada kecenderungan pengguna menafsirkan respons AI yang semakin fasih dan personal sebagai bukti adanya pengalaman subjektif.
“Sistem ini akan meyakinkan sebagian pengguna bahwa mereka memiliki pengalaman subjektif, meski sebenarnya tidak,” ujar Suleyman, sebagaimana dikutip Forbes.
Peringatan Suleyman tersebut muncul di tengah pendekatan Microsoft yang sangat berhati-hati dalam membaca interaksi pengguna. Laporan Copilot 2025 disusun berdasarkan ringkasan percakapan anonim, bukan transkrip mentah.
Di satu sisi, pendekatan ini melindungi privasi pengguna, tetapi di sisi lain membatasi penilaian lebih mendalam terhadap dampak sosial dan psikologis penggunaan AI.
Para analis teknologi global menilai perubahan pola interaksi ini menuntut metrik baru dalam menilai kinerja AI. Pengukuran tidak lagi cukup berfokus pada frekuensi penggunaan, melainkan harus mencakup kesejahteraan emosional, potensi ketergantungan psikologis, serta dampaknya terhadap kemampuan sosial dan penilaian manusia.
Sejumlah peneliti juga menyoroti risiko antropomorfisme, yaitu kecenderungan manusia memberikan sifat-sifat manusia kepada mesin. Dalam praktiknya, hal ini dapat memengaruhi perilaku sosial ketika kepercayaan terhadap saran AI mengalahkan pertimbangan profesional atau interaksi antarmanusia.
Kesimpulannya, temuan Copilot Usage Report 2025 menandai fase penting dalam evolusi AI global. AI kini tidak hanya membentuk cara manusia bekerja, tetapi juga cara manusia berpikir, merasa, dan berinteraksi.
Tantangan ke depan bukan sekadar meningkatkan kemampuan teknologi, melainkan memastikan bahwa kehadiran AI memperkuat, bukan menggerus, fondasi interaksi dan penilaian manusia. ***
Tag: #saat #menjadi #teman #kepercayaan #manusia #laporan #microsoft #copilot #2025 #ungkap #dampaknya #pada #interaksi #global