Menyelami Dunia Braille, Membaca Lewat Sentuhan
- Di tengah dunia yang dipenuhi huruf dan gambar, Braille hadir sebagai bagian terpenting bagi mereka yang tidak dapat melihat. Sistem tulisan ini memungkinkan penyandang tunanetra untuk membaca dan menulis melalui sentuhan, menggunakan kombinasi enam titik timbul yang membentuk huruf, angka, dan simbol. Diciptakan oleh Louis Braille pada tahun 1824, sistem ini telah menjadi alat literasi yang tak tergantikan bagi jutaan orang di seluruh dunia.
Louis Braille menciptakan sistem ini saat berusia 15 tahun, terinspirasi dari “tulisan malam” milik Charles Barbier yang awalnya dirancang untuk komunikasi militer dalam gelap. Namun, Braille menyederhanakan sistem tersebut menjadi enam titik dalam satu sel, memungkinkan 63 kombinasi karakter yang bisa dibaca dengan ujung jari. Menurut Encyclopaedia Britannica, sistem Braille langsung diterima oleh teman-teman sekelasnya, meskipun butuh waktu lama hingga diadopsi secara resmi oleh institusi pendidikan.
Braille bukan hanya alat baca, tapi juga simbol perjuangan dan kemandirian. Bagi komunitas tunanetra, Braille adalah bahasa yang memberi ruang untuk belajar, bekerja, dan berpartisipasi aktif dalam masyarakat. Dalam laporan Global Report on Assistive Technology dari WHO, disebutkan bahwa Braille tetap menjadi alat bantu penting untuk membangun literasi dan akses informasi yang setara.
Namun, akses terhadap Braille belum merata. WHO mencatat bahwa lebih dari 2,5 miliar orang di dunia membutuhkan teknologi bantu, termasuk Braille, tetapi hanya 10% yang benar-benar memilikinya. Hal ini menunjukkan masih adanya kesenjangan besar dalam akses pendidikan dan informasi bagi penyandang disabilitas penglihatan.
Di era digital, muncul pertanyaan seperti, apakah Braille masih relevan? Beberapa pihak berpendapat bahwa teknologi suara seperti screen reader sudah cukup. Namun, para pendidik dan aktivis menegaskan bahwa Braille tetap penting untuk membangun kemampuan literasi sejati. “Mendengar bukanlah membaca,” tegas Dr. Kevin Carey, Ketua Dewan Braille Inggris, dalam laporan WHO.
Teknologi justru membuka peluang baru bagi Braille. Inovasi seperti e-Braille reader, ialah layar digital dengan titik-titik timbul yang bisa berubah secara otomatis, menjadi harapan baru bagi akses literasi yang lebih luas. Perusahaan teknologi di berbagai negara kini berlomba menciptakan perangkat Braille yang lebih terjangkau dan portabel.
Pendidikan Braille juga menjadi tantangan tersendiri. Di banyak negara berkembang, masih minim guru yang terlatih mengajarkan Braille. Akibatnya, banyak anak tunanetra yang tidak mendapatkan pendidikan literasi yang layak. Hal ini berdampak langsung pada tingkat partisipasi mereka dalam pendidikan dan dunia kerja.
Meski begitu, semangat mempertahankan Braille tetap menyala. Komunitas tunanetra di berbagai belahan dunia terus mengadakan lokakarya, kampanye kesadaran, hingga festival literasi Braille. Semua ini dilakukan untuk memastikan bahwa sistem ini tidak dilupakan, dan tetap menjadi bagian dari masa depan yang inklusif.
Membaca lewat sentuhan bukan cuma soal teknik. Ini adalah cara tunanetra melawan keterbatasan dan menunjukkan bahwa mereka juga punya hak untuk belajar dan tahu banyak hal. Di setiap titik Braille, ada harapan dan keberanian yang terus hidup. (*)