Amran Sebut Stok Daging Sapi dan Kerbau Cukup Sampai Ramadhan
- Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman, menyebut stok daging sapi dan kerbau saat ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga Ramadhan.
Amran mengatakan, dalam Proyeksi Neraca Pangan Daging Sapi/Kerbau per 6 Januari 2026, pihaknya telah menghitung stok daging sapi dan kerbau pada Januari 2026 sebanyak 41,7 ribu ton.
Stok tersebut merupakan carry over dari tahun 2025 yang dinilai mencukupi kebutuhan daging masyarakat hingga bulan Februari-Maret mendatang.
Di luar itu, untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri, pemerintah telah menetapkan kuota impor sapi/kerbau bakalan 700.000 ekor.
"Ini kuota impor sapi, sudah keluar. Di mana masalahnya? Tidak ada yang dipersulit. Kita sudah keluarkan,” kata Amran sebagaimana dikutip dari keterangan resmi, Jumat (23/1/2026).
Amran mengatakan, kuota impor 700.000 ekor sapi bakalan itu diberikan kepada 80 perusahaan penggemukan (feedlot) yang diperkirakan setara dengan 189.700 ton daging sapi/kerbau.
Sementara itu, produksi daging sapi/kerbau dalam negeri diperkirakan mencapai 421.000 ton.
Dengan tambahan daging dari 700.000 sapi bakalan, maka stok secara nasional ditargetkan akan mencapai 949.700 ton.
Adapun kebutuhan konsumsi daging sapi/kerbau nasional yang terdiri dari kebutuhan rumah tangga dan non-rumah tangga mencapai 794.300 ton.
Lebih lanjut, Bapanas mencatat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) dalam bentuk daging sapi dan kerbau masing-masing 8.000 ton dan 3.000 ton.
Sementara, BUMN pangan ID Food memiliki stok daging sapi dan kerbau 11.000 ton dan Perum Bulog 18.000 ton.
Menurut Amran, pemerintah terus memperkuat stok CPP daging sapi dan kerbau melalui BUMN bidang pangan.
Pemerintah memandang, distribusi daging sapi dan kerbau dilakukan secara konsisten menggunakan operasi pasar, salah satunya Gerakan Pangan Murah (GPM) di seluruh wilayah.
Lapak pedagang daging sapi yang masih buka di tengah aksi mogok, Pasar Depok Jaya, Pancoran Mas, Kota Depok, Kamis (22/1/2026).Ia menegaskan, pemerintah harus hadir membantu masyarakat ketika harga daging sapi dan kerbau bergejolak di pasaran.
Penambahan kuota impor untuk BUMN pangan, kata dia, akan digunakan untuk kepentingan masyarakat melalui intervensi pasar sehingga harga daging tetap terjangkau.
"Ingat, yang diimpor oleh BUMN, itu untuk rakyat. Bukan untuk konsumsi BUMN. Tapi untuk intervensi pasar. Kenapa? Kalau terjadi lonjakan harga, yang tanggung jawab siapa? Pemerintah. Karena kalau ada apa-apa, kita bisa intervensi," tutur Amran.
Pemangkasan Kuota Impor Swasta
Diketahui, pada 2025 Kementan menetapkan kuota impor 180.000 ton daging sapi untuk pengusaha swasta.
Namun, pada 2026, pemerintah hanya membuka keran impor 47.098 ton untuk pengusaha swasta dengan rincian 30.000 untuk klaster trader dan 17.098 untuk produsen.
Sementara, kuota impor perusahaan BUMN pada 2026 melonjak drastis menjadi 250.000 hingga 297.000 ton.
Rinciannya, 100.000 ton daging kerbau India, 75.000 ton daging sapi Brasil, dan 75.000 ton daging sapi dari negara lain.
Pemerintah memberikan seluruh kuota itu kepada PT Berdikari dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Pembagian kuota ini diprotes kalangan pengusaha.
Wakil Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (APPHI) Marina Ratna DK, mengatakan kuota impor yang diberikan untuk swasta sangat sedikit.
“Perusahaan swasta berjumlah 108 perusahaan, terdiri dari 74 perusahaan lama dan 34 perusahaan baru, hanya mendapatkan 30.000 ton. Sisa 17.000 ton dialokasikan untuk daging industri,” ujar Marina.
Tag: #amran #sebut #stok #daging #sapi #kerbau #cukup #sampai #ramadhan