Transisi Energi Jalan, Migas Masih Jadi Penopang Ekonomi RI
Direktur Keuangan Pertamina Hulu Energi Bayu Kusuma Dewanto saat memberi paparan di UGM, Selasa (20/1/2026).(DOK. PHE)
11:24
23 Januari 2026

Transisi Energi Jalan, Migas Masih Jadi Penopang Ekonomi RI

– Di tengah percepatan transisi menuju energi rendah karbon, minyak dan gas bumi (migas) masih memegang peran penting sebagai penopang ketahanan energi nasional sekaligus menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi Indonesia.

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Bayu Kusuma Dewanto dalam acara Pembekalan Calon Wisudawan Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Periode II Tahun Akademik 2026/2027 di Grha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta, Selasa (20/1/2026).

Bayu menilai, kebutuhan energi domestik yang terus meningkat membuat migas tetap dibutuhkan di tengah proses transisi energi. Menurut dia, sektor ini juga berperan sebagai sumber arus kas yang menopang keberlanjutan investasi, baik untuk menjaga produksi maupun mengembangkan bisnis rendah karbon.

“Di tengah transisi energi, sektor migas tetap berperan sebagai penopang utama ketahanan energi nasional. Arus kas dari bisnis migas memungkinkan Pertamina menjaga keberlanjutan investasi, termasuk untuk eksplorasi, peningkatan produksi, dan pengembangan bisnis rendah karbon,” ujar Bayu dalam keynote speech bertajuk "Staying Relevant: Navigating Change in a Dynamic World", dikutip Jumat (23/1/2026).

Tantangan Produksi dan Upaya Menjaga Pasokan

Di sektor hulu, Bayu mengungkapkan PHE menghadapi tantangan penurunan alamiah atau natural decline produksi migas. Kondisi tersebut mendorong perusahaan menjalankan sejumlah program strategis untuk menjaga tingkat produksi nasional.

Berbagai upaya dilakukan, mulai dari kegiatan pengeboran (drilling), workover, well intervention & well service (WIWS), hingga penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dan Improved Oil Recovery (IOR). Langkah-langkah ini ditujukan untuk memastikan pasokan migas domestik tetap terjaga di tengah dinamika transisi energi.

Selain mempertahankan produksi yang sudah ada, PHE juga terus mendorong kegiatan eksplorasi guna memperkuat cadangan energi nasional. Bayu menyebut Indonesia masih memiliki potensi cekungan migas yang belum tereksplorasi secara optimal.

“Indonesia masih memiliki potensi besar cekungan migas yang belum tereksplorasi, sehingga membuka peluang investasi dan kolaborasi strategis guna mendukung keberlanjutan pasokan energi jangka panjang,” kata Bayu.

Transisi Energi dan Komitmen ESG

Dalam paparannya, Bayu juga menyinggung agenda transisi energi yang dijalankan PHE secara bertahap dan terukur, sejalan dengan penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG). Salah satu fokusnya adalah pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture, Storage, and Utilization (CCS/CCUS).

Saat ini, PHE mengelola potensi kapasitas penyimpanan karbon sebesar 7,3 Giga Ton yang tersebar di 11 lokasi prioritas. Teknologi ini diharapkan dapat memperpanjang usia lapangan migas sekaligus menurunkan emisi karbon dari kegiatan hulu migas.

Di sisi tata kelola, PHE juga menegaskan komitmen terhadap praktik bisnis yang bersih. Perusahaan menerapkan kebijakan Zero Tolerance on Bribery melalui pencegahan fraud dan implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah terstandarisasi ISO 37001:2016.

Bayu menegaskan, seluruh langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga relevansi sektor migas di tengah perubahan lanskap energi global, sekaligus memastikan kontribusinya terhadap ketahanan energi dan perekonomian nasional tetap terjaga.

Tag:  #transisi #energi #jalan #migas #masih #jadi #penopang #ekonomi

KOMENTAR