Kasus Suspek Campak Naik Tajam Awal 2026, Kemenkes Minta Warga Waspada dan Kenali Gejalanya
- Kemenkes mencatat lonjakan kasus suspek campak Januari 2026 meningkat tiga kali lipat dibanding dua tahun sebelumnya.
- Sepanjang 2025 terdapat 116 KLB campak di 16 provinsi dengan total 63.769 suspek terdata.
- Dua kasus campak Indonesia terdeteksi di Australia, meningkatkan kekhawatiran di daerah cakupan imunisasi rendah.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan lonjakan kasus suspek campak pada Januari 2026. Angkanya disebut meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama dalam dua tahun sebelumnya.
Pelaksana Tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan tren kenaikan terlihat konsisten saat membandingkan data Januari 2024, 2025, dan 2026.
“Memang ada peningkatan jika dibandingkan bulan yang sama dalam tiga tahun terakhir, dan Januari 2026 paling tinggi,” kata Andi dalam konferensi pers virtual, Kamis (26/2/2026).
Sepanjang 2025, tercatat 116 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di 89 kabupaten/kota pada 16 provinsi. Total ada 63.769 suspek, dengan 11.924 kasus sudah dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium.
Meski jumlah kasus tinggi, angka kematian dinilai masih terkendali.
Dari seluruh kasus 2025, terdapat 69 kematian dengan Case Fatality Rate (CFR) 0,1 persen. Hingga minggu ke-7 tahun 2026, terdapat 8.224 suspek, 572 terkonfirmasi, dan empat kematian, dengan CFR 0,05 persen.
Lima provinsi dengan KLB terbanyak sepanjang 2025 yakni Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Kewaspadaan makin meningkat setelah Australia melaporkan dua kasus campak yang berasal dari Indonesia melalui mekanisme International Health Regulation (IHR).
Kasus pertama adalah perempuan 18 tahun yang terbang dari Jakarta ke Perth dalam kondisi bergejala ruam. Ia diketahui sudah menerima dua dosis vaksin MMR dan kini telah sembuh.
Sementara kasus kedua dialami anak perempuan usia 6 tahun yang terbang ke Sydney dan belum memiliki riwayat vaksinasi.
Temuan ini memunculkan kekhawatiran adanya kasus yang belum terdeteksi, khususnya di daerah dengan cakupan imunisasi rendah.
Gejala Awal Sering Dianggap Flu Biasa
Konsultan Infeksi dan Penyakit Tropik RSCM, Mulya Rahma Karyanti, menegaskan campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Satu penderita bahkan bisa menularkan ke 18 orang di sekitarnya.
Penularan terjadi lewat droplet maupun partikel udara (airborne). Virus juga dapat bertahan di udara atau menempel pada permukaan benda.
Gejala awal sering kali menyerupai flu, seperti demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah. Setelah beberapa hari, muncul ruam kemerahan yang biasanya dimulai dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Pada kondisi berat, campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga radang otak (ensefalitis) yang berpotensi fatal.
Kemenkes pun mengimbau masyarakat tidak menganggap remeh gejala awal campak. Warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami tanda-tanda tersebut, serta memastikan imunisasi anak lengkap untuk mencegah penularan lebih luas.
Tag: #kasus #suspek #campak #naik #tajam #awal #2026 #kemenkes #minta #warga #waspada #kenali #gejalanya