CSIS: ART Indonesia-AS Sulit Disebut Menguntungkan secara Ekonomi
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump berbincang di sela-sela penandatanganan Perjanjian Tarif Resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) di Washington DC, AS, Kamis (19/2/2026) waktu setempat. (Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)
14:44
27 Februari 2026

CSIS: ART Indonesia-AS Sulit Disebut Menguntungkan secara Ekonomi

– Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Riandy Laksono menilai Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat belum memberikan manfaat ekonomi yang nyata.

Riandy melihat perjanjian tersebut dari perspektif ekonomi statis. Ia tidak menemukan keuntungan langsung yang signifikan bagi Indonesia pada kondisi saat ini.

"Apakah ART ini beneficial untuk kita? Kalau saya melihatnya dari sisi statis ekonomi, saya nggak melihat benefit ekonominya ada. Saya enggak melihat benefit ekonominya ada dari pandangan statis saat ini," ujarnya dalam Diskusi Media bertajuk "Perjanjian Perdagangan Resiprokal: Karpet Merah atau Jebakan Perdagangan?" di Jakarta Pusat, Jumat (27/2/2026).

Baca juga: Imbas Tarif Trump, Bitcoin Diprediksi Sulit Tembus 80.000 Dollar AS

Ia menjelaskan akses pasar yang diamankan melalui ART hanya sekitar 2 persen dari total perdagangan Indonesia. Cakupan tersebut dinilai terlalu kecil untuk memberi dampak besar terhadap kinerja ekspor nasional.

Sektor tekstil yang menjadi salah satu andalan ekspor juga belum memperoleh kepastian terkait fasilitas tarif nol persen.

Riandy menilai Indonesia berpotensi menghadapi konsekuensi geopolitik dari kesepakatan tersebut. Implikasi hubungan dengan negara lain yang selama ini menjadi sumber investasi juga perlu diperhitungkan.

Ia menilai perjanjian tersebut sulit dikategorikan menguntungkan jika dilihat dari aspek ekonomi semata. ART dinilai lebih tepat dipahami sebagai strategi dinamis yang berkaitan dengan pertimbangan geopolitik, bukan sekadar mengejar manfaat ekonomi jangka pendek.

Riandy mengingatkan kesepakatan tersebut tidak menjamin Indonesia terhindar dari kebijakan proteksionis atau tekanan perdagangan di masa depan. Negara dengan hubungan dekat dengan Amerika Serikat pun tetap berpotensi menghadapi kebijakan serupa.

Baca juga: Tarif Trump 15 Persen Jadi Ancaman IHSG, Risiko Koreksi hingga 7 Persen Intai Pasar

Ia juga menyoroti tantangan reformasi struktural yang mungkin menyertai perjanjian tersebut. Implementasi reformasi dinilai tidak mudah.

Perubahan regulasi diperlukan, mulai dari peraturan presiden hingga undang-undang. Proses tersebut kompleks secara politik dan administratif.

Riandy menilai keputusan Indonesia bergabung dalam ART lebih mencerminkan pertimbangan strategis jangka panjang dibanding manfaat ekonomi langsung dalam waktu dekat.

Ia mengingatkan manfaat ekonomi berpotensi terbatas apabila reformasi struktural tidak dapat direalisasikan secara efektif.

"Saya bisa argue mungkin manfaat ekonominya negatif kalau dilihat dari all in all, Seperti itu mengesampingkan structural reform-nya. Karena structural reform-nya kita mau, tapi belum tentu bisa. Kayak gitu. Perlu diperhatikan itu perlu ngerubah banyak perpres, ngerubah banyak undang-undang dan lain sebagainya. Nggak gampang dilakukan," tutup.

Tag:  #csis #indonesia #sulit #disebut #menguntungkan #secara #ekonomi

KOMENTAR