Cerita Hamid Awaludin, Lebih Dikenal sebagai Penulis ketimbang Mantan Menteri
Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Hamid Awaludin dalam acara Kopdar Kolumnis – Bedah Buku Kolumnis Kompas.com di Kompas Institute, Jumat (13/2/2026).(KOMPAS.com / IRFAN KAMIL)
13:00
14 Februari 2026

Cerita Hamid Awaludin, Lebih Dikenal sebagai Penulis ketimbang Mantan Menteri

Mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaludin mengungkapkan bahwa identitasnya sebagai penulis justru lebih melekat di benak publik dibanding pengalamannya sebagai pejabat negara.

Hal itu ia sampaikan dalam acara Kopdar Kolumnis – Bedah Buku Kolumnis Kompas.com di Kompas Institute, Jumat (13/2/2026).

Dalam acara ini, Hamid bercerita pengalamannya saat berobat ke Rumah Sakit.

Ketika itu, antrean pasien cukup panjang hingga seorang dokter keluar dan memanggil namanya.

Baca juga: Kolumnis Loyalis Kompas.com: Menulis dari Kegelisahan atas Negeri

Hamid Awaludin yang mana?” tanya dokter kepada para pasien yang tengah menunggu.

“Saya,” lanjut Hamid.

Dokter itu kemudian mempersilakan Hamid masuk lebih dulu.

Menurut Hamid, perlakuan itu bukan karena dirinya dikenal sebagai mantan menteri.

“Dia tidak kenal saya sebagai mantan menteri. Dia kenal saya sebagai penulis,” ujar Hamid.

Setelah berada di dalam ruangan, sang dokter mengungkapkan alasannya.

Baca juga: Kompas.com Luncurkan Buku Kolumnis ‘Menafsir Gelap Menyulam Terang’ Saat Rayakan HUT ke-30

“Saya suka Bapak menulis. Mengolok-olok,” kata sang dokter, ditirukan oleh Hamid.

“Saya senang gayanya Bapak, menulis mengolok-olok dan sesuai keinginan saya,” kata dokter itu melanjutkan.

Dokter tersebut bahkan baru mengetahui latar belakang Hamid setelah bertanya lebih jauh.

“Pak Hamid ini kerjanya apa?” tanya dokter.

“Saya dosen, saya kerjanya di Unhas,” jawab Hamid.

“Tapi pernah dulu ada Hamid Awaludin juga menteri?” kata Hamid menirukan sang dokter yang disambut tawa hadirin.

Baca juga: Kompas.com ke Para Kolumnis: Terima Kasih telah Beri Warna Baru

Menurut Hamid, peristiwa itu menunjukkan kuatnya pengaruh tulisan.

“Artinya, dia lebih lengket saya sebagai penulis dibanding saya pernah jadi menteri. Jadi tidak usah khawatir, tulis saja. Pasti ada yang baca itu,” katanya.

Pengalaman serupa juga ia alami saat berada di Makassar.

Di sebuah warung kopi, sejumlah pemain sepak bola dan pelatih tiba-tiba mengajaknya berfoto.

“Saya pikir kan karena saya mantan menteri hebat, kan?” ujarnya, disambut tawa hadirin.

Baca juga: Saat Korban Bencana Aceh Tamiang Tertegun Terima Bantuan dari Pembaca Kompas.com

Namun, Hamid kemudian menyadari bahwa ketertarikan mereka muncul karena tulisannya tentang Piala Dunia, khususnya artikel berjudul Maroko bukan ayam sembelihan Perancis.

Ia menjelaskan bahwa dalam tulisan tersebut ia mengulas sejarah hubungan politik Perancis dan Maroko, serta mental petarung para pemain Maroko.

“Itu gara-gara 80 persen pemain yang ikut Piala Dunia itu adalah orang Maroko yang merumput di luar,” ujar Hamid.

Dari seluruh pengalaman tersebut, Hamid menegaskan bahwa ia tidak pernah terlalu memikirkan jumlah pembaca.

Baca juga: Perjalanan Tim Kompas.com Salurkan Bantuan ke Pelosok Aceh Tamiang, Tembus Daerah Terisolasi

“Dan buat saya, saya tidak pernah peduli, apakah ada yang baca atau tidak. Pokoknya saya mau menulis, saya tulis. Manfaatnya di kemudian hari,” kata Hamid.

Ia pun menutup ceritanya dengan pesan sederhana kepada para penulis.

“Kesimpulan saya, Pak, tulis, tulis, dan tulis. Pasti ada pengaruhnya. Pasti ada,” kata Hamid.

Acara yang dihadiri puluhan kolumnis Kompas.com ini juga menghadirkan Direktur Eksekutif Indonesian Political Party Watch (IPPW) Ikhsan Tualeka sebagai narasumber.

Diskusi para narasumber dipimpin langsung oleh Amir Sodikin, Pemimpin Redaksi Kompas.com sebagai moderator acara.

Tag:  #cerita #hamid #awaludin #lebih #dikenal #sebagai #penulis #ketimbang #mantan #menteri

KOMENTAR