Kisah Pilu Anak NTT yang Bunuh Diri, Mi'ing Bagito Blak-blakan Sentil Koruptor
Miing Bagito [instagram]
21:24
5 Februari 2026

Kisah Pilu Anak NTT yang Bunuh Diri, Mi'ing Bagito Blak-blakan Sentil Koruptor

Baca 10 detik
  • Seorang anak 10 tahun di NTT bunuh diri karena tidak punya uang Rp10 ribu untuk buku, sorotan Mi'ing Bagito.
  • Mi'ing menyoroti ketimpangan sosial kontras antara kemiskinan ekstrem dan korupsi bernilai triliunan rupiah di Indonesia.
  • Perlu peningkatan kepekaan sosial lingkungan terdekat seperti RT/RW serta pembenahan integritas aparat penegak hukum.

Kasus bunuh diri seorang anak berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dipicu masalah ekonomi menjadi sorotan tajam dalam diskusi antara pelawak sekaligus politisi Tubagus Dedi Suwendi Gumelar alias Mi’ing Bagito dengan Abraham Samad.

Dalam podcast Speak Up, Mi’ing mengungkapkan keprihatinannya atas tragedi yang menimpa siswa SD tersebut. Ia menilai peristiwa ini merupakan tamparan keras bagi kepekaan sosial di Indonesia.

“Ini kan kita dengar satu kisah yang cukup perih ya, anak umur 10 tahun di NTT minta uang untuk sepuluh ribu saja untuk buku dan ini, lalu dia tidak terpenuhi dan dia bunuh diri,” ujar Mi’ing mengawali perbincangan, dikutip pada Kamis (5/2/2026).

Bukan Sekadar Malu, Tapi Tak Ingin Jadi Beban

Mi’ing menyoroti sisi emosional yang sangat dalam dari kasus tersebut. Menurutnya, tindakan nekat anak tersebut menyimpan pesan yang menyayat hati mengenai kondisi kemiskinan di tingkat keluarga.

“Kalau bahasa sentimentalnya bukan anak itu nekat bunuh diri bukan karena malu pada temannya semata, tapi juga ingin meringankan orang tuanya jadi tidak jadi beban. Ini kan sedih sekali,” tuturnya.

Ia juga menyinggung ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia. Mi’ing merasa ironis ketika di satu sisi ada rakyat yang mengakhiri hidup karena uang Rp10 ribu, namun di sisi lain korupsi triliunan rupiah terjadi di kota-kota besar.

“Sementara di kota-kota besar mungkin koruptor kelas kakap mengangkut duit triliunan rupiah. Hanya ketawa-ketawa aja kalau ditangkap. Tapi ini, ini menjadi indikator bahwa kalau saya lihat gitu, sampai hanya sepuluh ribu saja dia tidak punya untuk anggaran sekolah,” tegasnya.

Sentil Peran RT, RW, dan Tetangga

Mi'ing menegaskan bahwa sistem deteksi kerentanan sosial di tingkat bawah harus dipertanyakan. Ia menekankan pentingnya peran lingkungan terdekat sebagai garda terdepan.

“Dan menurut saya di situ fungsinya RT RW ya, selain kelurahan. Paling tidak RT RW dulu lah. RT RW dulu yang seperti ini harusnya menjadi kepekaan. Atau paling tidak sebelum RT RW, tetangganya,” kata Mi’ing.

Ia menambahkan bahwa membantu sesama adalah tanggung jawab bersama, terutama bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih. 

"Agama yang disukai oleh Allah itu, oleh Tuhan itu adalah katanya ketika Musa bertanya kepada... yang disukai bukan salat malamnya kok, bukan puasanya, tapi bantu orang lapar, kasih makan orang lapar," imbuhnya.

Kritik Penegakan Hukum: Menegakkan Benang Basah

Diskusi berkembang pada lemahnya sistem hukum yang dianggap Mi’ing sebagai salah satu penyebab kemiskinan yang berlarut di Indonesia. Ia melontarkan sebuah adagium tentang sulitnya mencari keadilan.

“Menegakkan hukum di Indonesia sama dengan menegakkan benang basah,” ucap Mi’ing.

Bahkan, ia memberikan analogi yang lebih spesifik mengenai tantangan integritas aparat penegak hukum di Indonesia saat ini. 

“Menurut saya, pertanyaannya adalah mana lebih sulit menegakkan hukum atau menegakkan benang basah? Ternyata di Indonesia lebih sulit menegakkan hukum di tempat yang basah.”

Mi’ing menilai, persoalan penegakan hukum di Indonesia justru lebih sulit dibandingkan “menegakkan benang basah”. 

Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan beratnya upaya menegakkan hukum di lingkungan yang telah rusak secara moral. Ia menegaskan bahwa pembenahan penegakan hukum tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi akademik, melainkan harus disertai integritas dan moralitas aparat penegak hukum.

Pentingnya Rasa Malu bagi Pejabat

Menutup pernyataannya, Mi’ing menekankan bahwa akar dari segala persoalan sosial dan hukum di Indonesia adalah hilangnya rasa malu dan rasa takut kepada Tuhan di kalangan pejabat publik.

“Kalau orang sudah tidak punya rasa malu ya repot orang. Rasa malu kan sebagian dari iman seseorang,” jelasnya.

Ia memperingatkan bahwa dampak dari kebohongan pejabat publik jauh lebih luas ketimbang kesalahan individu biasa.

“Ketika pejabat berbohong dan selingkuh pada rakyatnya, jutaan manusia yang jadi korban,” pungkasnya.

Reporter: Dinda Pramesti K

Editor: Bella

Tag:  #kisah #pilu #anak #yang #bunuh #diri #miing #bagito #blak #blakan #sentil #koruptor

KOMENTAR