Gibran dan Dinamika Awal Perebutan Cawapres Prabowo Tahun 2029
Presiden Prabowo Subianto (kiri) disaksikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan pengantar saat memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (5/5/2025). Dalam sidang tersebut Presiden Prabowo Subianto memuji kinerja Kabinet Merah Putih yang telah bekerja selama enam bulan dan telah menghasilkan 28 kebijakan baru yang berkaitan langsung dengan rakyat. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.(ANTARA FOTO / GALIH PR
05:42
26 Januari 2026

Gibran dan Dinamika Awal Perebutan Cawapres Prabowo Tahun 2029

PERNYATAAN Ketua Harian Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali, bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berpotensi menjadi kompetitor kuat di Pemilihan Presiden 2029, patut dibaca lebih dari sekadar komentar personal.

Pernyataan itu adalah sinyal politik awal, sekaligus upaya membangun posisi tawar agar Gibran tetap berada di lingkar inti kekuasaan—terutama jika skema kembali berpasangan dengan Prabowo Subianto benar-benar menguat.

Dalam politik, pernyataan elite jarang berfungsi menutup peta. Justru sebaliknya, ia kerap dipakai untuk membuka gelanggang.

Pilihan kata “kompetitor” menunjukkan bahwa peta 2029 belum mengerucut pada satu figur dominan. Arena justru sedang melebar, dengan sejumlah nama mulai diposisikan sejajar dalam satu lintasan awal.

Dalam kerangka ini, Gibran diakui relevan, tetapi relevansi itu tidak berdiri sendiri. Ia hadir bersamaan dengan figur lain yang membawa modal politik berbeda-beda.

Artinya, Gibran bukan satu-satunya pusat gravitasi, melainkan salah satu poros awal dalam pembacaan peta kekuasaan 2029.

Sebagai wakil presiden aktif, Gibran memiliki visibilitas tinggi dan akses langsung ke pusat kekuasaan.

Namun, posisi strategis tidak selalu identik dengan posisi dominan. Dalam politik elektoral, kedekatan dengan kekuasaan kerap menjadi pedang bermata dua: memberi keuntungan, tetapi sekaligus menimbulkan beban.

Karena itu, posisi Gibran lebih tepat dipahami sebagai titik awal persaingan, bukan titik akhir penentuan.

Lorong sempit kekuasaan

Jika dinamika 2029 dipersempit ke satu simpul krusial, maka posisi calon wakil presiden Prabowo adalah titik temu berbagai kepentingan elite.

Jabatan ini bukan sekadar posisi pendamping, melainkan ruang konsolidasi lintas partai, lintas generasi, dan lintas kepentingan.

Teori sirkulasi elite Vilfredo Pareto membantu menjelaskan mengapa kursi ini menjadi sangat diperebutkan.

Kekuasaan memang berputar, tetapi akses menuju pusatnya selalu menyempit di titik tertentu. Dalam konteks hari ini, kursi cawapres Prabowo adalah lorong sempit itu.

Analogi sederhananya seperti jalan tol dengan satu jalur khusus menuju pusat kota. Semua kendaraan bisa melaju, tetapi hanya yang masuk jalur itu yang tiba paling cepat dan paling terlihat.

Kursi cawapres Prabowo adalah jalur khusus tersebut, sehingga wajar jika banyak figur berebut masuk, meski harus saling serobot.

Dalam situasi ini, Gibran memiliki keuntungan berupa kontinuitas dan visibilitas. Namun, keuntungan itu tidak eksklusif. Kandidat lain menawarkan nilai tambah berbeda yang, dalam logika koalisi, bisa sama atau bahkan lebih dibutuhkan.

Agus Harimurti Yudhoyono membawa keunggulan institusional sebagai ketua umum partai. Dalam politik koalisi, kepastian sering kali lebih bernilai daripada popularitas personal.

AHY juga relatif dapat diterima oleh spektrum kekuatan di faksi Gerindra, menjadikannya opsi yang secara politik “aman” bagi koalisi besar—sebagaimana Gibran.

Muhaimin Iskandar memiliki keunggulan berbeda: basis sosial dan kemampuan bertahan dalam berbagai konfigurasi kekuasaan.

Cak Imin jarang tampil dominan di permukaan, tetapi kerap menentukan arah kompromi. Dalam banyak kasus, figur seperti ini bukan yang paling terlihat, tetapi justru yang paling menentukan keseimbangan.

Sementara Puan Maharani membawa bobot simbolik dan struktural. Kehadirannya selalu terkait dengan arah politik Megawati Soekarnoputri dan posisi PDIP pasca-2024.

Jika Puan masuk dalam kalkulasi cawapres, maka yang dinegosiasikan bukan hanya figur, melainkan posisi politik partai terbesar.

Selain Puan, potensi figur PDIP lain seperti Pramono Anung juga tidak bisa diabaikan. Figur semacam ini berpeluang diterima lintas partai dan dapat menjadi alternatif kompromi jika konfigurasi politik menghendaki jalan tengah.

Dalam konfigurasi seperti ini, bukan tidak mungkin Gibran, AHY, maupun Cak Imin justru “gigit jari” jika Presiden Prabowo menilai tidak tercapainya titik temu antarpartai koalisi.

Terlebih dengan ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) nol persen, ruang manuver negosiasi justru bisa semakin rumit, bukan semakin sederhana.

Opsi jalan tengah Prabowo

Dalam kondisi buntu, Presiden Prabowo berpotensi mengambil opsi lain dengan memilih figur terdekat atau teknokrat yang dipercaya.

Dalam konteks ini, nama Letkol Teddy Indra Wijaya dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kerap disebut.

Namun, opsi ini pun bukan tanpa tantangan. Teddy, misalnya, tetap harus bersaing dengan kader internal Gerindra.

Keuntungannya adalah ruang komunikasi lintas partai dan kementerian melalui posisinya sebagai Sekretaris Kabinet.

Tantangan terbesarnya adalah membuktikan bahwa ia dapat mengisi posisi elektoral yang kuat, bukan sekadar figur administratif.

Sementara Purbaya membuka kemungkinan kembalinya skema teknokrat ala duet Susilo Bambang Yudhoyono–Boediono. Namun, skema ini mensyaratkan satu hal utama: kinerja ekonomi yang solid dan dapat dikapitalisasi secara politik.

Di titik ini, analisis perlu ditarik ke fakta historis yang kerap diabaikan: belum ada preseden di Indonesia di mana mantan wakil presiden memenangkan Pilpres dengan cara berhadapan langsung dengan presidennya sendiri.

Pada Pilpres 2009, Jusuf Kalla maju melawan Susilo Bambang Yudhoyono, dan presiden petahana menang.

Pada Pilpres 2004, Hamzah Haz berhadapan dengan Megawati Soekarnoputri, tetapi yang justru menang adalah SBY—figur yang mengambil jarak dari kekuasaan.

Pola ini menunjukkan bahwa wakil presiden kerap dipersepsikan sebagai bagian dari status quo.

Dalam kontestasi langsung melawan presiden, persepsi ini menjadi beban elektoral. Analogi sederhananya, wakil presiden ibarat penumpang kursi depan dalam mobil kekuasaan: dekat dengan kemudi, tetapi tetap tidak dianggap sebagai pengemudi utama.

Bagi Gibran, preseden ini adalah variabel rasional. Jika Prabowo kembali maju pada 2029, maka opsi Gibran sebagai penantang langsung akan menghadapi hambatan historis dan psikologis pemilih.

Dalam kerangka ini, posisi sebagai cawapres Prabowo justru terlihat lebih realistis secara struktural.

Preseden yang sama juga membuka dilema bagi AHY: meniru keberanian SBY 2004 dengan risiko besar, atau memilih jalur aman sebagai bagian dari kekuasaan dengan konsekuensi keterikatan politik jangka panjang.

Pernyataan Ahmad Ali menegaskan satu hal: Pilpres 2029 memang belum dimulai secara formal, tetapi secara politik sudah bergerak.

Gibran berada di tengah pusaran perebutan kursi cawapres Prabowo—posisi yang semakin padat, sempit, dan sarat negosiasi.

Namun, Gibran bukan satu-satunya variabel. Kandidat lain membawa keunggulan relatif yang, dalam konfigurasi tertentu, bisa lebih menentukan.

Pada akhirnya, pertarungan 2029 tidak ditentukan oleh siapa yang paling dekat dengan kekuasaan hari ini, melainkan oleh siapa yang paling realistis membaca struktur, preseden sejarah, dan momentum.

Dalam politik Indonesia, sering kali yang menang bukan yang paling cepat berlari, tetapi yang paling tepat memilih lorong.

Tag:  #gibran #dinamika #awal #perebutan #cawapres #prabowo #tahun #2029

KOMENTAR