Dubes Iran Paparkan Empat Tahap Kerusuhan di Iran, Singgung Campur Tangan Asing
Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi. (Rian Alfianto/JawaPos.com)
18:56
22 Januari 2026

Dubes Iran Paparkan Empat Tahap Kerusuhan di Iran, Singgung Campur Tangan Asing

 

- Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, memaparkan kronologi lengkap situasi keamanan terkini di Iran yang tengah dilanda gelombang protes besar. Penjelasan itu disampaikan Boroujerdi saat menerima awak media di kediamannya di Jakarta, Kamis (22/1).

Menurut Boroujerdi, perkembangan situasi di Iran sejak akhir Desember 2025 hingga Januari 2026 dapat diklasifikasikan ke dalam empat tahap utama, mulai dari aksi protes sipil damai hingga eskalasi kekerasan bersenjata yang disebutnya melibatkan campur tangan asing.

Tahap Pertama: Protes Damai Dipicu Faktor Ekonomi

Tahap awal berlangsung pada 28 hingga 31 Desember 2025. Boroujerdi menyebut aksi yang terjadi pada periode ini berupa unjuk rasa sipil yang relatif damai, dengan tuntutan utama berkaitan dengan persoalan ekonomi.

“Protes ini muncul dari ketidakpuasan sejumlah pelaku pasar dan kelompok profesi terhadap kondisi ekonomi,” kata Boroujerdi.

Ia menyatakan pemerintah Iran merespons dengan membuka dialog langsung bersama perwakilan asosiasi profesi dan pelaku ekonomi. Sejumlah tuntutan, lanjutnya, kemudian dimasukkan ke dalam agenda kebijakan pemerintah.

Hasilnya, gelombang awal unjuk rasa mereda dan bergeser ke fase dialog, serta perundingan yang lebih terstruktur.

Tahap Kedua: Aksi Memburuk, Kerusakan Meluas

Situasi berubah pada periode 1 hingga 7 Januari 2026. Menurut Boroujerdi, aksi protes mulai mengalami eskalasi dengan masuknya unsur-unsur baru yang memicu gangguan ketertiban umum dan perusakan properti.

Meski sebagian besar aksi masih tidak menggunakan senjata, tingkat kekerasan meningkat. Boroujerdi mengklaim aparat keamanan Iran tetap bersikap menahan diri guna mencegah eskalasi yang lebih luas.

“Secara operasional negara masih dalam kendali, tetapi fase ini menandai pergeseran dari protes damai menuju tindakan konfrontatif dan destruktif,” ujarnya.

Tahap Ketiga: Terorisme Bersenjata dan Tuduhan Campur Tangan Asing

Eskalasi paling serius, menurut Boroujerdi, terjadi pada 8 hingga 10 Januari 2026. Ia menyebut aksi protes dibajak oleh kelompok teroris bersenjata yang melakukan serangan brutal terhadap aparat keamanan dan warga sipil secara acak.

Boroujerdi menuding adanya pengarahan dan dukungan dari luar negeri. Ia mengklaim bukti penyadapan komunikasi menunjukkan operasi tersebut dikendalikan dari luar Iran, dengan keterlibatan Amerika Serikat dan Israel.

Sebagai contoh, Boroujerdi merujuk laporan media Israel mengenai keberadaan agen Mossad yang berbahasa Persia di Teheran, serta pernyataan mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam pidato Tahun Baru 2026 yang, menurutnya, secara terbuka menyapa “rakyat Iran di jalanan dan agen-agen Mossad di sisi mereka”.

Ia juga memaparkan hasil investigasi lapangan dan pengakuan terduga teroris yang ditangkap. Temuan tersebut, kata Boroujerdi, menunjukkan adanya kampanye kekerasan sistematis untuk memaksimalkan korban sipil dan merusak infrastruktur publik.

Di antaranya adalah penyerangan terhadap layanan darurat, dengan 180 ambulans dan 53 mobil pemadam kebakaran dilaporkan rusak dalam tiga hari. Selain itu, terjadi pembakaran masjid, bank, kantor pos, serta ratusan toko dan rumah warga di berbagai kota.

Boroujerdi juga menuding adanya pembayaran finansial untuk aksi-aksi kekerasan tertentu serta distribusi senjata secara terorganisasi. Aparat keamanan, katanya, menyita lebih dari 1.300 pucuk senjata dari kelompok bersenjata.

Salah satu insiden yang disorot adalah eksekusi terhadap 11 korban luka yang tengah dievakuasi ke rumah sakit. Menurut Boroujerdi, tindakan tersebut bertujuan meningkatkan jumlah korban guna memicu intervensi militer asing.

Pemerintah Iran, lanjut Boroujerdi, memandang kampanye kekerasan tersebut sebagai kelanjutan dari konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel pada Juni 2025, yang oleh Iran disebut sebagai 'perang dua belas hari'.

Ia menegaskan Iran akan menempuh jalur hukum nasional dan internasional untuk menuntut pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab, termasuk aktor asing yang diduga terlibat.

Tahap Keempat: Pemulihan Keamanan

Sejak 10 Januari 2026, Boroujerdi menyatakan situasi keamanan mulai terkendali. Operasi aparat keamanan berhasil menghentikan kekerasan bersenjata berskala luas dan menangkap sejumlah besar kelompok yang disebutnya teroris.

Namun demikian, ia mengklaim upaya destabilisasi belum sepenuhnya berhenti. Boroujerdi mencontohkan laporan mengenai lembaga anti-Iran, Foundation for Defense of Democracies (FDD), yang disebut telah menyerahkan strategi lanjutan kepada Pemerintah Amerika Serikat untuk mempertahankan tekanan terhadap Iran.

“Meski situasi di lapangan sudah lebih stabil, dukungan eksternal terhadap upaya destabilisasi masih terus berlangsung,” ujar Boroujerdi.

 

Editor: Kuswandi

Tag:  #dubes #iran #paparkan #empat #tahap #kerusuhan #iran #singgung #campur #tangan #asing

KOMENTAR