Kemlu Pastikan WNI di Iran Aman, Belum Perlu Evakuasi
- Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memastikan kondisi Warga Negara Indonesia (WNI) di Iran aman.
Hal ini disampaikan Kemlu usai demo besar sebagai gelombang protes anti-pemerintah meluas hingga ke 100 kota dan desa.
Berdasarkan komunikasi dengan para WNI di berbagai wilayah negara itu, tidak ditemukan adanya gangguan keamanan yang signifikan.
Diketahui, WNI di Iran sebagian besar berstatus sebagai pelajar/mahasiswa di berbagai lembaga pendidikan di Iran, khususnya di Kota Qom.
"Berdasarkan komunikasi KBRI Tehran dengan para WNI di berbagai wilayah di Iran, kota-kota simpul utama komunitas WNI seperti Qom dan Isfahan relatif tidak terdapat gangguan keamanan yang signifikan," tulis Kemlu dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (13/1/2026).
Kemlu pun menyatakan, belum diperlukan evakuasi terhadap WNI berdasarkan asesmen KBRI dengan memperhatikan kondisi di lapangan per Senin (12/1/2026).
"Per 12 Januari saat ini belum diperlukan evakuasi. Namun demikian persiapan mengantisipasi eskalasi situasi keamanan sesuai rencana kontingensi terus dilakukan," ucapnya.
Lebih lanjut, Kemlu melalui KBRI Tehran mengimbau seluruh WNI di Iran agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan, dan memantau perkembangan situasi melalui sumber informasi resmi.
Kemudian, hindari lokasi pusat-pusat demonstrasi dan kerumunan massa, serta menjaga komunikasi dengan KBRI Tehran.
Sementara itu, bagi WNI yang memiliki rencana perjalanan ke kota tersebut, Kemlu mengimbau WNI untuk menunda perjalanan hingga situasi dan kondisi keamanan dinyatakan kondusif.
"Dalam situasi darurat, WNI dapat segera menghubungi Hotline KBRI Tehran melalui nomor +98 9914668845 / +98 902 466 8889 atau Hotline Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri melalui nomor +62 812-9007-0027," jelasnya.
Demo di Iran
Sebelumnya diberitakan, Iran kembali diguncang gelombang demonstrasi besar yang menantang langsung kekuasaan pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei.
Aksi protes yang menyebar ke berbagai kota besar itu diwarnai teriakan penolakan terhadap rezim teokratis serta pembakaran sejumlah bangunan pemerintah.
Aksi ini bahkan meluas dan menjalar ke berbagai kota.
Meski tekanan domestik dan internasional meningkat, Khamenei menegaskan bahwa Republik Iran tidak akan mundur.
Dalam pidato pertamanya sejak demonstrasi meluas pada Sabtu (3/1/2026), Ayatollah Ali Khamenei menyampaikan sikap menantang.
Ia menuduh para demonstran sebagai “perusuh”, serta menuding mereka bertindak untuk menyenangkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Republik Islam datang ke tampuk kekuasaan dengan darah ratusan ribu orang terhormat, dan tidak akan mundur menghadapi para penyabot,” ujar Khamenei dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah.
Ia juga menyatakan bahwa tangan Presiden Trump “berlumuran darah lebih dari seribu warga Iran”, merujuk pada perang Israel melawan Iran pada Juni lalu yang didukung dan diikuti Amerika Serikat dengan serangan militernya sendiri.
Khamenei bahkan memprediksi Pemimpin AS itu akan “digulingkan” seperti dinasti kekaisaran Iran sebelum Revolusi 1979.
“Semalam di Teheran, sekelompok perusuh datang dan menghancurkan bangunan milik mereka sendiri demi menyenangkan presiden Amerika Serikat,” kata Khamenei di hadapan para pendukungnya, saat hadirin meneriakkan slogan “mati bagi Amerika”.