Simulator Penanganan Darurat Kapal Perang Koarmada I Telan Anggaran Rp 249 Miliar
- Gedung Damage Control Simulator (DCS) milik Komando Armada (Koarmada) I menelan anggaran senilai Rp 249 miliar lebih.
Hal itu terungkap saat Kepala Dinas Elektronika TNI AL (Kadissenlekal) Laksamana Pertama (Laksma) TNI Dwi Cahyo Kuncoro melaporkan laporan pengadaan kepada Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali.
“Pengadaan simulator ini dilaksanakan melalui skema pengadaan tahun jamak oleh PT Indo Artha Marine dengan anggaran Rp 249.905.609.000,” ungkap Cahyo, sebelum peresmian Gedung DCS oleh KSAL di Kolat Koarmada I, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (29/1/2026).
Kegiatan tersebut dimulai pada 6 Juli 2023 dan selesai pada 29 Agustus 2025, dengan total durasi 779 hari kalender.
Baca juga: Pendiri: PSI Dulu Dilabeli Partai Wangi, Hari Ini Kita Akhiri
Pada tahun jamak pertama, pengadaan difokuskan pada produksi peralatan simulator.
Tahun jamak kedua, yakni 2024, meliputi pembangunan sistem penanggulangan bahaya kebocoran serta instalasi material di gedung simulator.
Selanjutnya, pada tahun jamak ketiga atau 2025, dilaksanakan uji fungsi peralatan yang diikuti dengan tahap pengakhiran pengadaan seluruh sistem Damage Control Simulator Meteksan.
Peresmian
Setelah laporan tersebut, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali meresmikan Gedung DCS milik Komando Latihan (Kolat) Komando Armada (Koarmada) I.
Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita setelah Ali menyatakan secara resmi pengoperasian fasilitas tersebut.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini, Kamis, 29 Januari 2026, Gedung Damage Control Training Simulator Koarmada I saya resmikan,” kata Ali.
Gedung DCS merupakan sistem simulasi canggih yang dirancang untuk meningkatkan kesiapsiagaan prajurit dalam menangani keadaan darurat akibat kerusakan pada kapal perang maupun alat utama sistem persenjataan (alutsista) lainnya.
Ali menuturkan, TNI Angkatan Laut secara konsisten mengembangkan kemampuan sumber daya manusia melalui berbagai program pelatihan, salah satunya dengan memanfaatkan fasilitas simulasi seperti DCS.
Melalui pelatihan ini, prajurit diharapkan memahami tugas dan perannya secara menyeluruh serta mampu merespons berbagai situasi darurat di lapangan.
“Di antaranya latihan penyelamatan kapal, penanggulangan kebakaran dan kebocoran, maupun bahaya nuklir, biologi, dan kimia atau sering disebut Nubika, yang merupakan latihan kategori risiko tinggi,” ungkap dia.
Menurut Ali, risiko keadaan darurat di kapal perang semakin meningkat seiring bertambahnya usia alutsista, khususnya pada kapal perang Republik Indonesia (KRI).
Baca juga: Akhir Kasus Pedagang Es Gabus Difitnah Aparat, Polisi-TNI Minta Maaf dan Beri Bantuan
Risiko tersebut dapat bersumber dari penurunan kondisi peralatan maupun faktor alam, sehingga membutuhkan kesiapsiagaan dan kemampuan penanggulangan yang baik.
“Untuk itu, TNI Angkatan Laut membangun Damage Control Simulator di Koarmada I,” tegas dia.
Gedung DCS dirancang berdasarkan kebutuhan operasional dengan berbagai skenario kerusakan yang berpotensi terjadi di kapal.
Dengan begitu, personel dapat berlatih mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menangani kerusakan secara cepat dan tepat.
“Pembangunan fasilitas Damage Control Simulator merupakan bukti nyata dari komitmen kita untuk meningkatkan keselamatan dan keamanan material dan personel dalam rangka mewujudkan TNI Angkatan Laut yang lebih profesional, modern, dan tangguh,” ujar dia.
Ia juga meminta satuan kerja Kolat Koarmada I untuk memelihara serta memanfaatkan gedung DCS secara optimal.
Baca juga: LPSK Sebut Pedagang Es Gabus yang Dianiaya TNI-Polisi Berhak Dapat Perlindungan
Penyusunan program latihan, lanjut Ali, harus dilakukan dengan berkoordinasi bersama satuan terkait dan tetap mengutamakan faktor keamanan serta keselamatan.
Selain untuk Koarmada, fasilitas simulator ini juga dapat dimanfaatkan oleh satuan lain yang mengoperasikan kapal, seperti Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) dan Komando Doktrin, Pendidikan, dan Latihan TNI Angkatan Laut (Kodiklatal).
“Bahkan ini juga bisa dimanfaatkan untuk diplomasi atau menggalang unsur-unsur maritim lainnya untuk bisa berlatih di sini. Seperti Bakamla, KKP, kemudian Bea Cukai, Polair, silakan saja untuk membina hubungan yang baik antar satuan-satuan maritim,” tambah dia.
Tag: #simulator #penanganan #darurat #kapal #perang #koarmada #telan #anggaran #miliar