Loker-loker Seram Menghantui Gen Z: Jebakan Palugada sampai Red Flag Kekeluargaan
Sejumlah pencari kerja saat mendatangi satunpersatu stand booth di kegiatan Job Fair yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, di kantor Pemkab, Senin (22/12/2025).(KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah)
16:50
2 Januari 2026

Loker-loker Seram Menghantui Gen Z: Jebakan Palugada sampai Red Flag Kekeluargaan

- Bangun pagi, buka mata, cek notifikasi website lowongan kerja. Bukannya semangat, malah langsung bad mood.

Pernah enggak merasa kalau mencari kerja zaman sekarang itu penuh kejutan dan jebakan di mana-mana dan bikin ngelus dada? Apalagi  kalau lihat daftar kualifikasi yang eenggak ngotak.

Istilah "Loker Seram" belakangan ini sempat ramai seliweran di timeline media sosial kita. Bukan seram mistis, tapi seram karena realita pekerjaan bagi anak muda yang makin hari makin enggak masuk akal.

Mulai dari syarat fresh graduate tapi minimal pengalaman 2 tahun sampai satu posisi yang disuruh ngerjain tugas satu departemen alias "Palugada" (Apa Lu Mau Gue Ada), semuanya sering banget ditemuin.

Belum lagi kalau sudah diterima, ternyata masuk ke dalam jebakan status mitra dengan modal cuma kontrak profesional yang enggak ngasih kepastian.

Kerjanya diawasi ketat kayak karyawan tetap, tapi hak-haknya nihil kayak orang asing. Enggak ada asuransi ataupun BPJS, enggak ada tunjangan, enggak ada jaminan kesejahteraan.

Kompas.com mencoba ngobrol bareng dua Gen Z, Nabila (23) dan Arif (24) (bukan nama sebenarnya), yang lagi berjuang di tengah lika-liku pekerjaan ini. Cerita mereka adalah bukti kalau Gen Z bukan sekadar generasi manja, tapi generasi yang lagi bertahan hidup di survival mode.

Entry Level Rasa Manajer

Buat Nabila, lulus kuliah bukannya lega, malah jadi awal mimpi buruk. Sebagai lulusan baru alias fresh graduate di Jakarta, ia sudah kenyang ditolak puluhan perusahaan.

Masalahnya bukan karena dia enggak punya skill, tapi karena pintu susahnya cari pekerjaan. Kalau pun ada, syarat dan kualifikasinya sering enggak masuk akal.

Banyak perusahaan memasang judul lowongan "Entry Level" atau pemula, tapi isinya menuntut pengalaman dan kemampuan segudang.

"Parah banget, sih. Itu meme soal loker aneh-aneh kan sebenarnya bentuk frustrasi kita ya. Udah apply ke puluhan perusahaan bulan ini, dan polanya hampir sama semua. Entry Level, tapi pas dibaca syaratnya minimal pengalaman 2 tahun," curhat Nabila kepada Kompas.com, Jumat (3/1/2026).

Logika sederhana Nabila pun tak mampu memahami permintaan para perusahaan tersebut.

 "Lah, kita yang baru lulus disuruh cari pengalaman di mana kalau cari pekerjaan pertama aja susah banget?” katanya.

Jebakan Palugada: Satu Orang, Sepuluh Jobdesk

Puncak kekesalan Nabila terjadi baru-baru ini, ketia ia merasa ada secercah harapan saat akhirnya dipanggil ke tahap wawancara oleh sebuah agensi kreatif untuk posisi "Staff Multimedia".

Dalam bayangan Nabila, tugasnya bakal fokus ke skill utamanya, yaitu desain atau edit video tipis-tipis. Tapi realita di ruang interview berkata lain, karena ternyata perusahaan itu mencari sosok dewa serba bisa.

"Pas wawancara user, baru kebongkar tuh 'loker seram'-nya. Mereka minta bisa desain grafis, videografi, video editing, nulis naskah, copywriting, sampai megang admin media sosial buat posting dan balas-balasin komen netizen," ujarnya.

Bayangkan, tugas yang seharusnya dikerjakan oleh tim berisi Desainer, Video Editor, Copywriter, dan Social Media Specialist dalam satu tim, ditumpahkan ke pundak satu orang anak muda yang baru lulus kuliah.

"Itu kan harusnya dikerjain satu tim, minimal 3-4 orang lah. Ini dibebani ke satu orang. Istilahnya tuh udah bukan Palugada lagi malah, tapi perbudakan modern," tambahnya.

Red Flag Kekeluargaan

Meskipun kerjaannya banyak banget, tapi ternyata gaji yang ditawarkan ke Nabila dinilai enggak worth it sama sekali.

Saat Nabila memberanikan diri bertanya soal gaji, jawabannya bikin elus dada kesekian kalinya.

Dengan beban kerja setara satu departemen, perusahaan dengan santai menawarkan angka UMR Jakarta, sekitar Rp 5.400.000.

Alasannya klasik, selain angka standar upah dari pemerintah, perusahaan itu juga membahas soal budaya kerja yang fleksibel dan asas kekeluargaan di tempat kerja.

Buat Gen Z kayak Nabila, kata "kekeluargaan" di dunia kerja sekarang sudah jadi red flag alias tanda bahaya nomor satu.

Biasanya, itu kode halus buat pekerjanya rela kerja keras sampai lembur tanpa dibayar layal, karena kita keluarga.

"Mereka dengan santai bilang sesuai UMR. Kadang malah ada yang nambahin embel-embel 'tapi kita kerjanya flexible dan kekeluargaan'. Red flag dah itu mah pokoknya,” ucapnya.

Ia pun akhirnya menolak mentah-mentah tawaran pekerjaan tersebut dan lebih memilih untuk tetap menganggur sambil mencoba memulai usaha freelance sebagai desainer grafis.

"Gila aja, akhirnya mundur, mending nganggur dulu daripada mental hancur di bulan pertama, sambil coba-coba freelance juga," kata dia.

Horornya Status Mitra: Karyawan Rasa Freelance

Kalau Nabila berjuang mencari pintu masuk ke dunia kerja, Arif (24) mewakili Gen Z yang sudah berhasil dapat pekerjaan, tapi tetap gagal mendapat kesejahteraan.

Arif bekerja sebagai pekerja lapangan di industri konten dan riset. Sekilas, pekerjaannya terlihat keren dengan mobilitas tinggi dan ngerjain banyak hal-hal penting.

Tapi status kepegawaiannya di atas kertas cuma tertulis tertulis "Mitra Kontrak Profesional", sebuah status yang menjadi celah bagi perusahaan untuk lepas tangan dari kewajiban Undang-Undang Ketenagakerjaan.

"Iya, status gue tuh kalau di kontrak tertulisnya 'Mitra Profesional'. Statusnya cuma kontrak profesional aja. Kayak Freelance Contributor jadinya. Padahal jam kerja dan beban kerjanya udah kayak karyawan tetap," ungkap Arif.

Akibat status mita ini, Arif kehilangan hak-hak dasar yang seharusnya ia dapatkan sebagai seorang pekerja.

"Ini tuh jatuhnya kayak akal-akalan perusahaan aja biar enggak banyak pengeluaran. Karena statusnya 'mitra', jadi enggak dapet hak-hak karyawan. Enggak ada cuti berbayar, tunjangan, dan ya kontraknya bisa diputus kapan aja," keluhnya.

Hidup Arif pun jadi penuh rasa was-was karena tidak punya jaminan keamanan kerja. 

Kerja kerasnya setiap hari seperti enggak dihargai oleh perusahaan dan membuat dia tetap dihantui kesejahteraan yang entah kapan bisa datang.

"Gue kayak digantung tanpa kepastian, mau kerja keras tapi kayak enggak dihargai. Jadinya kadang seadanya aja deh,” ucapnya.

Gaji Boncos Dimakan Bensin

Di atas kertas, gaji Arif menyentuh angka UMR Jakarta, sehingga kelihatannya cukup buat anak muda yang masih single. Tapi mari kita bedah pengeluarannya.

Pekerjaan Arif menuntut ia keliling berbagai tempat di Jakarta. Enggak jarang dia harus berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain setiap harinya untuk mengejar data atau narasumber.

Masalahnya, kantor tidak memberikan uang transportasi ataupun sistem reimburse. Semua biaya operasional itu harus ditalangi dari kantong pribadi Arif.

"Yang bikin boncos sih di atas kertas, gajinya emang UMR. Tapi karena kerjaan gue ini nuntut mobilitas tinggi banget, biaya operasional jadi bengkak," jelas Arif.

Bensin yang harganya naik turun, biaya parkir liar yang kalau dikumpulin sebulan bisa buat beli skincare, makan di jalan karena enggak sempat masak, sampai biaya servis motor yang cepat rusak karena diforsir habis-habisan di jalanan.

"Kantor enggak nyediain uang transport atau reimburse bensin. Jadi gaji UMR itu kepotong bensin, parkir, makan di jalan, sama servis motor. Ujung-ujungnya, net income ya jauh di bawah UMR juga," kata dia.

Bagian paling menyeramkan, Arif bekerja di lapangan dengan risiko kecelakaan lalu lintas yang tinggi. Tapi karena statusnya cuma "mitra", kantor tidak mendaftarkannya ke BPJS Kesehatan maupun Ketenagakerjaan.

Arif bekerja tanpa jaring pengaman yang membuatnya rentan terhadap ancaman keselamatan saat mencari nafkah.

"BPJS juga enggak ada, asuransi kesehatan ataupun ketenagakerjaan sih enggak ada,” ujarnya.

“Ironis aja kadang, kita dedikasi waktu, kejar target, habisin tenaga tapi enggak diperhatiin perusahaan kan jadinya kalau begitu,” sambungnya.

Terjepit Beban "Sandwich Generation"

Kenapa Arif enggak resign aja? Kenapa enggak cari lowongan pekerjaan lain kayak Nabila?

Jawabannya simpel tapi menyakitkan. Sebagai seorang sandwich generation, Arif yang masih muda kini juga berstatus sebagai  tulang punggung keluarga yang ekonominya terhimpit.

Di satu sisi harus membiayai hidupnya sendiri, di sisi lain harus menanggung orang tua yang sudah tidak bekerja dan adik yang masih berkuliah.

"Ini yang bikin sering nangis bahkan kadang. Bapak udah enggak bisa kerja, adik masih kuliah,” kata dia.

Bagi Arif, resign adalah kemewahan yang enggak bisa ia beli. Tagihan bulanan di rumahnya dan UKT kuliah adiknya jadi hal menyeramkan yang selalu terbayang.

“Kalau orang-orang yang bisa resign terus nganggur tanpa pendapatan, itu udah privilege sih. Gue enggak bisa, walau tiap hari badan rasanya udah remuk. Cuma bisa berdoa biar enggak sakit aja," kata dia.

Nabila dan Arif pun sepakat, kalau stigma Gen Z itu "lembek" atau "kutu loncat" itu enggak sepenuhnya benar.

Arif menyebut kalau pasti banyak anak-anak muda lain yang bernasib enggak jauh berbeda dengan dirinya.

Anak-anak muda yang sedang berjuang mati-matian di sistem kerja yang seringkali eksploitatif dan tidak pernah menjanjikan kesejahteraan sedikitpun.

Mereka mau bekerja keras, mereka mau belajar. Tapi mereka juga manusia yang butuh dihargai dengan layak, butuh kepastian, dan butuh jaminan agar mereka bisa membangun kehidupan yang sejahtera.

Tag:  #loker #loker #seram #menghantui #jebakan #palugada #sampai #flag #kekeluargaan

KOMENTAR