Kaleidoskop 2025: MBG Diklaim Sembuhkan Warga dari Judol hingga Ribuan Anak-anak Keracunan
- Tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto diwarnai dengan pelaksanaan berbagai program kerakyatan berskala nasional. Salah satu program unggulan yang terus diintensifkan realisasinya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program MBG resmi dimulai pada 6 Januari 2025. Program prioritas Presiden Prabowo itu telah menjangkau sekitar 44 juta penerima manfaat di berbagai daerah hingga November 2025.
Pemerintah mencatat, jumlah makanan yang telah dibagikan sejak awal pelaksanaan program mencapai sekitar 2 miliar porsi.
Seluruh makanan tersebut diproduksi dan didistribusikan melalui lebih dari 14.000 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Keberadaan SPPG menjadi tulang punggung distribusi sekaligus pengawasan kualitas gizi dalam pelaksanaan program MBG.
Pemerintah menargetkan cakupan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis akan terus diperluas hingga mencapai 82,9 juta orang pada Desember 2025. Target ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini serta memperkuat ketahanan gizi nasional.
Presiden Prabowo Subianto mengakui pelaksanaan program MBG belum dapat menjangkau seluruh rakyat Indonesia dalam waktu singkat. Menurutnya, secara fisik dan logistik, distribusi program tersebut memang menghadapi tantangan besar.
“Makan bergizi ini secara fisik tidak mudah untuk segera ke seluruh rakyat,” kata Presiden Prabowo usai meresmikan proyek ketenagalistrikan di 18 provinsi di Kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, Senin (20/12).
Meski demikian, Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperluas jangkauan program tersebut. Ia bahkan secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang hingga kini belum merasakan manfaat program MBG.
“Untuk itu, saya Prabowo Subianto Presiden Republik Indonesia, saya minta maaf kepada semua orang tua, kepada semua anak-anak yang belum menerima. Tapi saya yakini bahwa tahun 2025, akhir 2025 semua anak Indonesia akan dapat makan bergizi,” ucap Prabowo.
Peristiwa keracunan MBG capai 6.517 orang
Meski menjadi salah satu program unggulan pemerintah, pelaksanaan program MBG tidak sepenuhnya berjalan mulus. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mengungkapkan, sejak program tersebut diluncurkan pada Januari 2025, tercatat sebanyak 6.517 orang mengalami gangguan kesehatan berupa keracunan makanan.
Kasus keracunan paling banyak terjadi di Pulau Jawa. Dari total laporan yang masuk, Pulau Jawa mencatat jumlah kasus tertinggi dibandingkan wilayah lain di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Dadan saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (1/10). Dalam kesempatan itu, ia memaparkan hasil pemantauan dan evaluasi pelaksanaan MBG di berbagai daerah.
Dadan menjelaskan bahwa BGN membagi wilayah pemantauan MBG ke dalam tiga zona, yakni Wilayah I meliputi Pulau Sumatera, Wilayah II Pulau Jawa, dan Wilayah III mencakup Indonesia bagian timur.
“Sebaran kasus terjadinya gangguan pencernaan atau kasus di SPPG terlihat dari 6 Januari sampai 31 Juli itu tercatat ada kurang lebih 24 kasus kejadian. Sementara dari 1 Agustus sampai malam tadi itu ada 51 kasus kejadian,” ucap Dadan.
Ia merinci, berdasarkan sebaran wilayah, jumlah penerima MBG yang mengalami gangguan pencernaan di Wilayah I mencapai 1.307 orang. Sementara di Wilayah II jumlahnya mencapai 4.147 orang dan bertambah sekitar 60 orang dari kejadian di Garut. Adapun di Wilayah III tercatat sebanyak 1.003 orang.
“Kalau dilihat dari sebaran kasus, maka kita lihat bahwa di wilayah I itu tercatat ada yang mengalami gangguan pencernaan sejumlah 1.307, wilayah II ini sudah bertambah tidak lagi 4.147 ditambah dengan yang di Garut mungkin 60 orang, wilayah III ada 1.003 orang,” ujarnya.
Dadan mengakui, peningkatan kasus keracunan MBG terjadi dalam dua bulan terakhir. Ia menilai, salah satu penyebab utama adalah adanya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak menjalankan standar operasional prosedur (SOP) secara ketat.
“Kita bisa lihat bahwa kasus kejadian banyak terjadi di dua bulan terakhir dan ini berkaitan dengan berbagai hal dan kita bisa identifikasi bahwa kejadian itu rata-rata karena SOP yang ditetapkan tidak dipatuhi dengan saksama,” imbuhnya.
Pemerintah tutup SPPG bermasalah yang sebabkan keracunan
Merebaknya kasus keracunan yang diduga berkaitan dengan program MBG mendorong pemerintah melakukan langkah evaluasi menyeluruh. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyatakan pemerintah menutup sementara sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pengelola dapur MBG yang dinilai bermasalah.
Langkah penutupan sementara tersebut dilakukan menyusul terjadinya kasus keracunan di beberapa daerah. Pemerintah tidak ingin mengambil risiko yang dapat membahayakan keselamatan penerima manfaat program.
“SPPG yang bermasalah ditutup untuk sementara dilakukan evaluasi dan investigasi,” ujar Zulkifli Hasan di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Minggu (28/9).
Zulhas menjelaskan, evaluasi akan difokuskan pada sejumlah aspek penting, mulai dari kedisiplinan pelaksana, kualitas bahan makanan, hingga kemampuan dan standar kerja para juru masak di dapur MBG.
Menurutnya, peninjauan tidak hanya dilakukan di lokasi yang tercatat mengalami kasus keracunan, tetapi akan diterapkan secara menyeluruh terhadap seluruh SPPG yang beroperasi di Indonesia.
Selain itu, setiap SPPG diwajibkan melakukan sterilisasi peralatan makan serta memperbaiki proses sanitasi dapur. Perhatian khusus juga diberikan pada kualitas air dan sistem pengelolaan limbah agar memenuhi standar kesehatan.
“Semua dievaluasi dan diinvestigasi,” tegas Zulhas.
MBG diklaim tingkatkan perekonomian rakyat
Program MBG diklaim tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan efek ekonomi yang signifikan bagi keluarga petani dan pelaku usaha kecil di berbagai desa di Indonesia. Program ini disebut mampu meningkatkan pendapatan sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi warga sekitar.
Aktivitas dapur MBG mendorong keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemasok bahan pangan hingga tenaga pengolah makanan. Kondisi ini membuat sejumlah warga yang sebelumnya menganggur kini memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan yang lebih stabil.
Bahkan, kesibukan bekerja di dapur MBG dinilai membawa dampak sosial positif. Sejumlah warga yang sebelumnya terjerat kebiasaan bermain judi online (judol) kini perlahan meninggalkan aktivitas tersebut karena waktunya tersita untuk bekerja, baik sebagai pemasok bahan pangan maupun pekerja dapur MBG.
Dampak positif itu dirasakan langsung oleh Sumarti, seorang nenek perajin tahu dari Desa Sidorejo, Kecamatan Kebon Sari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Sebelum terlibat dalam program MBG, Sumarti hanya mampu menjual maksimal dua ember tahu di pasar desa.
“Dulu tidak mesti. Kalau pasar sedang ramai, bisa habis semua, tapi kalau sedang sepi, seember pun kadang tak habis,” ujar Sumarti mengenang kondisi usahanya sebelum menjadi pemasok tahu.
Namun, sejak memasok tahu ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di desanya, usaha Sumarti mengalami perkembangan pesat. Dengan dibantu menantunya, Dwiyono alias Geye, kapasitas produksi tahu meningkat signifikan.
Jika sebelumnya Sumarti hanya mampu mengolah sekitar 50 kilogram kedelai per hari, kini produksinya melonjak hingga dua kuintal kedelai setiap hari. “Alhamdulillah penghasilan meningkat, karyawan juga nambah,” tuturnya.
Bagi Sumarti, kebahagiaan tak hanya datang dari meningkatnya pendapatan. Ia mengaku bersyukur karena menantunya yang sebelumnya kecanduan judi online kini benar-benar berhenti akibat kesibukan memproduksi tahu untuk dapur MBG.
“Sekarang benar-benar insyaf karena enggak punya waktu lagi untuk judi online,” tambahnya.
Sumarti juga mengungkapkan bahwa penghasilannya sebagai pemasok tahu untuk program MBG meningkat drastis, bahkan mencapai sekitar 400 persen. Sistem pembayaran tunai setiap hari turut membantu kelancaran usaha kecil yang dijalaninya.
“Alhamdulillah berkah program MBG, saya bisa beli mesin pompa sibel untuk pengairan sawah, bisa beli mobil untuk alat transportasi ke dapur MBG,” pungkas Sumarti.
Tag: #kaleidoskop #2025 #mbgdiklaim #sembuhkan #warga #dari #judol #hinggaribuan #anak #anak #keracunan