Menteri P2MI: Pekerja Migran Terampil Jarang Mengalami Masalah Serius
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Mukhtarudin (kiri) di Kantor Kemendikti Saintek, Jakarta Pusat, Selasa (24/12/2025).(KOMPAS.com/FIRDA JANATI)
21:34
24 Desember 2025

Menteri P2MI: Pekerja Migran Terampil Jarang Mengalami Masalah Serius

- Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Mukhtarudin memastikan pihaknya akan mendorong kesiapan pekerja migran untuk meminimalisir masalah serius yang kerap terjadi.

"Pekerja terampil jarang mengalami masalah serius, berbeda dengan yang berangkat tanpa persiapan memadai, bahkan oleh pihak tidak bertanggung jawab," kata Menteri Mukhtarudin, Rabu (24/12/2025).

Dia berbicara dalam acara penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Brian Yuliarto di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta.

“Ini adalah langkah strategis untuk menggeser paradigma penempatan pekerja migran Indonesia dari low-skill ke middle dan high-skill, dengan fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang bermartabat dan berkelanjutan,” kata Mukhtarudin.

Mukhtarudin menyampaikan bahwa MoU ini dilakukan untuk mengelola ekosistem perlindungan Pekerja Migran secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

"Ini sebagai bentuk keseriusan dalam rangka mengurus semua ekosistem pelindungan pekerja migran yang terintegrasi dari hulu sampai hilir," ujar Mukhtarudin.

Mukhtarudin menekankan transformasi kelembagaan Kementerian P2MI dari badan menjadi kementerian penuh sebagai wujud nyata komitmen negara.

"Dulu badan, sekarang kementerian. Jadi, pelindungan itu paling awal tentu harus dimulai dari proses penyiapan SDM masyarakat kita," beber Menteri Mukhtarudin.

Menurut Mukhtarudin, pelindungan paling awal dimulai dari proses penyiapan sumber daya manusia (SDM).

Perlindungan itu dimulai sejak menyiapkan calon PMI secara matang, termasuk kompetensi, bahasa, dan keterampilan kerja.

Mukhtarudin juga menyoroti fakta lapangan bahwa pekerja migran terampil jarang mengalami masalah serius, berbeda dengan yang berangkat tanpa persiapan memadai.

Target 500.000 pekerja migran terampil

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi Brian Yuliarto menekankan bahwa Pekerja Migran bukan sekadar tenaga kerja, melainkan duta bangsa yang mencerminkan kualitas kompetensi, profesionalisme, dan daya saing SDM Indonesia di panggung global.

“Negara maju seperti China dan India memiliki diaspora SDM unggul tersebar di banyak negara,” ujar Brian.

Brian mengatakan, MoU ini akan memetakan negara tujuan dan keahlian yang dibutuhkan, membuat program khusus di tahun terakhir studi (tahun 3 atau 4) untuk melatih calon Pekerja Migran secara intensif.

“Pelatihan termasuk bahasa (Mandarin untuk Taiwan, China, Jepang untuk Jepang, Inggris) serta sertifikasi sesuai standar negara tujuan,” jelasnya.

Selain itu, peran antar perguruan tinggi vokasi akan dibagi secara terfokus, misalnya pada sektor tertentu untuk negara seperti Taiwan atau Jepang.

“Pemerintah ingin menggeser paradigma penempatan pekerja Migran dari low-skill ke middle atau high-skill, dengan target besar seperti 500.000 Pekerja Migran terampil di masa mendatang," tutup Brian Yuliarto.

Tag:  #menteri #p2mi #pekerja #migran #terampil #jarang #mengalami #masalah #serius

KOMENTAR